Kenapa Harga Tiket Pesawat Masih Mahal? Ini Sebabnya
– Harga tiket pesawat di Indonesia yang dinilai masih tinggi terus menjadi sorotan publik, terutama untuk rute jarak jauh seperti Jakarta–Aceh.
Pakar kebijakan publik Agus Pambagio menilai mahalnya tiket tidak bisa dilepaskan dari struktur biaya industri penerbangan nasional serta keterbatasan kebijakan subsidi.
Menurut Agus, maskapai pada dasarnya tidak bisa dipaksa menjual tiket murah jika tidak ada penugasan resmi dari pemerintah.
"Kalau dikasih penugasan pemerintah tapi tidak ada dukungan, ya maskapainya bisa bangkrut," ujar Agus di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Ia menilai, jika pemerintah ingin menjaga keterjangkauan tiket pada rute tertentu, subsidi seharusnya datang dari negara, misalnya melalui koordinasi Kementerian Sosial dengan Kementerian Perhubungan, bukan dibebankan ke maskapai.
Agus menjelaskan, saat ini tidak ada aturan yang mewajibkan maskapai memberikan subsidi secara mandiri.
Di sisi lain, kondisi keuangan maskapai juga sudah sangat terbatas.
Ia menambahkan, kebijakan tarif batas atas (TBA) awalnya dibuat untuk mencegah perang harga yang tidak sehat, khususnya agar maskapai tidak menjual tiket terlalu murah dengan mengorbankan layanan.
"Kalau sekarang dilepas ke mekanisme pasar, ya konsekuensinya harga jadi mahal. Tidak ada lagi tiket pesawat yang benar-benar murah," kata dia.
Fenomena tiket penerbangan dari luar negeri yang lebih murah dibandingkan rute domestik juga turut disoroti.
Agus mencontohkan penerbangan transit dari Australia ke Kuala Lumpur yang singgah di Jakarta. Kursi kosong pada rute Jakarta kerap dijual murah agar terisi.
"Daripada kosong, ya dijual murah. Pajak dan biaya avtur di Malaysia juga jauh lebih rendah," ujarnya.
Celah ini, menurut Agus, banyak dimanfaatkan melalui penjualan tiket lewat online travel agent (OTA).
Ilustrasi pesawat, penerbangan.
Sisi industri
Dari sisi industri, mantan Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait menjelaskan bahwa sekitar 85 persen biaya operasional penerbangan bergantung pada valuta asing, terutama dollar AS.
Hampir seluruh komponen utama, mulai dari sewa pesawat, avtur, suku cadang, asuransi, simulator pilot, hingga ban pesawat, dibeli dengan dollar karena tidak diproduksi di dalam negeri.
"Yang berbasis rupiah itu cuma sekitar 14 persen, sebagian besar untuk gaji pegawai dan biaya umum," kata Edward.
Karena itu, fluktuasi nilai tukar, inflasi, dan kondisi ekonomi makro sangat memengaruhi harga tiket pesawat.
Ia menegaskan industri penerbangan merupakan bisnis dengan margin tipis. "Untung 5 persen saja itu sudah luar biasa," ujarnya.
Edward juga meluruskan anggapan soal tiket domestik yang disebut-sebut mencapai belasan juta rupiah.
Menurut dia, angka tersebut umumnya berlaku untuk kelas bisnis yang tidak diatur tarifnya.
Sementara kelas ekonomi tetap tunduk pada tarif batas atas. "Untuk ekonomi, tidak mungkin lebih dari TBA. Yang mahal itu kelas bisnis, karena harganya berdasarkan kesepakatan pasar," jelasnya.
Agus Pambagio menambahkan, selama pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 4–5 persen, sulit berharap harga tiket pesawat bisa murah.
Menurut dia, berbagai upaya efisiensi yang dilakukan selama ini justru lebih banyak dibebankan ke pengelola bandara, bukan ke maskapai.
"Selama ekonomi kita belum kuat, jangan berharap tiket pesawat murah. Bahkan konsep low cost carrier di banyak negara sekarang juga makin sulit karena harga avtur yang tinggi," pungkas Agus.