Saham Microsoft Anjlok, Investor Khawatir Biaya Investasi AI Bengkak
Saham Microsoft merosot tajam hingga 10 persen dalam dua hari. Investor mulai cemas dengan besarnya biaya investasi teknologi kecerdasan buatan (AI).()
07:48
2 Februari 2026

Saham Microsoft Anjlok, Investor Khawatir Biaya Investasi AI Bengkak

- Saham Microsoft merosot tajam hingga 10 persen dalam dua hari berturut-turut. Dalam dua sesi perdagangan, nilai pasar Microsoft merosot sebesar 381 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.390 triliun (kurs Rp 16.773 per dollar AS). Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak Maret 2020.

Penurunan saham terjadi setelah Microsoft melaporkan laba solid pada Rabu (28/1/2026), namun investor menyoroti pertumbuhan bisnis cloud computing Azure yang stagnan dan rencana belanja modal perusahaan yang mencapai lebih dari 100 miliar dollar AS tahun ini.

Investor Kritis pada Skala Pengeluaran Besar

Dikutip dari Bloomberg, Josh Chastant, manajer portofolio di GuideStone Funds yang memiliki saham Microsoft, menilai bahwa dalam kondisi normal, hasil tersebut cukup baik.

Namun dengan skala pengeluaran besar dan harga saham yang sudah memperhitungkan hasil sempurna, perusahaan harus memenuhi ekspektasi tinggi.

Baca juga: Saham Microsoft Turun Usai Laporan Penjualan Produk AI Meleset

Di sisi lain, Meta Platforms, pesaing Microsoft, juga berencana menaikkan belanja modal hingga 87 persen pada 2026.

Meski begitu, saham Meta sempat melesat 10 persen pada Kamis, namun turun 3 persen keesokan harinya. Hal itu menunjukkan kekhawatiran investor terhadap dampak pengeluaran besar.

Fenomena ini menggambarkan tekanan besar yang dihadapi perusahaan teknologi besar (“Big Tech”) dalam menjaga keseimbangan antara pengeluaran besar dan pertumbuhan pendapatan.

Investor masih menerima belanja modal yang besar selama ada bukti pertumbuhan. Jika tidak, harga saham akan tertekan.

“Sekarang kita berada di era di mana monetisasi dari pengeluaran AI harus terlihat agar valuasi saham teknologi dapat dipertahankan,” ujar Chastant.

Baca juga: Microsoft Bakal Investasi Rp 292 Triliun untuk Infrastruktur AI India

Menanti Laporan Keuangan Alphabet dan Amazon

Pekan ini, perhatian pasar akan tertuju pada laporan keuangan Alphabet dan Amazon yang dijadwalkan keluar pada Rabu (4/2/2026) dan Kamis (5/2/2026).

Bersama Microsoft dan Meta, kedua perusahaan ini diperkirakan akan membelanjakan lebih dari 500 miliar dollar AS untuk infrastruktur komputasi AI sepanjang 2026.

Alphabet menjadi sorotan karena menjadi saham dengan performa terbaik di antara kelompok “Magnificent Seven” dalam enam bulan terakhir dengan kenaikan lebih dari 70 persen.

Keberhasilan model AI Google, Gemini, serta prosesor AI khusus diperkirakan mendongkrak pertumbuhan cloud computing.

Saham Alphabet ditutup di level tertinggi dalam hampir dua dekade pada Kamis (29/1/2026) sebelum sedikit turun pada Jumat (30/1/2026).

Baca juga: Meta dan Microsoft Incar Bisnis Perdagangan Listrik untuk Kebutuhan AI

Amazon juga berada di bawah tekanan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan setelah Amazon Web Services mencatat ekspansi tercepat hampir tiga tahun terakhir.

Peter Corey, co-founder Pave Finance, mengingatkan, “Tidak semua target pertumbuhan akan tercapai. Dalam jangka panjang, ekspektasi mungkin harus diturunkan.”

Tekanan di Sektor Teknologi Meluas

Tekanan di sektor teknologi makin nyata. Indeks yang melacak saham “Magnificent Seven” turun 1,5 persen dalam tiga bulan terakhir, sedangkan indeks S&P 500 naik 0,7 persen.

Saham Oracle yang sempat naik 97 persen sepanjang 2025 karena optimisme bisnis cloud, kini turun 50 persen sejak September 2025.

Bob Savage dari BNY menilai, “Kami khawatir beberapa perusahaan mengeluarkan banyak modal tapi hasilnya kurang maksimal. Jika hal itu terjadi, strategi harus dievaluasi ulang.”

Sentimen negatif ini telah terbentuk selama beberapa bulan. Data Barclays menunjukkan sektor teknologi menjadi yang paling sedikit diminati manajer investasi aktif pada kuartal ketiga tahun lalu.

Baca juga: Valuasi Microsoft Tembus Rp 65.492 Triliun, Terbesar Kedua Setelah Nvidia

Deutsche Bank mencatat, investor mulai mengalihkan dana dari saham teknologi ke sektor siklikal seperti material dan industri.

Hedge fund juga mencatat penjualan bersih terbesar di sektor teknologi selama dua minggu berturut-turut, menurut data Goldman Sachs.

Peter Corey menegaskan, satu-satunya cara mengubah tren negatif ini adalah dengan bukti nyata bahwa investasi besar di AI mampu menghasilkan keuntungan luar biasa.

“Sampai bukti itu datang, kita mungkin masih akan melihat beberapa kegagalan,” tutup Corey.

Tag:  #saham #microsoft #anjlok #investor #khawatir #biaya #investasi #bengkak

KOMENTAR