Rupiah Anjlok ke Level Terlemah, Sentimen Global Menekan
Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (13/1/2026) kemarin.
Pada pembukaan pasar, rupiah bergerak turun 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp 16.873 per dollar AS dari posisi sebelumnya Rp 16.855 per dollar AS.
Pelemahan rupiah berlanjut hingga penutupan. Pada perdagangan sore, rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp 16.877 per dollar AS dari sebelumnya Rp 16.855 per dollar AS.
Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.
Pada hari yang sama, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga melemah ke Rp 16.875 per dollar AS dari sebelumnya Rp 16.853 per dollar AS.
Kombinasi faktor eksternal, mulai dari sikap bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) hingga meningkatnya kehati-hatian investor, serta faktor domestik seperti sorotan terhadap fiskal dinilai sebagai penyebab rupiah melemah
Dari pembukaan hingga penutupan: rupiah melemah, Jisdor ikut turun
Kemarin, kurs rupiah melemah sejak awal perdagangan. Pergerakan di pembukaan menunjukkan rupiah turun ke level Rp 16.873 per dollar AS.
Pada penutupan perdagangan, rupiah tercatat melemah ke Rp 16.877 per dollar AS. Sejalan dengan itu, Jisdor Bank Indonesia juga melemah ke Rp 16.875 per dollar AS.
Dikutip dari Antara, Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menyebut pelemahan rupiah pada sore hari kemarin dipengaruhi faktor global, terutama menguatnya dolar AS di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
Sentimen The Fed: pernyataan “hawkish” dan ekspektasi inflasi AS
Salah satu faktor yang disorot adalah sikap The Fed. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi pernyataan hawkish pejabat The Fed terkait suku bunga.
Ilustrasi rupiah.
“Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dollar AS yang rebound merespons pernyataan hawkish pejabat The Fed William (Presiden The Fed New York John Williams) yang mengisyaratkan bahwa The Fed tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga,” ujar Lukman kepada Antara.
Lukman menautkan penguatan dollar AS dengan ekspektasi inflasi AS.
“Inflasi inti diperkirakan naik dari 2,6 persen menjadi 2,7 persen, sedangkan inflasi dasar tetap bertahan di 2,7 persen,” ungkapnya.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Lukman menyampaikan proyeksi rentang pergerakan rupiah.
“Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp 16.800 sampai Rp 16.900 per dollar AS,” ujarnya.
Mode “risk-off”: investor lebih berhati-hati, dollar AS kembali dicari
Selain sentimen suku bunga, Taufan juga menggarisbawahi perubahan selera risiko investor global. Dia menyebut penguatan dollar AS terjadi bersamaan dengan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, yang kemudian menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
“Kinerja mata uang rupiah mengalami pelemahan pada perdagangan sore ini diakibatkan oleh faktor global, terutama penguatan dolar AS di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko,” ungkap Taufan kepada Antara.
Dia juga menyinggung ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed serta imbal hasil US Treasury yang masih tinggi sebagai faktor yang mendorong pelaku pasar memegang dollar AS.
Pada awal pekan ini, Taufan menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi masih kuatnya dollar AS yang ditopang tingginya imbal hasil US Treasury dan sikap investor global yang cenderung berhati-hati.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh masih kuatnya dollar AS yang ditopang oleh tingginya imbal hasil US Treasury serta sikap investor global yang cenderung berhati-hati,” katanya.
Gejolak geopolitik ikut menambah tekanan, arus modal jadi perhatian
Ilustrasi rupiah dan dollar AS
Dalam laporan penutupan perdagangan Selasa, Taufan juga menyebut sentimen negatif datang dari peningkatan ketegangan geopolitik global yang membuat pasar cenderung menghindari risiko.
“Kondisi ini memperkuat preferensi investor terhadap aset safe haven dan menyebabkan arus modal keluar dari pasar emerging market, yang pada akhirnya membatasi ruang penguatan rupiah meskipun tekanan yang terjadi masih relatif terkendali,” kata Taufan.
Di sisi lain, ia menilai sentimen domestik cenderung netral dengan fundamental ekonomi yang masih terjaga, tetapi pelaku pasar memilih “wait and see” terhadap langkah Bank Indonesia (BI) serta perkembangan pasar keuangan global.
“Namun, pelaku pasar memilih bersikap wait and see terhadap langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan pasar keuangan global, sehingga pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih fluktuatif dan sangat dipengaruhi dinamika eksternal,” ujar dia.
Faktor domestik: sorotan pada defisit fiskal 2025 dan implikasinya
Di luar sentimen global, sebelumnya disoroti pula faktor domestik, salah satunya realisasi defisit fiskal 2025.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah saat itu dipicu realisasi anggaran negara 2025 yang menunjukkan defisit fiskal melebar.
“Defisit fiskal melebar menjadi 2,92 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), di atas perkiraan resmi sebesar 2,78 persen dari PDB,” ucap Josua kepada Antara.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi sementara defisit APBN 2025 sebesar Rp 695,1 triliun per 31 Desember 2025, melebar dari target awal dan proyeksi semester serta mendekati ambang batas defisit 3 persen.
“Intervensi” dan independensi bank sentral AS: isu yang dipantau pasar
Sebelumya, Lukman menyebut rupiah berpotensi menguat seiring pemerintahan AS membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, yang berdampak pada pergerakan indeks dollar AS.
Gubernur dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
“Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell. Ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam, sehingga rupiah berpotensi menguat,” ucap Lukman.
Namun, dia juga mengingatkan potensi volatilitas dua arah.
“Tindakan ini dianggap intervensi atas independensi bank sentral The Fed. Saat ini, reaksi pasar cukup besar, namun bisa juga hanya sesaat, rupiah bisa volatile kedua arah,” kata Lukman.
BI sebut tekanan global bikin rupiah melemah
Terkait perkembangan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) menyatakan, pergerakan mata uang global pada awal 2026, termasuk rupiah, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.
"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," ungkap Erwin G Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI dalam pernyataan resmi.
Erwin menyebut, kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp 16.860 per dollar AS kemarin. Rupiah melemah 1,04 persen secara year to date atau tahun kalender.
Meskipun demikian, imbuh dia, pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah 2,46 persen dan peso Filipina 1,04 persen.
Menurut Erwin, stabilitas rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi BI yang terus dilakukan secara berkesinambungan, melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
Ilustrasi Bank Indonesia
"Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps," terang dia.
Erwin mengungkapkan, BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.
"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," papar Erwin.
"Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Tag: #rupiah #anjlok #level #terlemah #sentimen #global #menekan