Rupiah Dibuka Menguat Tipis, IHSG Sempat Anjlok Lebih Dari 10 Persen
- Nilai tukar rupiah berada di level Rp 16.722 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (29/1) pagi.
Mata uang Garuda menguat 46 poin atau 0,27 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah sejalan dengan dinamika mata uang di kawasan Asia yang bergerak bervariasi.
Yen Jepang menguat 0,11 persen, baht Thailand melemah 0,18 persen.
Baca juga: Rupiah Menguat, Purbaya: Bukan karena Pak Thomas Saja, Langkah Bank Sentral Sudah Lebih Baik...
Yuan China turun tipis 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,52 persen.
Adapun dollar Singapura melemah 0,02 persen dan dollar Hong Kong turun 0,01 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan terhadap dollar AS, seiring penguatan kembali mata uang Paman Sam pasca pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Penguatan dollar AS terjadi setelah Ketua The Federal Reserve Jerome (The Fed) Powell menyampaikan pernyataan yang dinilai lebih hawkish dari perkiraan pasar, sehingga memicu penyesuaian ekspektasi suku bunga dan mendorong aliran dana kembali ke aset berdenominasi dollar.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS yang rebound setelah dalam FOMC, Powell memberikan pernyataan yang lebih hawkish dari harapan,” ujar Lukman kepada Kompas.com.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi datang dari aksi jual di pasar ekuitas domestik.
Pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat memicu keluarnya dana asing dan memperbesar permintaan dollar AS di pasar domestik.
“Sell off di ekuitas domestik juga bisa membebani rupiah. Range 16700-16800,” paparnya.
Di lain sisi, tekanan jual di pasar saham semakin dalam dan menyeret Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan Kamis pagi ini.
Pelemahan tajam tersebut membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tergerus signifikan hingga jebol ke posisi Rp 13.577,75 triliun.
Usai BEI memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham (trading halt), per pukul 09.59 WIB, IHSG ambles 835,20 poin atau setara 10,04 persen ke level 7.485,35.
Adapun, sejak pembukaan di posisi 8.027,83, indeks langsung bergerak turun tajam dan tidak mampu keluar dari tekanan jual hingga menyentuh level terendah harian di 7.481,99.
Pelemahan IHSG terjadi sangat luas.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 726 saham tercatat melemah, 21 saham yang menguat, dan 25 saham bergerak stagnan.
Sementara itu, volume perdagangan mencapai 17,04 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 13,22 triliun dan frekuensi perdagangan menembus 1.006.013 kali.
Namun derasnya tekanan jual membuat nilai kapitalisasi pasar menyusut tajam dari posisi sebelumnya yang berada di kisaran lebih dari Rp 16.000 triliun.
Sebelumnya, BEI memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham pada Kamis pagi ini, menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan hingga mencapai 8 persen, 30 menit setelah pembukaan bursa.
Perdagangan kemudian dilanjutkan kembali pada pukul 09.56.01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) tanpa perubahan jadwal perdagangan.
“Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 09:56:01 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8 persen,” tulis kereta pers BEI.
BEI menjelaskan, penghentian sementara perdagangan ini dilakukan untuk menjaga agar perdagangan saham di bursa tetap berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.
Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Bursa Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas, serta ketentuan teknis yang diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
Baca juga: Pasar Sudah Antisipasi, Rupiah Minim Reaksi saat Thomas Djiwandono Masuk BI
Tag: #rupiah #dibuka #menguat #tipis #ihsg #sempat #anjlok #lebih #dari #persen