Harga Naik, Pengeluaran Membengkak? Strategi Menahan Boros
Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari menjadi pengalaman yang makin terasa bagi banyak rumah tangga.
Pangan, transportasi, hingga biaya utilitas bergerak naik secara bertahap, dipengaruhi faktor musiman, pasokan, serta dinamika ekonomi global.
Dalam situasi ini, tantangan keuangan bukan hanya soal besaran inflasi, melainkan bagaimana kebiasaan belanja harian, yang sering tak disadari, perlahan menggerus tabungan.
Berbagai data menunjukkan tekanan tersebut nyata. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi komponen pangan bergejolak (volatile food) kerap menjadi penentu naik-turunnya inflasi bulanan.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) berulang kali menegaskan pentingnya pengendalian harga pangan dan administered prices (harga yang diatur pemerintah) untuk menjaga daya beli masyarakat.
Di sisi lain, kalangan ekonom melihat perilaku konsumsi rumah tangga ikut berubah, lebih reaktif terhadap promosi dan lebih rentan terhadap pembelian impulsif, ketika ketidakpastian meningkat.
Inflasi, persepsi harga, dan perilaku belanja
Secara agregat, inflasi Indonesia beberapa periode terakhir masih berada dalam kisaran sasaran.
Namun, persepsi konsumen sering kali dibentuk oleh harga yang paling sering ditemui, seperti beras, cabai, bawang, minyak goreng, atau tarif transportasi. Ketika harga-harga ini naik, rasa “mahal” muncul meski inflasi tahunan relatif terkendali.
BI dalam berbagai siaran pers menekankan bahwa koordinasi pengendalian inflasi, khususnya pada pangan, menjadi kunci menjaga stabilitas.
Ilustrasi inflasi.
“Sinergi pusat dan daerah terus diperkuat agar pasokan terjaga dan gejolak harga dapat ditekan,” ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI.
Di sisi lain, ekonom menilai kehati-hatian konsumen meningkat. Andry Asmoro, Chief Economist Bank Mandiri, mengatakan konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tetapi lebih selektif.
"Masyarakat cenderung menahan belanja non-esensial ketika harga kebutuhan pokok naik,” ujarnya kepada Antara.
Selektivitas ini seharusnya menjadi peluang untuk memperbaiki kebiasaan keuangan, namun tanpa strategi, justru bisa berubah menjadi pola belanja impulsif saat ada diskon.
Kebiasaan boros yang sering tidak terasa
Berikut beberapa kebiasaan boros yang sering tidak terasa, namun berpotensi membuat pengeluaran bengkak dan tabungan bocor.
1. Diskon dan belanja impulsif
Promosi besar-besaran, terutama di platform digital, mendorong pembelian yang tidak direncanakan. Nilainya tampak kecil, tetapi frekuensinya tinggi.
Reuters mencatat bahwa di banyak negara, konsumen cenderung membeli lebih banyak barang non-esensial saat tertekan inflasi karena tergoda harga promosi, bukan karena kebutuhan.
2. Ketergantungan pada kartu kredit
Kartu kredit memudahkan transaksi, tetapi menjadi sumber pemborosan ketika pembayaran hanya sebatas minimum. Dengan suku bunga acuan yang relatif tinggi, bunga kartu kredit menambah beban.
Utang konsumtif berpotensi menggerus ruang belanja rumah tangga di masa inflasi.
3. Tidak memiliki anggaran tertulis
Banyak keluarga mengandalkan ingatan, bukan catatan. Tanpa anggaran rinci, pengeluaran kecil, seperti langganan digital, jajan harian, ongkos kirim, menjadi “kebocoran” yang terus berulang.
Ilustrasi belanja di supermarket.
4. Mengikuti gaya hidup dan tekanan sosial
Keinginan mengikuti tren atau gaya hidup lingkungan sekitar sering mendorong belanja di luar kemampuan.
Di tengah harga yang naik, porsi pengeluaran non-pokok yang membesar meningkatkan risiko defisit bulanan.
5. Menyimpan uang tanpa perlindungan inflasi
Menaruh seluruh dana di tabungan berbunga rendah membuat nilai riil uang tergerus. Oleh karena itu, penting untuk melakukan diversifikasi aset untuk melindungi daya beli dari inflasi.
Strategi praktis menahan sifat boros
Untuk menahan sifat boros yang akhirnya merugikan, berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan.
1. Menyusun anggaran yang realistis
Langkah pertama adalah membuat anggaran berbasis kategori, yakni pangan, transportasi, tagihan rutin, tabungan, dan investasi. Catat pengeluaran harian setidaknya selama satu bulan untuk memetakan kebocoran.
Perencanaan ini penting agar rumah tangga memiliki “rem” saat harga bergejolak.
2. Memberi jeda sebelum membeli barang non-esensial
Menerapkan aturan jeda 24 sampai 72 jam sebelum membeli barang non-esensial terbukti mengurangi pembelian impulsif. Banyak konsumen menyadari bahwa keinginan belanja sering mereda setelah emosi awal berlalu.
3. Mengendalikan penggunaan kartu kredit dan utang
Gunakan kartu kredit dan utang hanya untuk kebutuhan yang sudah dianggarkan dan upayakan pelunasan penuh setiap bulan.
Jika tidak memungkinkan, prioritaskan melunasi utang berbunga tinggi sebelum menambah pengeluaran lain.
Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah
4. Mengamankan dana darurat
Sisihkan dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin. Dana ini penting agar rumah tangga tidak terpaksa berutang ketika harga melonjak atau pendapatan terganggu.
Idealnya, anggarkan dana darurat setara pengeluaran tiga sampai enam bulan, tergantung pada kondisi Anda.
5. Meninjau ulang langganan dan kebiasaan kecil yang bikin boros
Audit langganan digital dan kebiasaan jajan harian. Menghentikan dua atau tiga layanan yang jarang dipakai bisa memberi ruang tabungan ratusan ribu rupiah per bulan.
6. Mengelola belanja pangan
Belanja dengan daftar, menyesuaikan menu dengan harga musiman, dan menghindari pemborosan makanan membantu menekan pengeluaran.
BI dan BPS sama-sama mencatat bahwa volatilitas harga pangan berperan besar terhadap inflasi. Artinya, pengelolaan konsumsi pangan langsung berdampak pada keuangan rumah tangga.
7. Melindungi nilai tabungan
Selain tabungan, pertimbangkan instrumen yang relatif aman dan likuid seperti deposito berjangka, reksa dana pasar uang, atau surat berharga negara ritel, sesuai profil risiko.
Diversifikasi ini penting untuk menjaga nilai riil aset di tengah inflasi.
Saat kebiasaan boros sudah terlanjur terjadi
Ilustrasi mengatur keuangan, membuat perencanaan keuangan.
Jika pengeluaran sudah terlanjur membengkak, lakukan langkah cepat, yakni audit pengeluaran 30 hari terakhir, hentikan sementara belanja non-esensial, dan alihkan dana ke pelunasan utang atau dana darurat.
Beberapa bank dan lembaga keuangan menyediakan alat perencanaan keuangan gratis yang dapat dimanfaatkan.
Menjaga disiplin di tengah tekanan harga
Kenaikan harga memang berada di luar kendali individu, tetapi cara meresponsnya sangat menentukan kondisi keuangan rumah tangga.
Kebiasaan kecil, seperti diskon impulsif, langganan tak terpakai, pembayaran minimum kartu kredit, jika dibiarkan akan mengikis tabungan secara perlahan.
Sebaliknya, disiplin anggaran, pengendalian belanja, dan perlindungan nilai tabungan memberi bantalan yang kuat ketika harga naik.
Dengan kebiasaan yang lebih sadar dan terencana, rumah tangga memiliki peluang lebih besar untuk menjaga daya beli tanpa mengorbankan masa depan keuangan.
Tag: #harga #naik #pengeluaran #membengkak #strategi #menahan #boros