AS Nilai Negosiasi Dagang Kunci Buka Akses Produk Pertanian ke Indonesia
- Masa depan perdagangan pertanian antara Amerika Serikat dan Indonesia berada di meja perundingan.
Di tengah tekanan rantai pasok global dan perubahan selera konsumen, pemerintah Amerika Serikat menilai negosiasi perjanjian dagang menjadi jalur utama untuk membuka kembali hambatan tarif dan regulasi yang selama ini membatasi masuknya produk pertanian Amerika Serikat ke pasar Indonesia.
Agricultural Counselor USDA Foreign Agricultural Service di Jakarta, Lisa Ahramjian, menyebut proses perundingan yang saat ini berjalan diarahkan untuk merapikan berbagai kendala struktural dalam perdagangan pertanian kedua negara.
“Negosiasi perjanjian perdagangan yang sedang berlangsung memang ditujukan untuk mengatasi tarif, serta berbagai isu regulasi yang bermasalah dan faktor lain yang saat ini membatasi akses pasar bagi produk pertanian AS, sehingga akses tersebut dapat ditingkatkan di masa mendatang,” ujar Lisa saat Press Briefing di Kedutaan Besar AS di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu dan kehati-hatian.
Karena itu, ia meminta semua pemangku kepentingan bersabar hingga negosiasi rampung.
Untuk perkembangan teknis dan arah kebijakan yang lebih perinci, USDA merujuk pada Gedung Putih dan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat.
“Kami perlu bersabar hingga proses tersebut sepenuhnya selesai, dan untuk pertanyaan yang lebih perinci, kami menyarankan untuk merujuk ke Gedung Putih atau Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat,” paparnya.
Dalam konteks negosiasi dagang, isu halal juga menjadi perhatian penting.
Lisa menegaskan USDA bekerja erat dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) untuk memastikan kepatuhan produk AS terhadap standar halal Indonesia.
Lebih jauh, kerja sama pertanian AS-Indonesia juga menyentuh aspek transfer pengetahuan.
Industri pertanian Amerika Serikat aktif memberikan pelatihan dan bantuan teknis kepada mitra di Indonesia, mulai dari sektor unggas, gandum, hingga kedelai.
Di sektor unggas, misalnya, penggunaan bahan pakan asal AS disertai pelatihan intensif untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Sementara di sektor kedelai, pelaku industri AS bekerja sama dengan produsen tempe lokal untuk menyempurnakan teknik produksi.
Di luar meja perundingan, Amerika Serikat juga mengandalkan strategi pendukung untuk menjaga momentum hubungan dagang, salah satunya melalui gelaran pameran “Rasa Amerika” dan pengiriman delegasi dagang agribisnis ke Indonesia.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan perdagangan sekaligus menangkap peluang pasar di luar jalur negosiasi formal.
USDA yang mewakili seluruh spektrum produk pertanian Amerika Serikat, mulai dari sapi hidup, produk daging, hingga makanan laut beku dan kebutuhan ritel.
Dalam misi dagang, perwakilan dari berbagai sektor tersebut dibawa langsung ke Indonesia untuk menjajaki peluang bisnis.
Selain memberikan nilai tambah bagi perekonomian domestik, produk pertanian AS juga dinilai memperkaya pilihan konsumen Indonesia.
Dengan semakin beragamnya produk di ritel, konsumen memiliki alternatif yang lebih luas sesuai preferensi dan daya beli.
“Produk lainnya memberikan pilihan tambahan bagi konsumen, sehingga ketika masyarakat berbelanja di toko, mereka memiliki pilihan produk yang lebih beragam. Untuk semua produk tersebut, kami berupaya meningkatkan peluang ekspor pertanian AS ke Indonesia,” beber Lisa.
“Kami melihat acara Rasa Amerika dan delegasi perdagangan mendatang sebagai cara yang sangat baik untuk mencapainya, selain melalui negosiasi yang sedang berlangsung,” lanjutnya.
Pada 2024 ekspor produk pertanian Amerika Serikat ke Indonesia tercatat sekitar 3 miliar dollar AS.
Namun pada periode yang sama, ekspor produk pertanian Indonesia ke Amerika Serikat lebih besar sekitar 1,1 miliar dollar AS, sehingga Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan di sektor pertanian.
Meski demikian, USDA menilai kondisi tersebut justru menegaskan besarnya ruang ekspansi bagi produk pertanian AS.
Indonesia dipandang sebagai pasar strategis karena memiliki populasi terbesar keempat di dunia, kelas menengah yang terus tumbuh, serta budaya konsumsi dan “ngemil” yang kuat.
Permintaan terhadap produk pertanian Amerika Serikat dinilai relatif tinggi, baik untuk konsumsi langsung maupun sebagai bahan baku industri.
Tag: #nilai #negosiasi #dagang #kunci #buka #akses #produk #pertanian #indonesia