DPR: Soal Rupiah Tertekan, Jangan Dikaitkan Isu Deputi Gubernur BI...
- Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan dan nyaris menyentuh level psikologis Rp 17.000 per dollar AS.
Sekalipun mata uang garuda ditutup menguat tipis terhadap dollar AS pada perdagangan Rabu (21/1/2026). Penguatan mata uang garuda sejalan dengan keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan (BI Rate).
Berdasarkan data Bloomberg, pukul 14.59 WIB, rupiah ditutup di level Rp 16.936 per dollar AS. Posisi ini menguat 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp 16.956 per dolar AS.
Pada hari perdagangan sebelumnya rupiah kembali tertekan dan menyentuh level penutupan terlemah sepanjang sejarah. Rupiah ditutup terdepresiasi 0,01 persen ke posisi Rp 16.956 per dollar AS.
Di tengah kondisi tersebut, muncul spekulasi yang mengaitkan pergerakan rupiah dengan proses seleksi calon Deputi Gubernur BI. Menanggapi hal itu, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai pelemahan rupiah tidak dihubungkan dengan dinamika pergantian pejabat di bank sentral.
Menurutnya, proses pergantian Deputi Gubernur BI tidak memiliki korelasi langsung dengan sentimen nilai tukar. Pengangkatan maupun pergantian pejabat di jajaran pimpinan Bank Indonesia merupakan mekanisme kelembagaan yang telah diatur dan berjalan sesuai kewenangan yang berlaku.
“Saya tidak mengaitkannya dengan sentimen nilai tukang, bagaimanapun juga figur-figur penggantian Deputi Gubernur Bank Sentral itu adalah kewenangan Gubernur Bank Sentral untuk mengajukan kepada Presiden sebagai Kepala Negara,” ujar Misbakhun saat ditemui di Gedung AA Maramis, Jakarta Pusat, Rabu sore ini.
Komisi XI DPR RI sendiri bersiap menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap tiga kandidat calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Proses seleksi dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni pada Jumat, 23 Januari 2026 dan dilanjutkan pada Senin, 26 Januari 2026, dengan agenda dan pembagian waktu yang telah ditetapkan secara rinci.
Uji kelayakan akan diikuti oleh tiga nama yang telah diajukan sebagai kandidat Deputi Gubernur BI.
Mereka adalah Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Solikin Juhro, serta Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono.
DPR Minta BI Jaga Rupiah di Level Moderat
Lebih jauh, Misbakhun meminta Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar rupiah pada angka-angka yang moderat. Di tengah tekanan sentimen pasar, ia menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia sejatinya sangat solid dan layak menjadi rujukan utama pelaku pasar.
“Kalau saya disuruh memberikan komentar, kita meminta Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar rupiah pada angka-angka yang moderat. Angka-angka yang memberikan simbolisasi terhadap penguatan nilai dan kapasitas ekonomi Indonesia,” lanjutnya.
Ia memandang menjaga stabilitas nilai tukar bukanlah pekerjaan yang mudah, terlebih di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Namun, ia yakin Indonesia memiliki fondasi makro ekonomi yang kuat untuk menopang stabilitas tersebut.
Misbakhun memaparkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia terjaga stabil di kisaran 4,8-4,9 persen, bahkan mendekati 5 persen secara tahunan. Selain itu, inflasi berada pada level rendah dan terkendali, sementara cadangan devisa dinilai kuat untuk menghadapi tekanan eksternal.
Tidak hanya itu, ia juga menekankan posisi eksternal Indonesia berada dalam kondisi positif. Neraca transaksi berjalan surplus, neraca perdagangan konsisten mencatatkan kinerja positif, serta transaksi neraca pembayaran secara keseluruhan berada pada jalur yang sehat.
“Kita mempunyai current account yang surplus, kita mempunyai balance of trade yang positif, dan kemudian kita transaksi neraca pembayaran dan sebagainya, kita semuanya positif. Apa yang dikhawatirkan dari Indonesia? Fundamental kita kuat,” kata Misbakhun.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah yang terjadi belakangan ini lebih banyak dipicu oleh sentimen pasar, bukan oleh pelemahan mendasar pada struktur ekonomi domestik. Karena itu, ia menilai penguatan komunikasi dan kepercayaan pasar menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Misbakhun menambahkan, dengan fundamental yang solid, Indonesia layak direkomendasikan sebagai tujuan investasi dan penempatan portofolio. Ia menilai sektor-sektor bernilai tambah di dalam negeri masih memiliki daya tarik kuat bagi investor, baik domestik maupun global.
“Yang terjadi adalah sebuah sentimen-sentimen yang menurut saya memang harus diberikan penguatan kepada pasar, untuk bahwa Indonesia itu adalah negara yang prospek ekonominya itu untuk investasi, untuk kemudian merekomendasikan portofolio, investasi sektor nilai itu adalah negara yang cukup kuat untuk itu,” ucapnya.
Tag: #soal #rupiah #tertekan #jangan #dikaitkan #deputi #gubernur