Harga Perak Naik 9,9 Persen ke 77,97 Dollar AS Usai Anjlok Tajam
Ilustrasi perak batangan. Harga perak kembali mengalami pergerakan ekstrem pada perdagangan Jumat (6/2/2026) waktu setempat, atau Sabtu (7/2/2026) pagi.(Unsplash/scottsdalemint)
11:12
7 Februari 2026

Harga Perak Naik 9,9 Persen ke 77,97 Dollar AS Usai Anjlok Tajam

– Harga perak kembali mengalami pergerakan ekstrem pada perdagangan Jumat (6/2/2026) waktu setempat, atau Sabtu (7/2/2026) pagi. Di tengah pasar yang masih mencari titik keseimbangan, logam ini bergerak cepat dari zona penurunan menuju penguatan.

Mengutip Bloomberg, harga perak di pasar spot sempat merosot hampir 10 persen hingga mendekati 64 dollar AS per ons. Namun, menjelang penutupan perdagangan, harga perak berbalik naik 9,9 persen ke level 77,97 dollar AS per ons.

Pergerakan tajam ini terjadi sehari setelah harga perak anjlok 20 persen dalam satu sesi. Penurunan tersebut menghapus seluruh kenaikan yang terbentuk selama reli spektakuler bulan lalu.

Baca juga: Harga Perak Anjlok Tajam, Turun 35 Persen dari Rekor Tertinggi

Pada saat yang sama, harga emas turut menguat setelah sebelumnya terkoreksi. Harga emas di pasar spot naik 3,8 persen menjadi 4.960,58 dollar AS per ons.

Di sisi lain, platinum dan paladium juga mencatat kenaikan tipis. Sementara itu, Indeks Bloomberg Dollar Spot melemah 0,4 persen setelah sempat menguat selama dua hari berturut-turut.

Volatilitas Tertinggi dalam Beberapa Dekade

Secara historis, harga perak memang dikenal lebih fluktuatif dibandingkan emas. Ukuran pasar yang lebih kecil serta likuiditas yang lebih rendah membuat pergerakannya cenderung lebih tajam.

Namun, gejolak terbaru ini menjadi sorotan karena disebut sebagai yang paling volatil sejak 1980. Skala dan kecepatannya dinilai tidak biasa, diperkuat oleh momentum spekulatif dan menipisnya transaksi over-the-counter.

Sejak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada 29 Januari, harga perak telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya.

Baca juga: Mengapa Harga Emas dan Perak Tiba-Tiba Anjlok?

“Kenaikan volatilitas membuat pelaku pasar memperlebar spread dan mengurangi penggunaan neraca, sehingga likuiditas justru paling lemah saat paling dibutuhkan,” ujar Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank AS, Ole Hansen, dalam catatannya.

Ia menambahkan, hingga kondisi pasar kembali lebih tertib, risiko volatilitas berpotensi terus berulang dan memperbesar gejolak harga.

Reli Logam Mulia Terhenti Mendadak

Sebelumnya, reli logam mulia yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir sempat menguat signifikan bulan lalu.

Kenaikan harga emas dan perak didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve, serta aksi beli spekulatif dari China.

Sepanjang Januari, investor membangun posisi besar di logam mulia melalui produk exchange-traded ber-leverage dan opsi beli (call options). Namun, reli tersebut berhenti mendadak pada akhir pekan lalu.

Pada 30 Januari, harga perak mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah. Pada saat yang sama, harga emas membukukan penurunan terdalam sejak 2013. Sejak itu, pasar bergerak sangat fluktuatif.

Baca juga: Emas Tak Produktif? Ini Alasan Warren Buffett Pilih Perak

Permintaan China Melemah

Dalam sepekan terakhir, terjadi penurunan tajam pembelian dari China. Kondisi ini membuat harga perak kesulitan mendapatkan dukungan.

Harga perak di pasar domestik China bahkan berubah menjadi diskon dibandingkan acuan internasional. Pergerakan harga yang ekstrem turut membuat pembeli menahan diri.

Data menunjukkan open interest di Shanghai Futures Exchange turun ke level terendah dalam lebih dari empat tahun. Hal ini mengindikasikan banyak posisi yang ditutup.

“Posisi beli (long) terkena stop loss, sementara posisi jual (short) merealisasikan keuntungan,” kata analis Jinrui Futures Co., Zijie Wu.

Ia juga menyebut investor cenderung mengurangi kepemilikan menjelang libur Tahun Baru Imlek selama sepekan yang dimulai pada 16 Februari.

Baca juga: Bisa Jadi Safe Haven, Ini Alasan Investasi Perak Dinilai Menjanjikan dan Risikonya

Emas Dinilai Lebih Tangguh, Bitcoin Disebut Menarik

Di tengah gejolak tersebut, pasar emas yang lebih likuid dinilai mampu menyerap tekanan lebih baik dibandingkan perak. Sejumlah bank dan manajer aset pekan ini kembali menegaskan prospek bullish jangka panjang emas.

Seorang manajer dana Fidelity International yang menjual sebelum kejatuhan harga menyatakan siap membeli kembali.

Kepala tim manajemen portofolio komoditas Pacific Investment Management Co. juga menilai tren kenaikan emas masih tetap utuh.

Meski demikian, volatilitas tinggi di pasar logam mulia turut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitasnya sebagai instrumen lindung nilai risiko.

Berbeda dari pandangan umum di Wall Street, para analis JPMorgan Chase & Co. menyatakan bitcoin terlihat jauh lebih menarik dalam jangka panjang dibandingkan emas.

Tag:  #harga #perak #naik #persen #7797 #dollar #usai #anjlok #tajam

KOMENTAR