Harga Perak Koreksi Tajam usai Trump Tahan Tarif Mineral Kritis
— Harga perak turun dari rekor tertingginya setelah investor mengambil untung menyusul reli tajam. Pelemahan juga dipicu keputusan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang tidak memberlakukan tarif impor mineral kritis.
Mengutip Bloomberg, harga perak sempat merosot hingga 7,3 persen pada Kamis (15/1/2026), sebelum memangkas sebagian kerugiannya.
Dalam empat sesi perdagangan sebelumnya, harga perak melonjak lebih dari 20 persen dan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran 93,75 dollar AS per ons pada Rabu (14/1/2026).
Kontrak berjangka perak di Comex New York tercatat naik 1 persen.
Trump Tahan Tarif Mineral Kritis
Presiden AS Donald Trump memutuskan tidak menerapkan tarif besar-besaran terhadap impor mineral kritis, termasuk perak dan platinum. Ia menyatakan akan menempuh jalur negosiasi bilateral dan mengemukakan kemungkinan penerapan batas bawah harga.
Keputusan tersebut diambil setelah proses peninjauan selama berbulan-bulan terkait potensi ancaman pengiriman mineral asing terhadap keamanan nasional AS.
Kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan penerapan tarif sebelumnya membuat sebagian pasokan, termasuk perak, tertahan di gudang-gudang AS. Kondisi itu memicu tekanan pasokan global pada tahun lalu dan terus menopang harga hingga 2026.
Pendekatan Lebih Selektif
Keputusan Trump dinilai menunjukkan pendekatan yang lebih selektif dalam kebijakan perdagangan.
“Keputusan ini menunjukkan bahwa pemerintahan akan mengambil pendekatan yang lebih terukur dalam pengambilan keputusan ke depan,” ujar Daniel Ghali, senior commodity strategist di TD Securities, dalam catatannya.
Menurut Ghali, langkah tersebut secara signifikan meredakan kekhawatiran terhadap kebijakan tarif menyeluruh yang berpotensi berdampak pada batang logam fisik yang menjadi dasar harga acuan logam mulia.
Stok Perak di Gudang AS Meningkat
Saat ini, sekitar 434 juta ons perak tersimpan di gudang-gudang yang terhubung dengan bursa berjangka Comex di New York. Jumlah itu sekitar 100 juta ons lebih tinggi dibandingkan setahun lalu, ketika gangguan perdagangan akibat isu tarif meningkat.
Meski persediaan tersebut berpotensi meredakan ketatnya pasokan di pasar lain, pergerakan perak keluar dari AS dinilai tidak akan mudah.
“Masih akan ada kekakuan dalam pergerakan perak keluar dari AS,” kata analis StoneX Group Inc, Rhona O’Connell. Ia menambahkan, perak tetap masuk dalam daftar mineral kritis yang berpotensi menjadi sasaran kebijakan perdagangan di masa depan.
Perak Ungguli Emas pada 2025
Sepanjang tahun lalu, perak mengungguli emas dengan kenaikan hampir 150 persen. Kenaikan ini didorong peralihan investor dari emas yang dinilai semakin mahal ke perak.
Selain itu, perak juga diuntungkan oleh permintaan industri yang kuat, terutama dari sektor energi surya. Dalam beberapa pekan terakhir, aksi beli spekulatif di China turut memperkuat momentum kenaikan harga.
Prospek jangka menengah perak dinilai masih positif.
“Prospek jangka menengah perak tetap konstruktif, ditopang oleh defisit pasokan, konsumsi industri, serta limpahan permintaan dari emas,” ujar Christopher Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Group.
Namun, ia mengingatkan bahwa laju kenaikan harga yang sangat cepat belakangan ini memerlukan kewaspadaan dalam jangka pendek.
Volatilitas Tinggi Tekan Pasar
Harga emas dan perak turut terdorong oleh lonjakan minat terhadap komoditas secara luas pekan ini, yang juga membawa timah dan tembaga ke level tertinggi.
Tekanan baru pemerintahan Trump terhadap Federal Reserve serta kembali munculnya sentimen “sell America” ikut menopang harga.
Di sisi lain, likuiditas yang tipis dan lonjakan permintaan investor membuat perak rentan terhadap pergerakan harga yang tajam. Kondisi ini menekan batas risiko para pelaku pasar.
“Banyak pergerakan harga yang terlihat di layar perdagangan lebih mencerminkan arus paksa, dinamika margin, lindung nilai opsi, dan penutupan posisi short, bukan penemuan harga berbasis permintaan dan pasokan riil,” tulis Ole Hansen, head of commodity strategy di Saxo Bank AS, dalam unggahan media sosialnya.
Ia menilai, dalam kondisi tersebut, level teknikal menjadi kurang andal dan pergerakan harga jangka pendek kerap didominasi oleh volatilitas.
Pada penutupan perdagangan di New York, harga perak turun 0,8 persen ke level 92,4225 dollar AS per ons. Harga emas melemah 0,2 persen. Platinum menguat, sementara paladium relatif tidak berubah. Bloomberg Dollar Spot Index tercatat naik 0,1 persen.
Tag: #harga #perak #koreksi #tajam #usai #trump #tahan #tarif #mineral #kritis