Resto di Medan Pakai CNG, 20 Persen Lebih Ngirit dari LPG
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas meninjau daour Rumah Makan Kebuli Saudi yang menggunakan pasokan gas CNG dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Medan, Sumatra Utara, Jumat (13/2/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni’am)
09:32
14 Februari 2026

Resto di Medan Pakai CNG, 20 Persen Lebih Ngirit dari LPG

- Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kebuli Saudi bisa menghemat biaya gas hingga Rp 6,2 juta per bulan karena menggunakan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG).

Pemilik Kebuli Saudi, Deril menghitung pihaknya harus merogoh uang Rp 32,5 juta per bulan jika menggunakan Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Namun, karena menggunakan CNG, dapur Kebuli Saudi hanya perlu merogoh Rp 26 juta per bulan.

Informasi itu Derli sampaikan saat didatangi Kepala Badan Pengatur Minyak dan Gas (BPH Migas) Wahyudi Anas, Jumat (13/2/2026).

“Rp 26 juta itu (biaya konsumsi gas) satu bulan,” kata Derli saat diremui di restorannya, Kota Medan.

Baca juga: Pendapatan CGAS Naik 14 Persen, Didorong Peningkatan Penjualan CNG

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menyediakan gas bumi di IKN dengan moda beyond pipeline berupa Compressed Natural Gas (CNG).Dok. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menyediakan gas bumi di IKN dengan moda beyond pipeline berupa Compressed Natural Gas (CNG).Ia menyebut, rumah makan Kebuli Saudi di Medan ini merupakan cabang yang ketiga.

Dua restoran Kebuli Saudi lainnya sudah lebih dulu beroperasi di Batam, Kepulauan Riau dan langsung menggunakan CNG.

Adapun CNG merupakan gas alam yang dikompresi di bawah tekanan tinggi. Sementara, LPG merupakan gas minyak bumi cair yang dicairkan dengan tekanan.

Berbeda dengan LPG yang 80 persen impor, CNG menggunakan gas alam dari sumur migas dalam negeri.

Karena biaya konsumsi gas yang lebih murah, Derli berani menjual nasi kebuli lebih murah dibanding kompetitor.

“Kalau selisih bisa di Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per porsi,” ujar Derli.

Adapun Kebuli Saudi masuk kategori usaha menengah. Omzetnya mencapai Rp 2,1 miliar per bulan dengan pendapatan bersih 20 persen atau sekitar Rp 400 juta.

Pantauan Kompas.com di lokasi, Rumah Makan Kebuli Saudi di Medan tampak ramai meski bukan akhir pekan dan baru buka satu bulan terakhir.

Dapur Derli juga tampak sibuk dan sebagaimana pengakuannya tidak ada masalah penggunaan gas CNG dari PGN.

Jika habis, petugas PGN langsung datang mengisi ulang atau menukar tabung gas meski dilakukan di malam hari.

“Kami sudah pakai (CNG daei PGN) di tiga cabang dan semuanya tidak ada masalah. Sangat tidak masalah. Jadi untuk UMKM atau resto-resto besar saya harap sih bisa membantu juga negara juga gitu,” ucap Derli.

Baca juga: CGAS Resmikan CNG Station di Grobogan, Dorong Transisi Energi

Pakai CNG, Tekan Impor LPG

Kepala Badan BPH Migas, Wahyudi Anas (tengah) dan pemilik Restoran Kabuli Saudi saat meninjau instalasi CNG dari PT Perusahaan Gas Negara atau PT PGN Tbk di rumah makan tersebut di Medan, Sumatra Utara, Jumat (13/2/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni’am Kepala Badan BPH Migas, Wahyudi Anas (tengah) dan pemilik Restoran Kabuli Saudi saat meninjau instalasi CNG dari PT Perusahaan Gas Negara atau PT PGN Tbk di rumah makan tersebut di Medan, Sumatra Utara, Jumat (13/2/2026).Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas mengatakan, Kebuli Saudi menggunakan CNG dadi Perusahaan Gas Negara atau PGN Tbk, subholding gas dari PT Pertamina (Persero).

Adapun PGN bergerak di bidang distribusi gas melalui jaringan pipa Arun-Belawan dari Aceh ke Medan sepanjang 350 kilometer.

Perusahaan ini memasok kebutuhan gas industri dan rumah tangga melalui jaringan pipa.

Namun tidak hanya menggunakan pipa, PGN juga melayani pasokan gas menggunakan CNG dengan cara mengkompresi gas pada tabung dengan tekanan tinggi.

“Rumah Makan Kebuli Saudi ini dengan memanfaatkan bahan bakarnya dengan gas CNG yang diambil dari PGN Group,” kata Wahyudi.

Baca juga: Akses Putus, BBM Aceh Tetap Mengalir Lewat Skema Estafet BPH Migas-Pertamina

Ia menyebut, harga CNG maupun gas dari jaringan pipa PGN memang lebih murah ketimbang LPG.

Hal itu membuat biaya operasional dapur Kebuli Saudi untuk gas lebih hemat sampai 20 sampai 25 persen.

“Tadi kita diskusi non-formal bahwasanya kalau kaitannya dengan penggunaan CNG dengan LPG non-subsidi, ini konsumennya mendapatkan saving kurang lebih 25 persen,” turur Wahyudi.

Selain biaya yang lebih miring, penggunaan CNG juga membantu negara mengurangi ketergantingan pada impor LPG.

Konsumsi LPG Indonesia memang tinggi. Pada 2025, realisasi penyaluran LPG subsidi saja mencapai 8.51.243 metrik ton dan diproyeksikan naik 3,2 persen pada 2026.

Dari total kebutuhan konsumsi LPG sebanyak 70 persen di antaranya mengandalkan impor. Artinya, Indonesia masih ketergantungan impor LPG dari negara lain.

Kehadiran jaringan gas PGN diharapkan menjadi alternatif guna mengurangi ketergantungan tersebut.

“Apabila menggunakan CNG, mengurangi beban impor bahan baku LPG dan menurunkan devisa negara. Ini apresiasi kepada owner-nya Rumah Makan Kebuli Saudi,” tuturnya.

Pada 2025, PGN tercatat telah melayani 813.000 rumah tangga, power plant, teemasuk PLN Group serta 5.800 pelanggan komersial, industri, dan pelanggan kecil.

Di Sumatera Utara saja, rumah tangga yang menjadi pelanggan jaringan gas PGN sudah tembus 100.000 pengguna.

“Terdapat 133.076 pelanggan rumah tangga di Regional 1 Sumatra Utara,” turur Wahyudi.

Tag:  #resto #medan #pakai #persen #lebih #ngirit #dari

KOMENTAR