Wall Street Merah, Ancaman Tarif Trump ke Eropa Guncang Pasar
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup merah pada perdagangan Selasa (20/1/2026) waktu setempat. Tiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan harian terdalam dalam tiga bulan terakhir seiring kekhawatiran pasar terhadap ancaman tarif baru Presiden AS Donald Trump terhadap Eropa.
Mengutip Reuters, Rabu (21/1/2026) indeks S&P 500 turun 143,15 poin atau 2,06 persen ke level 6.796,86.
Nasdaq Composite anjlok 561,07 poin atau 2,39 persen ke 22.954,32, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 870,74 poin atau 1,76 persen ke 48.488,59.
Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak 10 Oktober lalu.
S&P 500 dan Nasdaq Composite juga kembali bergerak di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, mencerminkan tekanan jual yang kian kuat di pasar saham AS.
Sentimen risk-off mendominasi perdagangan.
Investor melepas aset berisiko dan beralih ke instrumen lindung nilai.
Harga emas menembus rekor tertinggi baru, sementara pasar obligasi bergejolak dengan pergerakan imbal hasil US Treasuries yang tidak stabil.
Bitcoin turut tertekan dan melemah lebih dari 3 persen.
Selasa menjadi hari pertama investor bereaksi terhadap pernyataan Trump pada akhir pekan, mengingat Wall Street libur pada Senin (19/1/2026) karena Martin Luther King Jr. Day.
Trump menyatakan akan mengenakan tarif impor tambahan sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris Raya.
Trump juga menulis di Truth Social bahwa tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen mulai 1 Juni dan tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan agar AS dapat membeli Greenland.
Namun, pemerintah Greenland dan Denmark menegaskan wilayah tersebut tidak untuk dijual.
Kekhawatiran pasar meningkat karena ancaman tarif ini mengingatkan pada kebijakan perdagangan Trump pada April lalu yang sempat menyeret S&P 500 mendekati wilayah pasar bearish.
Indeks Volatilitas CBOE (VIX) melonjak ke level 20,09, tertinggi sejak 24 November.
Volume transaksi juga meningkat dengan sekitar 20,6 miliar saham berpindah tangan, jauh di atas rata-rata harian 20 hari terakhir.
Meski demikian, sejumlah pelaku pasar menilai tekanan ini belum tentu berlanjut.
Managing partner Harris Financial Group, Jamie Cox, mengatakan belum terlihat tanda investor keluar besar-besaran dari pasar saham.
Ia menilai dampak isu Greenland dan tarif kemungkinan masih terbatas dalam jangka pendek. "Saya belum sampai pada titik untuk mengatakan bahwa apa yang terjadi dengan Greenland, dan kembalinya ancaman tarif yang saling berbalas, akan memicu koreksi di pasar saham," ujarnya.
Di luar AS, gejolak pasar juga terjadi di Jepang.
Obligasi pemerintah Jepang anjlok dan mendorong imbal hasil ke level tertinggi sepanjang masa.
Tekanan tersebut turut menyeret saham Tokyo dan nilai tukar yen, serta berdampak pada kenaikan biaya pinjaman obligasi pemerintah Eropa tenor panjang.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi AS, termasuk pembaruan produk domestik bruto (PDB), data PMI Januari, serta laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi utama bank sentral AS.
Musim laporan keuangan emiten juga mulai bergulir, dengan Netflix dijadwalkan merilis kinerja kuartalannya pekan ini.
Tag: #wall #street #merah #ancaman #tarif #trump #eropa #guncang #pasar