Luncurkan B57 Class di IES 2026, Indonesia Bidik Peran Hub Bisnis Dunia Islam
Arsjad Rasjid saat menyampaikan paparan dalam peluncuran Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta.(KOMPAS.com/Yudha Pratomo)
07:52
27 Januari 2026

Luncurkan B57 Class di IES 2026, Indonesia Bidik Peran Hub Bisnis Dunia Islam

– Indonesia Economic Summit (IES) 2026 tidak hanya disiapkan sebagai ajang diskusi kebijakan, tetapi juga diarahkan menjadi forum yang melahirkan langkah konkret kerja sama ekonomi lintas negara.

Salah satu agenda yang akan diluncurkan dalam forum ini adalah B57 Class (Business 57 Class), sebuah inisiatif yang membidik penguatan jejaring bisnis negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim, sekaligus pengusaha Muslim di berbagai belahan dunia.

Peluncuran B57 Class akan menjadi bagian penting dari rangkaian IES 2026 yang digelar pada 3–4 Februari 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta. Forum ini dirancang sebagai wadah untuk mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, serta lembaga internasional dalam mendorong kolaborasi yang lebih terarah dan berdampak langsung bagi perekonomian.

“Disini yang tadi saya sudah utarakan sekali lagi adalah peluncuran daripada B57 class atau bisnis 57 class,” kata Ketua Dewan Pengawas (Chair of the Board of Trustees) Indonesian Business Council (IBC) Arsjad di Jakarta, Senin (26/1/2026).

“Sekarang itu ada 52 negara Islam nah classnya itu adalah beberapa banyak juga pengusaha-pengusaha muslim di negara-negara non-islam yang namanya B57 class,” lanjut dia.

Menurut Arsjad, kehadiran B57 Class mencerminkan kebutuhan akan forum yang tidak hanya membahas peluang, tetapi juga mendorong realisasi kerja sama ekonomi di tengah dinamika global yang kian kompleks.

“Di tengah situasi global saat ini, yang kami dorong adalah bagaimana membangun cross-border dan regional partnership yang konkret. IES 2026 tidak berhenti di diskusi, tapi yang paling penting adalah aksi,” ujar Arsjad.

Jejaring B57 dan Posisi Indonesia

Ilustrasi investasi. Kesulitan finansial tidak selalu disebabkan oleh kecilnya penghasilan. Pola perilaku dalam mengelola uang justru menjadi faktor pembeda utama dalam membangun kekayaan.Shutterstock/A9 STUDIO Ilustrasi investasi. Kesulitan finansial tidak selalu disebabkan oleh kecilnya penghasilan. Pola perilaku dalam mengelola uang justru menjadi faktor pembeda utama dalam membangun kekayaan.Arsjad menjelaskan, B57 Class merepresentasikan jaringan bisnis yang mencakup 57 negara dengan mayoritas penduduk Muslim, termasuk para pengusaha Muslim yang berada di negara-negara non-Islam.

Selama ini, menurut dia, belum ada forum yang secara khusus memfokuskan diri pada penguatan jejaring ekonomi lintas negara dalam lingkup B57 tersebut.

“Selama ini belum pernah ada forum yang secara khusus fokus pada ekonomi B57. Melalui Business 57 Class ini, Indonesia ditunjuk sebagai hub Asia Pasifik,” ungkapnya.

Penunjukan Indonesia sebagai hub Asia Pasifik dinilai strategis untuk memperluas peran Tanah Air dalam jejaring ekonomi dunia Islam.

Arsjad menilai, posisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mendorong akses pasar, investasi, serta kolaborasi bisnis yang lebih luas, termasuk untuk produk-produk unggulan nasional.

“Ini akan meningkatkan posisi Indonesia, bagaimana kita bisa mencari dan memperluas akses pasar ke negara-negara Islam. Contohnya produk halal yang sangat potensial untuk diekspor,” jelasnya.

Dalam kerangka tersebut, B57 Class tidak hanya berfungsi sebagai forum pertemuan, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun kemitraan konkret antar pelaku usaha lintas kawasan.

Jejaring ini diharapkan dapat mempertemukan kepentingan negara-negara Asia, Timur Tengah, Afrika, hingga kawasan lain yang memiliki keterkaitan dengan ekonomi berbasis populasi Muslim.

Dari Dialog ke Aksi Nyata

Lebih jauh, Arsjad menekankan bahwa IES 2026 dirancang sebagai forum yang mampu menerjemahkan dialog kebijakan menjadi kerja sama yang berdampak langsung. Selain membahas isu strategis, forum ini juga akan menindaklanjuti peluang kolaborasi di berbagai sektor, mulai dari investasi, pengembangan sumber daya manusia, hingga industrialisasi.

“IES 2026 menunjukkan bahwa dialog kebijakan bisa diterjemahkan menjadi pengaruh kebijakan, fasilitasi investasi, dan kerja sama yang konkret. Bukan hanya bicara kebijakan, tapi aksi. Itu yang kita butuhkan sekarang,” tegasnya.

Sejumlah kemitraan lintas negara juga disebut akan diperkuat dalam rangkaian pembahasan IES 2026. Di antaranya kerja sama pengembangan sumber daya manusia dengan Jepang, kolaborasi transisi hijau bersama Inggris, serta pengembangan kawasan ekonomi khusus dengan Singapura.

“Selain pembahasan antarnegara, kami juga mendorong pembukaan akses pasar dan peluang investasi baru,” kata Arsjad.

Seputar IES 2026

Sebagai informasi, IES 2026 akan menghadirkan sekitar 100 pembicara dari dalam dan luar negeri. Dari Indonesia, forum ini dijadwalkan dihadiri oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, serta Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.

Sejumlah menteri, wakil menteri, kepala badan, hingga perwakilan Danantara juga akan terlibat.

Dari internasional, hadir pimpinan lembaga global, investor, serta sovereign wealth fund dari Asia, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika Utara. Di antaranya perwakilan Bank Dunia, OECD, ADB, AIIB, EIB, serta sovereign fund seperti Khazanah dan Mubadala.

Dengan kombinasi agenda kebijakan, jejaring bisnis, dan peluncuran B57 Class, IES 2026 diarahkan untuk memperkuat peran Indonesia dalam arsitektur kerja sama ekonomi global, sekaligus memosisikan diri sebagai salah satu simpul penting dalam jejaring bisnis negara-negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Tag:  #luncurkan #class #2026 #indonesia #bidik #peran #bisnis #dunia #islam

KOMENTAR