50 Hari Usai Banjir Bandang, Pasar Kuala Simpang Aceh Tamiang Mulai Berdenyut Lemah...
Korban banjir bandang tengah membersihkan halaman toko di Pasar Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh 50 hari setelah diterjang banjir bandang, Rabu (14/1/2026).(KOMPAS.com/SYAKIRUN NI'AM)
06:44
15 Januari 2026

50 Hari Usai Banjir Bandang, Pasar Kuala Simpang Aceh Tamiang Mulai Berdenyut Lemah...

Deretan toko di Pasar Kuala Simpang, Aceh Tamiang tampak mulai berdenyut meski masih lemah setelah lebih dari 50 hari diterjang banjir bandang pada Rabu (14/1/2026).

Hari sudah terik saat kami melintas dalam perjalanan panjang Medan-Lhokseumawe, puluhan pedagang pasar itu sibuk mencari-cari barang dagangan yang masih bisa diselamatkan.

Beberapa orang duduk menggosok barang dagangan mereka dari lumpur sementara tujuh toko mereka belum sepenuhnya terbuka.

Nadi di sepanjang jalan Kuala Simpang maupun Jalan Medan-Aceh memang telah berdenyut setelah diterjang banjir hebat.

Namun tempat pusat perekonomian warga itu masih tampak berantakan: tumpukan lumpur bercampur sampah di tepian jalan, dinding pertokoan gelap bekas tertimpa lumpur berhari-hari.

Orang-orang pasar sibuk tetapi bukan berdagang. Mereka menyemprotkan air bertekanan tinggi, mengupas lumpur yang lengket di tempat mereka mencari nafkah.

Sebagian mengenakan sepatu boot, terpekur memandangi lorong di pintu lipat toko meraka yang nyaris sepenuhnya ditutup dan kotor karena lumpur.

Sementara tepian jalan berlumpur, debu pekat beterbangan saat mobil kami melintas. Pengendara motor melindungi organ pernapasannya menggunakan masker.

Beberapa kilometer dari Pasar Kuala Simpang, kami singgah di rumah pengungsian Muhammad Yani.

Warga Terban, Karang Baru, Aceh Tamiang itu menyewa rumah yang sudah kosong selama 15 tahun di dataran yang lebih tinggi.

Yani menjelaskan, kondisi Pasar Kuala Simpang sudah jauh lebih membaik. Sebelum pertokoan itu bisa dibuka, lumpur menutup jalanan setinggi lutut pria dewasa.

"Instruksi Pak Bupati (Pasar Kuala Simpang) itu kan pusat ekonomi sama jalan utama," kata Yani.

Setelah lumpur di jalanan Kuala Simpang dikeruk, para pedagang baru bisa mendorong lumpur dan kotoran dari dalam toko mereka keluar.

"Kalau tidak, dia tidak tahu membuangnya ke mana," tutur Yani.

Tenda pengungsi masih berdiri di Aceh Tamiang 50 hari usai daerah tersebut diterjang banjir bandang, Rabu (14/1/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni’am Tenda pengungsi masih berdiri di Aceh Tamiang 50 hari usai daerah tersebut diterjang banjir bandang, Rabu (14/1/2026).

Baru Sawit yang Mulai Pulih

Menurut Yani, hampir seluruh sektor perekonomian di Kuala Simpang belum kembali pulih.

Perkebunan hortikultura tidak begitu banyak di sekitar tempat tinggal Yani, sementara pasar belum berdenyut normal.

Yani menuturkan, baru sektor perkebunan sawit milik perusahaan maupun perkebunan masyarakat yang mulai beraktivitas normal.

Meskipun kawasan perkebunan sempat terendam banjir, tetapi tandan-tandan buah sawit masih bisa dipanen.

"Lahan perkebunan (sawit) masyarakat itu kategorinya pulih lah. Walaupun tidak utuh, masih banyak juga lumpur-lumpur di dalamnya," ujar Yani.

"Kalau (sektor) yang lain kayaknya belum pulih menurut saya," lanjut Yani.

Dalam perjalanan, saat rombongan kami memasuki Aceh memang dijumpai truk hilir mudik dengan muatan penuh tandan-tandan sawit.

Beberapa cerobong yang menjulang di antara pucuk-pucuk perkebunan sawit juga mengepul, melepaskan asap hitam ke udara.

Sementara itu, banyak masyarakat Aceh yang masih tinggal di tenda pengungsian.

Berbahan terpal dan alas seadanya, hunian darurat itu berjajar di tepian jalan, di depan masjid, dan halaman markas militer, ditimpa debu lumpur kering dari jalanan yang digilas kendaraan.

Anak-anak berhamburan di tepian jalan, bermain dan menyantap jajanan di sebungkus plastik.

Aceh Tamiang memang membaik, tetapi belum pulih.

Kawasan Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun Bpi Danantara untuk korban banjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (14/1/2026).KOMPAS.com/SYAKIRUN NI'AM Kawasan Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun Bpi Danantara untuk korban banjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (14/1/2026).

Mendagri Minta Warga Dapat BLT

Persoalan pasar itu menjadi perhatian Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dalam rapat koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pemulihan Bencana yang dibentuk pemerintah bersama pimpinan DPR RI, Sabtu (10/1/2026).

Dalam rapat itu, Tito mengusulkan agar korban terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera masuk dalam daftar penerima bantuan sosial (Bansos) Kementerian Sosial.

Ia menyarankan, bantuan sosial itu disalurkan dalam bentuk yang tunai atau Bantuan Langsung Tunai (BLT).

"Untuk memperkuat daya beli. Kenapa? Ini nanti ada hubungannya dengan ekonomi," ujar Tito.

Menurut Tito, Menteri Perdagangan Budi Samtoso dan Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman telah terjun ke lapangan untuk menghidupkan kembali pasar-pasar serta warung di Sumatera pasca banjir bandang.

Namun, meskipun telah beroperasi hanya sedikit masyarakat yang datang untuk berbelanja.

"Tetapi yang belinya seperti sebelah kanan itu, kami datang langsung ke lapangan bertiga dengan Pak Menkes, Menteri UMKM, yang belinya dari pagi cuma dua orang, Pak. Akhirnya busuk, kira-kira begitu," tutur Tito.

Dengan BLT dari pemerintah, Tito berharap korban bencana seperti di Aceh memiliki daya beli dan membelanjakan uangnya ke pasar.

Skema ini diharapkan bisa membuat ekonomi di lokasi terdampak bisa kembali hidup.

"Kalau mereka diberikan bantuan BLT, itu otomatis mereka punya daya beli, dan ini akan terjadi putaran uang," ujar Tito.

Setelah selesai bercakap dengan Yani, perjalanan kami berlanjut menggilas aspal ratusan kilometer ke Kota Lhokseumawe.

Sepanjang jalan, kecuali dataran yang cukup tinggi, kami mendapati pemandangan yang mirip: perkampungan masih berantakan, tenda-tenda pengungsian, dan harapan pulihnya kehidupan.

Tag:  #hari #usai #banjir #bandang #pasar #kuala #simpang #aceh #tamiang #mulai #berdenyut #lemah

KOMENTAR