Harga Bitcoin Merosot, Saham Perusahaan Penyimpan Aset Digital Ikut Anjlok
Ilustrasi bitcoin. (WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO)
04:04
6 Februari 2026

Harga Bitcoin Merosot, Saham Perusahaan Penyimpan Aset Digital Ikut Anjlok

Gejolak pasar kripto mulai menjalar ke bursa saham. Saham perusahaan publik pemilik bitcoin dan aset digital lain di neraca keuangan ikut tertekan. Kondisi ini memicu kekhawatiran dampak lanjutan ke sektor aset berisiko.

Dalam satu tahun terakhir, jumlah emiten yang menempatkan dana ke mata uang kripto meningkat tajam. Strategi ini didorong ekspektasi kenaikan harga aset digital. Sikap pro-kripto Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberi dorongan. Langkah Strategy milik miliarder Michael Saylor juga menjadi rujukan. Perusahaan tersebut, sebelumnya bernama MicroStrategy, mulai mengoleksi dan menyimpan bitcoin sejak 2020.

Situasi berbalik dalam beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran atas valuasi saham kecerdasan buatan muncul bersamaan dengan ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Tekanan ini menyeret aset berisiko. Bitcoin turun ke level terendah sejak November 2024. Guncangan terasa kuat pada perusahaan dengan model perbendaharaan aset digital atau digital asset treasury.

Baca juga: Harga Bitcoin Ambles ke Bawah 70.000 Dollar AS, Apa Penyebabnya?

Saham Strategy menjadi contoh paling mencolok. Harga saham merosot dari 457 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 7,70 juta pada Juli, ke posisi terendah 111,27 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 1,88 juta pada Kamis. Level ini menjadi yang terendah sejak Agustus 2024. Pada perdagangan terakhir, saham Strategy anjlok lebih dari 11 persen.

Hingga laporan ini disusun, Strategy belum memberikan tanggapan.

Pada Desember lalu, perusahaan tersebut memangkas proyeksi kinerja 2025. Manajemen menilai pasar bitcoin melemah. Strategy juga mengumumkan rencana pembentukan cadangan untuk mendukung pembayaran dividen. Perkiraan hasil akhir tahun penuh berada di kisaran laba 6,3 miliar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 106,2 triliun hingga rugi 5,5 miliar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 92,7 triliun. Angka ini jauh di bawah proyeksi sebelumnya berupa laba bersih 24 miliar dollar Amerika Serikat.

Tekanan serupa menimpa emiten lain. Saham Smarter Web Company asal Inggris turun hampir 18 persen. Nakamoto Inc di Amerika Serikat melemah hampir 9 persen. Metaplanet dari Jepang turun lebih dari 7 persen.

Harga bitcoin sendiri terkoreksi hampir 20 persen sejak awal tahun. Tekanan jual menguat setelah Presiden Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon ketua Federal Reserve berikutnya. Sejumlah analis menilai arah kebijakan Warsh berpotensi memperkecil neraca bank sentral. Langkah tersebut cenderung berdampak negatif bagi aset berisiko, termasuk kripto.

Baca juga: Bitcoin Jatuh ke Level Terendah Sejak April, Investor Waspadai Tekanan Lanjutan

Bitcoin juga menghapus seluruh kenaikan sejak kemenangan Trump dalam pemilu. Kondisi ini terjadi meski Trump sebelumnya berjanji merombak kebijakan aset digital. Mata uang kripto terbesar dunia itu terakhir diperdagangkan di kisaran 67.651 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 1,14 miliar.

“Karena Bitcoin terus merosot di bawah batas psikologis 70.000 dollar Amerika Serikat, jelas pasar kripto sekarang masuk fase kapitulasi penuh,” kata analis investasi sekaligus salah satu pendiri Coin Bureau, Nic Puckrin.

“Jika siklus sebelumnya menjadi acuan, ini bukan lagi koreksi jangka pendek, melainkan fase transisi. Proses ini biasanya memakan waktu berbulan-bulan, bukan berminggu-minggu,” lanjutnya.

Tekanan meluas ke perusahaan pemilik token kripto lain. Alt5 Sigma, perusahaan yang tahun lalu mengumumkan rencana menyimpan token World Liberty Financial milik keluarga Trump, turun 8,4 persen. SharpLink Gaming, pemegang ether, melemah 8 persen. Forward Industries, pemilik token solana, turun hampir 6 persen.

Selama ini, investor institusional dapat membeli token kripto secara langsung. Perusahaan perbendaharaan aset digital menawarkan jalur tidak langsung lewat emiten publik yang teregulasi. Model ini sempat menarik investor konservatif yang ingin tetap terpapar kripto.

Tekanan berkepanjangan pada harga saham kini berisiko menghambat kemampuan perusahaan menghimpun modal baru. Padahal, pembelian tambahan aset digital menjadi inti strategi bisnis. Sejumlah eksekutif menilai keberlanjutan kinerja bergantung pada ketepatan keputusan investasi serta kemampuan mencari sumber nilai baru bagi pemegang saham.

Tag:  #harga #bitcoin #merosot #saham #perusahaan #penyimpan #aset #digital #ikut #anjlok

KOMENTAR