5 Hal yang Dianggap Aset oleh Kelas Menengah, Padahal Bukan
– Selama bertahun-tahun, kelas menengah dijejali narasi bahwa berbagai pembelian besar identik dengan investasi. Konsumsi kerap dibungkus sebagai langkah membangun kekayaan.
Padahal, secara sederhana, aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke kantong. Sebaliknya, liabilitas mengeluarkan uang dari kantong.
Namun dalam praktiknya, banyak rumah tangga justru mencatat barang-barang yang menyedot pengeluaran bulanan sebagai aset dalam neraca pribadi.
Kondisi ini tidak lepas dari peran pemasaran, lembaga keuangan, hingga industri yang diuntungkan dari anggapan bahwa konsumsi sama dengan investasi.
Baca juga: 5 Perbedaan Pola Pikir Orang Miskin, Kelas Menengah, dan Orang Kaya
Akibatnya, tidak sedikit keluarga merasa telah membuat kemajuan finansial, padahal sebenarnya menambah beban arus kas.
Dikutip dari New Trader U, Kamis (5/2/2026), berikut lima hal yang kerap dianggap aset oleh kelas menengah, tetapi secara finansial justru bekerja sebaliknya.
1. Rumah Tinggal Utama
Bagi banyak orang, rumah adalah aset terbesar. Nilainya dipantau di berbagai situs properti, dimasukkan dalam perhitungan kekayaan bersih, dan cicilan KPR dianggap sebagai bentuk tabungan paksa.
Namun, realitasnya lebih kompleks. Rumah tinggal utama secara rutin menguras dana melalui pajak properti, asuransi, biaya perawatan, perbaikan, serta bunga kredit.
Rata-rata pemilik rumah mengeluarkan sekitar 1–4 persen dari nilai rumah per tahun hanya untuk perawatan. Angka ini belum termasuk pajak properti dan premi asuransi yang cenderung naik setiap tahun.
Memang, harga rumah berpotensi naik. Akan tetapi, secara historis, kenaikan nilainya hanya sedikit di atas inflasi dalam jangka panjang.
Baca juga: Emas, Inflasi yang Tak Terasa tapi Menggerus Kelas Menengah
Jika memperhitungkan biaya transaksi, perawatan berkelanjutan, serta biaya peluang dari modal yang tertanam, tidak sedikit pemilik rumah yang sebenarnya bisa membangun kekayaan lebih besar melalui investasi alternatif.
Keuntungan biasanya baru terasa jika pemilik rumah mengecilkan ukuran hunian atau pindah ke wilayah dengan biaya hidup lebih rendah, langkah yang jarang diambil banyak keluarga.
Karena itu, sebagian kalangan memandang rumah utama sebagai pengeluaran gaya hidup yang memberikan kenyamanan, bukan sebagai aset produktif yang menghasilkan arus kas.
2. Mobil Baru atau Mobil Mewah
Mobil baru kehilangan sekitar 20 persen nilainya saat keluar dari dealer. Ini merupakan konsekuensi depresiasi kendaraan.
Meski demikian, mobil tetap sering dianggap aset karena memiliki nilai jual kembali dan termasuk pembelian bernilai besar. Padahal, biaya berkelanjutan seperti asuransi, bahan bakar, registrasi, servis, dan perawatan menciptakan arus kas keluar yang konsisten.
Untuk mobil mewah, biaya tersebut semakin besar akibat suku cadang premium, servis khusus, dan premi asuransi lebih tinggi.
Cicilan mobil pun kini menjadi hal yang lazim. Rata-rata cicilan mobil baru bahkan melebihi 700 dollar AS per bulan, dengan tenor 6 hingga 7 tahun.
Artinya, ribuan dollar AS per tahun dialokasikan untuk aset yang nilainya terus menyusut. Bahkan, dalam banyak kasus, nilai pinjaman melebihi harga mobil selama bertahun-tahun.
Mobil memang memberi manfaat dan mendukung aktivitas ekonomi. Namun manfaat itu tidak menjadikannya aset dalam arti finansial karena tidak menghasilkan arus kas masuk.
Baca juga: 7 Pengeluaran Kelas Menengah yang Sebaiknya Tidak Dibeli Lagi
3. Gelar Sarjana Tanpa Return on Investment (ROI)
Pendidikan sering disebut sebagai investasi terbaik. Dalam banyak kasus, hal itu benar. Namun, gelar pendidikan tidak otomatis menjadi aset.
Yang menentukan adalah peningkatan daya hasil atau pendapatan yang dihasilkan. Imbal hasil ini sangat bergantung pada bidang studi, institusi, serta kemampuan individu menciptakan penghasilan.
Sebagai gambaran, gelar yang menelan biaya 150.000 dollar AS tetapi mengarah pada pekerjaan berpenghasilan 45.000 dollar AS per tahun sulit disebut sebagai aset.
Sebaliknya, ia menjadi liabilitas berupa cicilan pinjaman mahasiswa yang membebani arus kas selama puluhan tahun.
Utang pendidikan bersifat nyata dan langsung. Sementara potensi penghasilan masih bergantung pada banyak faktor dan tidak selalu sesuai harapan.
Pendidikan tetap memiliki nilai dari sisi pengetahuan dan pengembangan diri. Namun dari perspektif finansial, ia baru dapat disebut aset jika kenaikan pendapatan yang dihasilkan melebihi total biaya perolehannya.
Baca juga: Benarkah Makan Tabungan Jadi Satu-satunya Masalah Kelas Menengah?
4. Asuransi Jiwa Whole Life yang Dijual sebagai Investasi
Produk asuransi jiwa whole life kerap dipasarkan sebagai kombinasi perlindungan dan investasi. Pemegang polis dijanjikan manfaat kematian sekaligus nilai tunai yang bisa dipinjam.
Namun, struktur biayanya perlu dicermati. Polis jenis ini umumnya memiliki komisi tinggi untuk agen, sehingga nilai tunai pada tahun-tahun awal sangat kecil. Setelah dikurangi biaya, komponen investasinya biasanya hanya menghasilkan imbal hasil sekitar 1–3 persen per tahun.
Angka ini relatif rendah dibandingkan instrumen investasi lain. Dalam praktiknya, polis tersebut lebih menguntungkan perusahaan asuransi dan agen.
Sebagai alternatif, asuransi jiwa berjangka dapat dibeli dengan biaya lebih rendah. Selisih premi dapat dialokasikan ke instrumen seperti reksa dana kelolaan atau exchange-traded funds (ETF) yang berpotensi memberikan pertumbuhan nilai lebih baik.
Manfaat perlindungan tetap ada, tanpa mencampurnya dengan investasi berimbal hasil rendah.
Baca juga: 5 Kebiasaan yang Membuat Kelas Menengah dan Orang Kaya Beda Jauh
5. Barang Konsumtif untuk Kesenangan (Perahu, Motor, ATV)
Kendaraan rekreasi seperti perahu, motor, atau ATV sering dibeli dengan alasan “bisa dijual lagi nanti”. Alasan ini membuatnya seolah-olah menjadi aset.
Padahal, barang-barang tersebut mengalami depresiasi cepat dan memerlukan biaya penyimpanan, perawatan, asuransi, hingga bahan bakar.
Dalam lima tahun, perahu misalnya dapat kehilangan 40–60 persen nilainya. Jika ditambahkan biaya marina, perawatan musiman, dan perbaikan, total pengeluaran sering melampaui harga beli awal.
Barang-barang ini memang memberikan pengalaman dan kesenangan. Namun secara finansial, arus kas tetap keluar tanpa ada pemasukan yang sepadan.
Saat ingin dijual kembali, banyak pemilik menghadapi pasar sekunder yang jenuh serta biaya tambahan untuk memperbaiki kondisi barang.
Mengubah Cara Pandang tentang Aset
Aset sejati menghasilkan arus kas atau apresiasi yang melampaui biaya kepemilikan. Selain itu, pada dasarnya merupakan liabilitas atau pengeluaran gaya hidup.
Ini bukan berarti seseorang tidak boleh membeli rumah, mobil, atau barang rekreasi. Namun penting memahami sifat sebenarnya dari pembelian tersebut.
Perubahan sudut pandang ini dapat memengaruhi cara mengalokasikan modal dan membangun kekayaan bersih.
Banyak hal yang selama ini disebut aset oleh kelas menengah ternyata lebih tepat dikategorikan sebagai liabilitas dengan kemasan pemasaran yang menarik.
Menyadari perbedaan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun fondasi keuangan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Tag: #yang #dianggap #aset #oleh #kelas #menengah #padahal #bukan