Pedagang Beras Keluhkan Dampak Bantuan Pangan ke Penjualan
Pedagang beras di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Nano (30), mengaku pendapatannya turun hingga 40 persen setiap kali bantuan pangan pemerintah dikucurkan.
Bantuan pangan pemerintah saat ini berupa beras 10 kilogram per bulan dan minyak goreng 2 liter. Bantuan diberikan selama dua bulan kepada penerima.
Nano mengatakan, penurunan penjualan selalu terasa setiap kali bantuan tersebut turun.
“Kalau lagi datang apa itu, bantuan pangan, bantuan pangan itu beras kan ada yang dapat banyak, yang biasanya tiap bulan beli misalkan 20 liter, setelah dapat itu paling beli 5 liter. Jadi berkurangnya banyak,” ujar Nano saat ditemui di kiosnya, Jumat (9/1/2026).
Ia menyebut, pendapatannya bisa turun hingga 40 persen. Kondisi itu terjadi hampir setiap periode penyaluran bantuan.
Nano mencontohkan, omzet hariannya yang biasanya mencapai Rp 10 juta, turun menjadi sekitar Rp 6 juta.
“Misalkan biasanya kita dapat sepuluh ribu, bisa dapat enam ribu per hari,” kata dia.
Menurut Nano, sebagian besar konsumennya merupakan ibu rumah tangga. Mereka tetap membeli beras, tetapi dalam jumlah jauh lebih sedikit.
“Emak-emak kalau dapat bansos kan banyak, ‘masih ada Mas beli buat campuran saja’ kan gitu,” ungkap Nano.
“Yang tadinya beli 20 liter paling 5 liter gitu kan ngaruh. 15 liter tidak beli,” sambung dia.
Selain bantuan pangan, Nano mengaku penjualannya juga tertekan oleh kehadiran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP.
Beras SPHP dijual dengan harga Rp 12.500 per kilogram. Harga tersebut membuat sebagian konsumen beralih ke beras yang lebih murah.
Nano menyebut, ia tidak memandang bantuan pangan sebagai kebijakan yang keliru. Ia memahami tujuan pemerintah menjaga daya beli masyarakat dan melindungi harga jual petani.
Namun, ia berharap skema bantuan untuk masyarakat miskin bisa diubah dalam bentuk uang tunai.
Bantuan tunai dinilai membuat perputaran ekonomi tetap berjalan karena masyarakat tetap berbelanja ke pedagang.
“Mending kalau bisa diganti duit gitu ka, biar berputar uangnya,” kata Nano.
Pedagang beras lainnya, Timan (45), juga merasakan dampak serupa. Penjualan di kiosnya ikut menurun setiap kali bantuan pangan dari pemerintah cair.
Timan menilai, bantuan sosial belum menyentuh akar persoalan kemiskinan.
Ia berpendapat, penyediaan lapangan kerja dalam jumlah besar akan memberi dampak ekonomi yang lebih nyata.
“Jadi kalau dikasih kerjaan kan otomatis kan ekonomi jadi berjalan gitu. Kalau dikasih bansos bantuan berupa uang tuh bukan memecahkan solusi malah bikin masalah,” ujar Timan.
Sepanjang 2025, pemerintah menyalurkan bantuan pangan selama empat bulan.
Bantuan tahap pertama disalurkan pada Juni–Juli 2025. Bantuan berupa beras 10 kilogram per bulan selama dua bulan. Program tersebut menyasar 18,27 juta penerima.
Tahap kedua dimulai Oktober 2025 dan diperpanjang hingga 31 Januari 2026. Bantuan diberikan dalam bentuk beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter per bulan selama dua bulan.
Pada periode kedua, jumlah penerima tetap sama, sebanyak 18,27 juta orang.
Tag: #pedagang #beras #keluhkan #dampak #bantuan #pangan #penjualan