AS Simpan Dana Penjualan Minyak Venezuela di Bank Qatar, Ini Alasannya
Pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menyimpan dana hasil penjualan minyak Venezuela di sejumlah rekening bank, dengan rekening terbesar berada di Qatar. (GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JOE RAEDLE via AFP)
22:04
16 Januari 2026

AS Simpan Dana Penjualan Minyak Venezuela di Bank Qatar, Ini Alasannya

– Pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menyimpan dana hasil penjualan minyak Venezuela di sejumlah rekening bank, dengan rekening terbesar berada di Qatar. Informasi tersebut terungkap dalam laporan Semafor yang mengutip keterangan pejabat senior pemerintah AS.

Dalam laporan itu disebutkan, Amerika Serikat telah menyelesaikan penjualan perdana minyak Venezuela dengan nilai transaksi sebesar 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,43 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.863 per dollar AS. Dana hasil penjualan tersebut tidak seluruhnya disimpan di bank-bank di Amerika Serikat.

Dikutip dari The Independent, Jumat (16/1/2026), pejabat senior AS menjelaskan bahwa Qatar dipilih karena dianggap sebagai lokasi yang netral. Dari negara Teluk tersebut, dana dinilai dapat dipindahkan secara bebas dan aman tanpa risiko penyitaan.

Kritik dari Senat AS

Kebijakan tersebut menuai kritik dari Senator Elizabeth Warren asal Massachusetts. Warren merupakan anggota Partai Demokrat dengan peringkat tertinggi di Komite Keuangan Senat AS.

“Tidak ada dasar hukum bagi seorang presiden untuk membuka rekening luar negeri yang ia kendalikan untuk menjual aset yang disita oleh militer Amerika,” ujar Warren.

“Itu adalah langkah yang justru akan menarik bagi politisi korup,” tambahnya.

Hubungan dekat Trump dengan Qatar juga kembali menjadi sorotan. Pada Mei 2025, Trump dikritik setelah menerima pesawat Boeing senilai 400 juta dollar AS sebagai hadiah dari negara tersebut.

Pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menyimpan dana hasil penjualan minyak Venezuela di sejumlah rekening bank, dengan rekening terbesar berada di Qatar. Ilustrasi dibuat menggunakan AI Generatif Pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menyimpan dana hasil penjualan minyak Venezuela di sejumlah rekening bank, dengan rekening terbesar berada di Qatar.

AS Ambil Alih Sumber Daya Alam Venezuela

Sebelumnya diberitakan, Amerika Serikat menguasai sumber daya alam Venezuela setelah pasukannya memasuki Caracas pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026. Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela saat itu, Nicolas Maduro, ditangkap bersama istrinya, Cilia Flores.

Keduanya kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan federal terkait perdagangan narkoba. Maduro mengajukan pembelaan tidak bersalah di pengadilan Manhattan dan menegaskan dirinya masih merupakan pemimpin sah Venezuela.

Pasca-operasi tersebut, Trump, didampingi para menteri kabinetnya, menyatakan bahwa Washington akan mengambil alih kendali sementara atas pemerintahan Venezuela hingga negara itu dinilai cukup stabil untuk menggelar pemilihan presiden yang bebas dan adil.

Langkah tersebut juga mencakup pengambilalihan hingga 50 juta barel minyak Venezuela. Minyak tersebut kemudian dijual, dengan hasil penjualan yang diklaim akan didistribusikan kembali ke Caracas.

Perintah Eksekutif dan Perlindungan Dana

Trump menandatangani perintah eksekutif pada Jumat sebelumnya yang mengatur ketentuan transaksi tersebut. Aturan itu juga memblokir pengadilan maupun kreditur untuk menyita pendapatan dari penjualan minyak.

Trump menyebut langkah tersebut perlu dilakukan mengingat Venezuela memiliki utang sekitar 170 miliar dollar AS kepada pemegang obligasi internasional, perusahaan minyak, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam pertemuannya dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih pekan lalu, Trump menyampaikan kepada CEO ConocoPhillips, Ryan Lance, bahwa AS tidak akan memperhitungkan kerugian masa lalu.

“Kami tidak akan melihat apa yang orang-orang kehilangan di masa lalu, karena itu adalah kesalahan mereka,” ujar Trump.

Peran Departemen Keuangan AS

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan lebih lanjut dalam diskusi dengan Economic Club of Minnesota. Ia mengatakan Departemen Keuangan AS akan mengawasi rekening-rekening tersebut.

“Departemen Keuangan akan mengawasi rekening-rekening itu dan, atas arahan Presiden Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, bertanggung jawab atas penyaluran dana kembali ke Venezuela,” kata Bessent.

Ia menegaskan, “Peran kami adalah memastikan dana sampai ke tempat yang tepat. Kami adalah bankirnya; kami tidak mengarahkan penggunaan dana.”

Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan bahwa Trump telah memediasi kesepakatan energi bersejarah dengan Venezuela setelah penangkapan Maduro.

“Presiden Trump memediasi kesepakatan energi bersejarah dengan Venezuela yang akan menguntungkan rakyat Amerika dan Venezuela,” ujarnya.

Rogers juga mengatakan bahwa tim Trump tengah memfasilitasi pembicaraan dengan perusahaan minyak yang siap berinvestasi untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela.

Keraguan dari ExxonMobil

Meski demikian, pemerintah AS masih menghadapi tantangan untuk meyakinkan perusahaan minyak agar bekerja sama. CEO ExxonMobil Darren Woods menyampaikan keraguannya kepada Trump dalam pertemuan tersebut.

“Kami telah dua kali mengalami penyitaan aset di sana. Untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya tentu memerlukan perubahan yang sangat signifikan dari kondisi yang pernah kami alami,” ujar Woods, merujuk pada kebijakan nasionalisasi sektor migas Venezuela pada era Hugo Chavez.

Ia menambahkan, kerangka hukum dan komersial Venezuela saat ini membuat negara tersebut “tidak layak untuk investasi”.

Menanggapi pernyataan tersebut, Trump mengatakan kepada wartawan di pesawat Air Force One saat kembali ke Washington dari Mar-a-Lago bahwa ia cenderung tidak melibatkan ExxonMobil.

“Saya mungkin akan memilih untuk menyingkirkan Exxon. Saya tidak suka respons mereka. Mereka bermain terlalu licik,” kata Trump.

Tag:  #simpan #dana #penjualan #minyak #venezuela #bank #qatar #alasannya

KOMENTAR