Gara-gara Trump, IHSG Anjlok Pertama Kali di 2026 Meski Sempat Cetak Rekor Tertinggi
- Kinerja pasar saham Indonesia di awal 2026 terguncang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok untuk pertama kalinya tahun ini pada perdagangan Senin (12/1/2026) kemarin, setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada sesi awal perdagangan.
Pelemahan tajam tersebut dipicu memburuknya sentimen global, terutama terkait pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memicu kekhawatiran pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat di level 8.991,760 dan bahkan mencatatkan level tertinggi harian di 9.000,967, sekaligus menorehkan rekor all time high (ATH) baru. Namun momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama.
Menjelang penutupan perdagangan Senin atau pukul 14.39 WIB, IHSG berada di level 8.840,307, turun 96,447 poin atau 1,08 persen. Secara intraday, tekanan bahkan sempat membawa IHSG jatuh lebih dalam hingga menyentuh level terendah harian di 8.715,411 atau terkoreksi sekitar 250 poin dibandingkan level pembukaan.
IHSG akhirnya ditutup melemah 52,03 poin atau 0,58 persen ke posisi 8.884,72. Nilai transaksi tercatat tinggi, mencapai Rp 40,10 triliun dengan volume perdagangan 74,41 miliar saham. Frekuensi transaksi mencapai 5,07 juta kali.
Tekanan pun terjadi hampir di seluruh papan, dengan 435 saham melemah, 279 saham menguat, dan 97 saham stagnan.
Kapitalisasi pasar bursa menyusut ke kisaran Rp 16.150,96 triliun.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai anjloknya IHSG dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Salah satu faktor utama berasal dari rencana Trump untuk membahas opsi respons, termasuk kemungkinan operasi militer, menyusul demonstrasi di Iran.
Trump dijadwalkan bertemu dengan para pejabat senior pemerintahannya pada Selasa (13/1/2026) waktu setempat guna membahas respons terhadap situasi di Iran.
“Mengenai anjloknya IHSG, sentimen datang dari berbagai sisi, antara lain rencana Trump untuk melakukan operasi militer ke Iran,” ujar Ahmad Faris kepada Kompas.com.
Menurutnya, pelemahan IHSG yang sempat mencapai 2,39 persen secara intraday merupakan reaksi berantai dari meningkatnya ketidakpastian global tersebut.
Sentimen risk-off menguat seiring munculnya kabar opsi militer AS, sehingga memicu potensi peralihan aset secara masif dari instrumen berisiko seperti saham di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, ke aset aman seperti emas, dollar AS, dan yen Jepang.
“Sentimen risk-off global kabar mengenai opsi militer AS memicu potensi peralihan aset secara masif dari aset berisiko (risk assets) seperti saham di emerging markets (termasuk Indonesia) ke aset aman (safe havens) seperti emas, dollar AS, dan yen Jepang,” paparnya.
“Investor cenderung menarik modalnya dari pasar modal Indonesia untuk mengamankan likuiditas,” lanjut Ahmad Faris.
Dari sisi domestik, risiko pelemahan nilai tukar rupiah juga masih menjadi perhatian. Hingga Senin siang hari, rupiah berfluktuasi di sekitar Rp 16.850 per dollar AS, mencatatkan pelemahan selama tujuh sesi perdagangan beruntun dan bertahan di level terlemah sejak akhir April 2025.
Untuk diketahui, IHSG pada awal 2026 dalam tren positif dan diperkirakan tetap melanjutkan penguatan. Selama sepekan terakhir, IHSG menguat 0,13 persen ke level 8.936.
Sebelumnya juga indeks acuan pasar saham Tanah Air ini sempat kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.000 pada perdagangan Kamis (8/1/2026). Seiring penguatan tersebut, investor asing tercatat membukukan pembelian bersih (inflow) hingga sekitar Rp1,6 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, mengatakan pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi global, sentimen datang dari sikap hawkish Bank of Japan (BOJ) yang memunculkan risiko unwinding carry trade.
Sinyal kenaikan suku bunga di Jepang berpotensi mendorong penarikan likuiditas global, karena investor yang selama ini memanfaatkan pinjaman yen berbiaya murah untuk berinvestasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai memulangkan dananya.
Sentimen global lainnya berasal dari reli harga komoditas tambang dan energi. Kenaikan harga komoditas global, khususnya tembaga yang mencetak rekor tertinggi akibat meningkatnya permintaan dari sektor teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan kendaraan listrik, memberikan dorongan signifikan terhadap saham-saham sektor barang baku dan energi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara dari dalam negeri, penguatan IHSG turut didorong oleh fenomena January Effect. IHSG berhasil menembus level psikologis 9.000 secara intraday dengan menyentuh posisi 9.002,92. January Effect umumnya terjadi karena manajer investasi melakukan reinvestasi portofolio di awal tahun.
Selain itu, sentimen domestik juga diperkuat oleh derasnya arus modal asing. Bank Indonesia (BI) mencatat investor asing membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp 1,44 triliun hanya dalam pekan pertama Januari 2026. Arus masuk modal ini mencerminkan kepercayaan investor global yang masih solid terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Tag: #gara #gara #trump #ihsg #anjlok #pertama #kali #2026 #meski #sempat #cetak #rekor #tertinggi