Konsumsi BBM di Aceh Naik 8 Persen Selama Penanganan Bencana Sumatera
- Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi di Provinsi Aceh mengalami kenaikan 8 persen selama masa penanganan bencana alam.
Kenaikan terjadi seiring bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025. Dalam kondisi darurat, pemerintah menerapkan kebijakan khusus penyaluran BBM subsidi tanpa menggunakan QR Code.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, secara kebutuhan BBM di Aceh termasuk penanganan bencana alam mencapai 428.324 kiloliter di 2025 untuk Biosolar, serta Pertalite sebanyak 576.147 kiloliter.
"Ini sudah didistribusikan secara baik walaupun memang ada catatan selama bencana alam, mulai bulan akhir November sampai dengan Desember itu naik 8 persen, tapi khusus pas bencana alam," ujarnya saat meninjau SPBU di Lhokseumawe, dikutip Minggu (18/1/2026).
BPH Migas jamin ketersediaan energi di Aceh
Menurut Wahyudi, peningkatan konsumsi BBM tidak terlepas dari kebutuhan penanganan bencana, termasuk operasional alat berat, kendaraan dinas, hingga aktivitas di posko-posko kebencanaan.
Untuk menjamin ketersediaan energi di Aceh, BPH Migas pun memperpanjang kebijakan pembelian BBM subsidi tanpa QR Code hingga 22 Januari 2026.
Ia berharap kebijakan tersebut dapat mendukung percepatan pemulihan pascabencana, terutama di wilayah-wilayah yang akses infrastrukturnya masih terputus.
"Kebijakan ini agar masyarakat tidak terjadi kepanikan untuk mendapatkan akses pembelian BBM," kata dia.
Stok BBM di Aceh
Sementara itu, Eksekutif General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Sunardi, memastikan kondisi stok BBM di Aceh hingga saat ini dalam keadaan aman.
Provinsi Aceh sendiri memiliki lima terminal BBM, yakni di Lhokseumawe, Krueng Raya (Banda Aceh), Meulaboh, Sabang, dan Simeulue.
"Secara umum, kondisi stok di lima depot tersebut aman hingga minimal lima hari ke depan. Selain itu, suplai kapal reguler masuk setiap tiga hari," ujarnya.
Adapun untuk Terminal BBM Lhokseumawe, ketahanan stok Biosolar sekitar 5 hari dan Pertalite sekitar 5,6 hari. Lalu di Terminal BBM Krueng Raya, ketahanan stok Biosolar mencapai 5,75 hari, sedangkan Pertalite hingga 10 hari.
Kemudian ketahanan stok Biosolar di Terminal BBM Meulaboh mencapai 8,3 hari, sedangkan Pertalite hingga 8,57 hari. Sementara di Terminal BBM Sabang, ketahanan stok Biosolar mencapai 19,54 hari, sedangkan Pertalite mencapai sekitar 49 hari.
Serta untuk Terminal BBM Simeulue, stok Biosolar diperkirakan mencukupi kebutuhan selama 6,57 hari, sedangkan Pertalite memiliki ketahanan sekitar 17,55 hari.
Sunardi menegaskan, Pertamina Patra Niaga bersama BPH Migas terus memantau distribusi BBM di wilayah kebencanaan untuk memastikan pasokan tetap terjaga.
"Jadi insyaallah stok BBM aman," pungkasnya.
Tag: #konsumsi #aceh #naik #persen #selama #penanganan #bencana #sumatera