Kenapa Dana Darurat Tidak Boleh Digunakan untuk Investasi?
Dana darurat adalah salah satu pilar dasar perencanaan keuangan pribadi.
Dana darurat merupakan tabungan yang disisihkan khusus untuk menutup kebutuhan tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis, atau perbaikan rumah.
Meski godaan untuk memanfaatkan dana darurat demi mengejar imbal hasil di pasar modal besar, mayoritas ahli keuangan menegaskan bahwa dana darurat sebaiknya tidak diinvestasikan ke instrumen berisiko.
Baca juga: Keliru Memahami Dana Darurat, Risiko Keuangan Mengintai
Ilustrasi dana darurat.
Fungsi utama dana darurat: likuiditas dan keamanan, bukan pertumbuhan
Tujuan utama dana darurat adalah memastikan ketersediaan uang dalam waktu singkat tanpa risiko kehilangan nilai pokok.
Investasi, terutama saham dan aset berisiko lainnya, bisa mengalami penurunan nilai yang signifikan dalam jangka pendek.
Dana darurat sebaiknya memprioritaskan likuiditas, yakni akses cepat dan tanpa penalti ke dana, daripada imbal hasil yang tinggi.
Dengan demikian, instrumen berfluktuasi tidak cocok untuk tujuan ini.
Baca juga: Tips Atur Keuangan 2026: Bangun Dana Darurat dan Lunasi Utang
Prinsip ini sederhana: ketika krisis datang, Anda membutuhkan akses cepat ke jumlah penuh dana tanpa harus mewujudkannya pada saat pasar sedang turun.
Jika dana darurat ditempatkan dalam aset yang turun nilainya atau yang memerlukan waktu pencairan, pemiliknya mungkin terpaksa menjual di bawah harga pasar atau menghadapi keterlambatan akses.
Ini adalah situasi yang memperburuk krisis, bukan meringankannya.
Ilustrasi dana darurat.
Banyak rumah tangga tidak punya bantalan memadai
Survei dan laporan lembaga riset menunjukkan kesenjangan besar antara kebutuhan dana darurat dan kondisi riil sebagian besar rumah tangga.
Baca juga: Menghadapi Biaya Hidup Mahal dengan Dana Darurat, Ini Strateginya
Bankrate melaporkan bahwa sebagian besar orang masih merasa tidak nyaman dengan tingkat tabungan darurat mereka dan hanya sebagian kecil yang bisa menutupi beberapa bulan pengeluaran hidup tanpa kesulitan.
Angka-angka terbaru Bankrate menunjukkan bahwa mayoritas responden merasa tidak mampu menutup pengeluaran selama tiga sampai enam bulan tanpa bantuan.
Laporan Reuters juga mencatat, lebih dari satu dari lima orang dewasa tidak memiliki tabungan darurat sama sekali, dan hanya sekitar 46 persen yang mampu menutup tiga bulan pengeluaran.
Adapun berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan survei GoodStats 2024, hanya 29 persen masyarakat yang menabung secara konsisten setiap bulan.
Baca juga: Dana Darurat Bukan Uang Dingin: Ini Perbedaan Fungsi dan Risikonya
Artinya, lebih dari 70 persen penduduk hidup tanpa dana darurat, hanya mengandalkan pemasukan bulanan.
Risiko menjual investasi di saat pasar sedang turun
Investasi jangka panjang memang biasanya memberi imbal hasil lebih tinggi daripada tabungan konvensional, tetapi volatilitas pasar berarti nilai portofolio dapat turun tajam dalam waktu singkat.
Jika Anda menggunakan dana darurat yang ditempatkan di saham atau reksa dana untuk menutup kebutuhan mendesak saat pasar mengalami koreksi, maka Anda berisiko mengunci kerugian permanen.
Urutan prioritas dalam dana darurat adalah safety (keamanan), liquidity (likuiditas), dan only then yield (hasil). Menempatkan dana darurat dalam aset yang menuntut waktu pencairan atau yang berisiko menurun nilainya mencederai urutan prioritas ini.
Ilustrasi dana darurat.
Baca juga: Mengapa Dana Darurat Perlu Masuk Resolusi Keuangan 2026?
Biaya alternatif bila tidak punya dana darurat
Tanpa dana darurat yang likuid, individu cenderung menggunakan sumber pembiayaan yang jauh lebih mahal saat krisis, yakni kartu kredit berbunga tinggi, pinjaman jangka pendek, atau menjual aset pada harga yang tidak menguntungkan.
“Memiliki cadangan dana tunai untuk menutupi pengeluaran tak terduga mencegah orang menggunakan investasi jangka panjang mereka atau bergantung pada bentuk pembiayaan yang kurang menarik, seperti kartu kredit, jika mereka membutuhkan uang tunai dalam jangka pendek," ujar Christine Benz, pakar keuangan pribadi di perusahaan riset keuangan Morningstar dan penulis buku How To Retire.
Menutup kebutuhan dengan utang konsumtif bisa merusak rencana keuangan jangka panjang. Imbal hasil investasi yang semula diharapkan tergerus oleh bunga utang dan biaya lain.
Perbedaan tujuan: dana darurat vs investasi terencana
Salah satu kesalahan konseptual umum adalah menganggap semua uang tabungan adalah sama.
Baca juga: Ibu dan Dana Darurat: “Bantal” Keuangan yang Sering Terlupa
Dana darurat merupakan “asuransi likuid” untuk kejadian tak terduga. Investasi adalah strategi untuk mencapai tujuan finansial jangka menengah–panjang, misal untuk pensiun, dana pendidikan, atau properti.
Kedua instrumen ini punya horizon, profil risiko, dan produk yang jauh berbeda.
Sejumlah penasihat keuangan merekomendasikan menaruh dana darurat pada instrumen berisiko rendah dan mudah dicairkan, seperti deposito, tabungan berbunga tinggi, atau reksa dana pasar uang.
Pilihan ini mempertahankan akses cepat sambil memberi sedikit imbal hasil, tanpa mempertaruhkan modal utama.
Ilustrasi dana darurat, menabung dana darurat.
Baca juga: Kartu Kredit Jadi Backup Dana Darurat, Apakah Bisa?
Bagaimana membedakan situasi “layak pakai” vs “jangan sentuh”
Banyak ahli setuju pada pedoman umum, tetapi penyesuaian diperlukan berdasarkan kondisi individu:
1. Ukuran
Target konservatif umum adalah dana darurat setara tiga sampai enam bulan pengeluaran penting.
Bagi pekerja dengan pendapatan tidak stabil atau tanpa tunjangan pengangguran, ukuran ini bisa lebih besar.
2. Akses
Simpan dana darurat di akun yang mudah dicairkan tanpa biaya atau penalti.
Baca juga: Khawatir Badai PHK? Ini Pentingnya Dana Darurat dan Cara Menabungnya
3. Kegunaan
Dana darurat digunakan hanya untuk kejadian yang benar-benar darurat, misal kehilangan pekerjaan, tagihan medis besar yang takdir, atau perbaikan rumah maupun kendaraan yang tak dapat ditunda.
Menggunakan dana darurat untuk membeli barang konsumtif atau kebutuhan yang bisa ditunda mengikis fungsi protektifnya.
Dave Ramsey dan perencana keuangan lain bahkan menyarankan aturan ketat, yaitu memperlakukan dana darurat seperti asuransi, bukan sebagai sumber modal untuk mengejar keuntungan investasi.
Jika ada dana “kelebihan” setelah dana darurat terpenuhi, baru boleh diinvestasikan
Prinsip praktis yang sering dianjurkan adalah urutkan prioritas yakni sebagai berikut.
Baca juga: Jangan Pakai Kartu Kredit untuk Dana Darurat, Ini 5 Alasannya
Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.
- Darurat: cadangan 3–6 bulan
- Utang berbunga tinggi: lunasi
- Kontribusi pensiun
- Investasi jangka panjang
Setelah dana darurat terisi dan utang mahal terkelola, dana surplus layak dipindahkan ke kendaraan investasi yang sesuai tujuan dan horizon.
Jika Anda ingin mengoptimalkan sedikit imbal hasil untuk dana darurat, pilih instrumen yang tetap rendah risiko dan sangat likuid, bukan pasar saham volatil.
Rekomendasi praktis menabung dana darurat
Berikut beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menabung dana darurat.
Baca juga: Skor FFI 2025 Turun, Masyarakat Kian Jarang Nabung dan Punya Dana Darurat
- Hitung kebutuhan pokok per bulan, lalu kalikan 3–6 kali sebagai target awal. Bagi pekerja kontrak atau pengusaha mikro pertimbangkan 6–12 bulan.
- Simpan dana daruat terpisah dari rekening sehari-hari dengan label “Darurat” untuk menghindari godaan.
- Pilih akun dengan akses cepat dan tanpa penalti. Hindari menaruh dana darurat di instrumen yang memerlukan waktu pencairan panjang atau berpotensi turun nilainya.
- Evaluasi berkala. Setelah kondisi membaik, misal utang lunas atau stabilitas kerja sudah terjamin, alokasikan surplus ke investasi sesuai tujuan jangka panjang.
Dana darurat bukanlah wadah investasi. Fungsi utamanya adalah menyediakan likuiditas dan keamanan modal saat krisis.
Menempatkan dana darurat di aset berisiko menaikkan kemungkinan harus menjual saat pasar turun, atau tidak bisa mengakses dana saat benar-benar dibutuhkan, keduanya berpotensi memperparah keadaan darurat
Untuk itu, penuhi terlebih dahulu dana darurat di instrumen likuid dan aman. Setelah itu, barulah alokasikan dana ke instrumen investasi untuk tujuan jangka panjang.
Tag: #kenapa #dana #darurat #tidak #boleh #digunakan #untuk #investasi