Prospek Saham Perbankan Besar di Masa Pemulihan IHSG, Jadi Pilihan Investor?
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar diproyeksikan mendapatkan angin segar setelah mengalami guncangan beberapa waktu ke belakang.
Saham perbankan dengan kapitalisasi besar dipandang memiliki fundamental yang kuat dalam menghadapi krisis, sehingga dipercaya oleh investor.
Analis sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, tekanan yang dialami saham perbankan Indonesia dalam beberapa waktu terakhir terutama dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang masih dibayangi kekhawatiran terhadap aspek investability pasar saham domestik. Hal itu khususnya setelah MSCI menyoroti isu transparansi free float dan struktur kepemilikan saham.
"Tekanan ini bersifat sentimen dan teknikal, bukan cerminan pelemahan fundamental," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/1/2025).
Baca juga: Isu MSCI hingga Mundurnya Dirut BEI, Simak Rekomendasi Saham BBCA
Ia menambahkan, hal tersebut tercermin dari kondisi perbankan nasional yang hingga kini masih ditopang permodalan kuat, likuiditas yang memadai, serta kinerja laba yang relatif stabil.
Sedikit catatan, IHSG mengalami guncangan dalam dua hari kebelakang. IHSG sempat menyentuh level 8.176 dan mengalami pembekuan perdagangan sementara (trading halt) dua hari berturut-turut imbas dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Di tengah tekanan tersebut, respons pasar domestik justru menunjukkan daya tahan yang cukup baik, terlihat dari kemampuan sejumlah saham bank besar bertahan bahkan menguat meski asing masih mencatatkan net sell dalam jumlah besar.
Ke depan, Hendra bilang, peluang kembalinya aliran dana asing ke sektor perbankan dinilai tetap terbuka setelah tekanan jual mereda dan ketidakpastian kebijakan mulai berkurang.
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025).
Langkah cepat regulator melalui reformasi free float, perbaikan transparansi data kepemilikan saham, serta penetapan free float minimum 15 persen menjadi sinyal positif bagi investor global bahwa Indonesia serius menjaga kredibilitas pasar modalnya.
Ketika risiko penurunan status indeks dapat diredam dan kejelasan regulasi semakin meningkat, investor asing umumnya akan kembali masuk ke saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.
"Dengan sektor perbankan sebagai tujuan utama karena bobotnya yang signifikan dalam indeks," imbuh dia.
Baca juga: OJK Minta Perbankan Blokir 30.000 Rekening Judi Online hingga Desember 2025
Dari sisi fundamental, Hendra menyebut, katalis pemulihan saham perbankan akan sangat ditentukan oleh konsistensi kinerja keuangan, khususnya pertumbuhan laba dan kemampuan menjaga margin bunga di tengah dinamika suku bunga.
Pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, baik dari segmen konsumsi maupun korporasi berkualitas, akan memperkuat optimisme pasar. Sementara kualitas aset yang stabil dengan rasio kredit bermasalah yang terkendali menjadi penopang utama kepercayaan investor.
Selain faktor internal, stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan Bank Indonesia (BI), serta arah suku bunga global juga akan berperan penting dalam menentukan minat investor terhadap sektor ini.
Saham perbankan menarik setelah tekanan asing melandai
Pada umumnya, ia menjabarkan, investor mulai melihat saham perbankan kembali menarik ketika tekanan jual asing mulai melandai.
Saham perbankan kembali menarik kala indeks saham mampu bertahan di atas level support kunci dan muncul indikasi akumulasi bertahap pada saham-saham bank besar.
Kondisi ketika harga saham mampu bertahan atau bahkan menguat meski asing masih menjual sering kali menjadi sinyal awal terbentuknya dasar pemulihan. Dalam situasi seperti ini, saham perbankan besar mulai dilirik sebagai peluang spekulatif yang rasional dengan risiko yang terukur.
Pilihan saham perbankan
Hendra menerangkan terdapat sejumlah saham bank dinilai menarik secara selektif. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu saham yang menunjukkan ketahanan kuat dengan dukungan fundamental solid dan likuiditas tinggi, sehingga layak dipertimbangkan untuk pembelian spekulatif dengan target di kisaran 8.000.
Lalu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tetap menarik sebagai representasi pemulihan ekonomi domestik dan segmen mikro dengan target 4.000.
Sedangkan, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menawarkan eksposur ke sektor korporasi dan proyek infrastruktur dengan target 4.800.
Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) dinilai memiliki potensi re-rating seiring perbaikan kinerja dan transformasi bisnis dengan target 4.600.
"Meski demikian, volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek, sehingga strategi masuk bertahap dan disiplin manajemen risiko tetap menjadi kunci," terang dia.
Secara keseluruhan, Hendra mengatakan, pelemahan saham perbankan saat ini lebih mencerminkan fase penyesuaian sentimen akibat tekanan eksternal dan ketidakpastian kebijakan, bukan perubahan arah fundamental.
Dengan fondasi bisnis yang masih kuat dan langkah kebijakan yang mengarah pada peningkatan transparansi serta tata kelola pasar, sektor perbankan berpeluang kembali menjadi motor pemulihan pasar saham Indonesia ketika kepercayaan investor, khususnya investor asing, mulai pulih.
Kredit Perbankan Melonjak
Kinerja perbankan terutama dari fungsi intermediasi memang menunjukkan kinerja yang solid. Hal itu tergambar dari peningkatan kredit pada akhir 2025 lalu.
Bank Indonesia (BI) melaporkan, penyaluran kredit baru perbankan pada kuartal IV-2025 menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Indikasi tersebut tercermin dalam hasil Survei Perbankan yang mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru mencapai 88,92 persen, naik dari 82,33 persen pada kuartal III-2025.
Dalam laporan Survei Perbankan Kuartal IV 2025, bank sentral menyatakan, peningkatan ini terutama ditopang oleh menguatnya permintaan kredit untuk kegiatan usaha, khususnya kredit modal kerja dan kredit investasi.
Berdasarkan jenis penggunaan, SBT Kredit Modal Kerja tercatat sebesar 88,64 persen, sementara kredit investasi mencapai 87,32 persen.
Sebaliknya, kredit konsumsi menunjukkan perlambatan dibandingkan periode sebelumnya. SBT Kredit Konsumsi tercatat hanya 13,39 persen, lebih rendah dibandingkan kuartal III-2025.
Perlambatan pertumbuhan Kredit Konsumsi pada kuartal IV 2025 terutama disebabkan oleh penurunan pada Kredit Kendaraan Bermotor.
Survei mencatat SBT Kredit Kendaraan Bermotor berada di level negatif, yakni minus 2,14 persen.
Selain itu, perlambatan juga terjadi pada Kredit Multiguna dengan SBT sebesar 21,38 persen serta Kredit Tanpa Agunan (KTA) yang mencatatkan SBT 27,16 persen.
Pergerakan saham perbankan
Hingga sesi pertama perdagangan hari ini, saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar memang menunjukkan peningkatan. Namun demikian, beberapa saham perbankan ada yang masih mencatatkan pelemahan dalam beberapa waktu kebelakang.
Saham BBCA pada akhir sesi pertama hari ini mencacat level 7.450 atau naik 3,47 persen setara 250 poin. Dalam satu bulan terakhir, saham BBCA telah melemah 7,17 persen setara 575 poin. Adapun dalam setahun ke belakang, saham BBCA telah anjlok 20,32 persen.
Saham BMRI pada akhir sesi pertama hari ini mencacat level 4.770 atau naik 3,02 persen setara 140 poin. Namun demikian dalam sebulan terakhir saham BMRI masih turun 6,01 persen setara 305 poin. Sedangkan setahun terakhir, saham BMRI telah susut 22,12 persen setara 1.355.
Saham BBNI pada akhir sesi pertama hari ini mencacat level 4.510 atau naik 2,04 persen setara 90 poin. Dalam sebulan terakhir, saham BBNI telah menguat 5,87 persen, setara 250 poin. Kendati demikian, dibandingkan dengan setahun terakhir, saham BBNI turun 2,17 persen setara 100 poin..
Saham BBRI pada akhir sesi pertama hari ini mencacat level 3.840 atau naik 1,59 persen setara 60 poin. Sebulan ke belakang, harga saham BBRI naik 1,59 persen setara 60 poin. Namun begitu, saham BBRI masih menunjukkan pelemahan 8,35 persen secara tahunan, setara 350 poin.
Saham BNGA pada akhir sesi pertama hari ini mencacat level 1.820 atau naik 0,28 persen setara 5 poin. Dalam sebulan terakhir, saham BNGA menguat 4,30 persen setara 75 poin. Sementara dalam setahun ke belakang saham BNGA telah naik 4,90 persen setara 85 poin.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.
Tag: #prospek #saham #perbankan #besar #masa #pemulihan #ihsg #jadi #pilihan #investor