Harga Emas Galeri 24 Sentuh Rekor Rp 2,69 Juta, Ini Penopangnya
— Pergerakan harga emas pada awal 2026 kembali menyita perhatian pelaku pasar.
Pada Rabu (14/1/2026), harga emas di sejumlah platform penjualan dalam negeri mencatatkan rekor tertinggi, termasuk emas batangan Galeri 24 yang diperdagangkan di level Rp 2.692.000 per gram.
Level harga tersebut menandai titik tertinggi sepanjang sejarah perdagangan emas ritel di Indonesia.
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.
Lonjakan harga ini terjadi saat Januari 2026 belum genap berjalan satu bulan, namun volatilitas di pasar keuangan global sudah cukup terasa.
Kenaikan harga emas yang tajam ini memunculkan kembali minat masyarakat terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Pada saat yang sama, muncul pula pertanyaan di kalangan investor dan masyarakat umum mengenai faktor-faktor yang mendorong lonjakan harga hingga menembus rekor baru.
Pergerakan harga emas di awal 2026
Harga emas domestik bergerak seiring dengan dinamika harga emas global dan nilai tukar rupiah. Memasuki pekan kedua Januari 2026, tren kenaikan emas terpantau konsisten di berbagai kanal penjualan emas fisik.
Di Galeri 24, harga emas batangan pada 14 Januari 2026 tercatat Rp 2.692.000 per gram. Angka ini mencerminkan kenaikan signifikan dibandingkan posisi harga pada akhir 2025.
Kenaikan tersebut tidak hanya terjadi pada satu ukuran, tetapi merata di seluruh varian berat emas yang diperdagangkan.
Kondisi ini membuat emas kembali menjadi topik utama di pasar keuangan, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi awal tahun.
Ilustrasi emas batangan
Ketidakpastian global dorong permintaan safe haven
Salah satu faktor utama yang kerap dikaitkan dengan lonjakan harga emas adalah meningkatnya ketidakpastian global.
Sejumlah isu geopolitik internasional masih berlangsung hingga awal 2026.
Konflik antara Rusia dan Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Di sisi lain, muncul dinamika baru yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela, yang menambah ketegangan geopolitik global.
Situasi ini mendorong pelaku pasar untuk bersikap lebih berhati-hati. Dalam kondisi ketidakpastian, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman atau safe haven.
Emas secara historis menjadi salah satu pilihan utama dalam kategori tersebut.
Peningkatan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai berdampak langsung pada harga. Ketika permintaan naik sementara pasokan emas fisik relatif terbatas, tekanan kenaikan harga menjadi sulit dihindari.
Respons pasar terhadap risiko global
Dalam konteks ekonomi global, emas sering dipandang sebagai aset yang mampu mempertahankan nilai ketika pasar saham, obligasi, atau mata uang mengalami tekanan.
Oleh karena itu, setiap eskalasi risiko geopolitik umumnya diikuti oleh peningkatan minat terhadap emas.
Awal 2026 memperlihatkan pola serupa. Ketidakpastian arah kebijakan ekonomi negara-negara besar, ditambah dengan konflik geopolitik yang berlarut-larut, menciptakan sentimen risk-off di pasar keuangan.
Sentimen tersebut tercermin dari meningkatnya transaksi emas, baik di pasar global maupun ritel domestik. Kondisi inilah yang menjadi salah satu latar belakang mengapa harga emas mampu mencetak rekor baru dalam waktu relatif singkat.
Ilustrasi emas batangan Galeri 24 Pegadaian. Simak update harga emas Antam, UBS, dan Galeri24 hari ini.
Bank sentral agresif menambah cadangan emas
Faktor lain yang turut memengaruhi lonjakan harga emas adalah kebijakan bank sentral di berbagai negara. Sepanjang 2025, sejumlah bank sentral tercatat aktif menambah cadangan emas mereka.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Dengan meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisa, bank sentral memiliki instrumen tambahan untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik jika terjadi gejolak di pasar keuangan internasional.
Selain itu, diversifikasi cadangan devisa dari mata uang asing ke emas juga dipandang sebagai langkah mitigasi risiko nilai tukar.
Ketika fluktuasi mata uang meningkat, emas kerap dijadikan aset penyeimbang karena nilainya tidak bergantung pada kebijakan satu negara tertentu.
Permintaan emas dari institusi besar seperti bank sentral memberikan tekanan tambahan pada sisi permintaan global.
Dalam jangka pendek, kondisi ini berkontribusi pada kenaikan harga emas di pasar internasional, yang kemudian diteruskan ke harga emas ritel di dalam negeri.
Dampak harga global terhadap pasar domestik
Harga emas di Indonesia tidak terlepas dari pergerakan harga emas dunia.
Setiap kenaikan harga emas dunia umumnya akan tercermin pada harga emas ritel, meskipun dengan penyesuaian tertentu yang dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan biaya distribusi.
Pada Januari 2026, kenaikan harga emas global terjadi bersamaan dengan dinamika nilai tukar. Kombinasi kedua faktor ini memperkuat tren kenaikan harga emas di dalam negeri.
Ilustrasi emas, emas batangan.
Bagi pelaku pasar ritel, kondisi tersebut terlihat dari penyesuaian harga harian di berbagai platform penjualan emas fisik, termasuk emas Galeri 24. Harga yang tercatat pada hari ini menjadi salah satu titik tertinggi yang pernah dicapai.
Pertimbangan masyarakat dalam membeli emas
Lonjakan harga emas memunculkan diskusi di kalangan masyarakat mengenai waktu yang tepat untuk membeli emas.
Dalam praktiknya, keputusan membeli emas sangat bergantung pada tujuan dan horizon investasi masing-masing individu.
Emas kerap dipilih untuk tujuan jangka panjang, baik sebagai penyimpan nilai maupun diversifikasi portofolio.
Dalam konteks tersebut, fluktuasi harga jangka pendek biasanya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan.
Sebagian investor memilih membeli emas menggunakan dana yang memang dialokasikan khusus untuk investasi, atau yang sering disebut sebagai “uang dingin”.
Pendekatan ini dilakukan untuk meminimalkan risiko terhadap kebutuhan keuangan sehari-hari.
Di sisi lain, lonjakan harga juga berpotensi memicu perilaku fear of missing out (FOMO), di mana keputusan pembelian dilakukan semata-mata karena khawatir tertinggal momentum.
Kondisi ini kerap menjadi perhatian dalam perencanaan keuangan pribadi.
Galeri 24 dan distribusi emas fisik
Di pasar emas fisik nasional, Galeri 24 menjadi salah satu merek yang dikenal luas. Emas batangan Galeri 24 tersedia dalam berbagai pilihan ukuran, mulai dari ukuran sangat kecil hingga batangan dengan berat besar.
Emas batangan Galeri 24 memiliki kadar kemurnian 999,9 dan mencantumkan berat hingga empat digit di belakang koma.
Ilustrasi emas, emas batangan.
Keaslian emas dapat diperiksa melalui aplikasi G24 Gold, yang menjadi bagian dari sistem verifikasi produk.
Dalam hal distribusi, Galeri 24 memiliki jaringan outlet di berbagai wilayah Indonesia. Pembelian emas dapat dilakukan secara tunai di outlet Galeri 24, sementara skema cicilan tersedia melalui jaringan PT Pegadaian.
Jaringan distribusi ini memungkinkan masyarakat mengakses emas fisik dengan berbagai skema transaksi, sesuai dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing.
Likuiditas dan buyback emas
Salah satu aspek yang kerap menjadi pertimbangan investor emas adalah likuiditas atau kemudahan menjual kembali.
Emas batangan Galeri 24 dapat diterima untuk proses jual kembali dengan kondisi tertentu, termasuk tanpa kuitansi pembelian selama emas berada dalam kondisi layak jual.
Kemudahan buyback ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh masyarakat yang memilih emas fisik sebagai instrumen penyimpanan nilai.
Likuiditas yang relatif baik memungkinkan emas dijadikan alternatif aset yang fleksibel dalam kondisi tertentu.
Dinamika pasar emas ke depan
Pergerakan harga emas pada awal 2026 menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap dinamika global.
Ketegangan geopolitik, kebijakan bank sentral, serta sentimen investor global terus menjadi faktor penentu arah harga emas.
Dengan harga yang telah mencetak rekor baru, pasar emas memasuki fase yang penuh perhatian dari pelaku pasar dan masyarakat luas.
Perkembangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh kondisi global dan respons pasar terhadap berbagai risiko yang masih berlangsung.