Techno9 Ungkap Perkembangan Akuisisi Tambang Poh Group di Mongolia
- PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) memaparkan perkembangan terbaru rencana akuisisi aset pertambangan milik Poh Group di Mongolia. Aset tersebut dimiliki melalui Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR).
Direktur Utama NINE Nuzwan Gufron mengatakan, aset tambang PGGR masuk dalam portofolio Poh Group yang direncanakan untuk diinjeksi ke dalam Techno9 Indonesia. Skema yang disiapkan mencakup kerja sama operasi atau kepemilikan langsung, bergantung pada hasil kajian serta persetujuan pada tahap berikutnya.
“Aset ini merupakan bagian dari portofolio aset pertambangan Poh Group yang direncanakan untuk diinjeksi ke dalam PT Techno9 Indonesia Tbk,” ujar Nuzwan Gufron dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan, Senin (5/1/2026).
PGGR merupakan entitas afiliasi Poh Group yang dikendalikan oleh pemegang saham pengendali yang sama, Poh Kay Ping. Perusahaan ini tercatat memiliki 100 persen kepemilikan atas dua konsesi pertambangan di Mongolia. Aset tersebut dinilai strategis dan berpotensi memberi dampak material terhadap rencana investasi pertambangan NINE ke depan.
“Perkembangan ini juga berpotensi memberikan dampak material terhadap rencana investasi pertambangan Poh Group di Indonesia di masa mendatang, baik melalui skema Kerja Sama Operasi (Joint Operation/JO) maupun kepemilikan langsung,” lanjutnya.
Techno9 telah menandatangani opsi pembelian atas aset pertambangan Mongolia milik PGGR. Pelaksanaan opsi ini masih bergantung pada sejumlah persyaratan. Persyaratan tersebut meliputi persetujuan pemegang saham, persetujuan regulator berwenang termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia, serta penilaian independen oleh dua penilai yang disetujui, masing-masing dari Indonesia dan Australia.
Transaksi juga harus memenuhi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan dan diakhiri dengan penandatanganan dokumen transaksi yang bersifat definitif.
Seiring proses tersebut, PGGR mencatat perkembangan operasional dengan menandatangani framework agreement for mining cooperation bersama kontraktor Engineering, Procurement and Construction plus Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia. Kontraktor ini merupakan perusahaan swasta berbasis di Inner Mongolia, Tiongkok, berdiri sejak 1998, memiliki lebih dari 1.000 karyawan, serta total aset dilaporkan melebihi 500 juta dollar AS.
Kontraktor EPC+F tersebut memiliki pengalaman dalam pengelolaan tambang terbuka dan tambang bawah tanah. Pengalaman itu mencakup eksploitasi serta manajemen operasi pertambangan lintas negara.
Manajemen menyebut entitas EPC+F menyatakan kesiapan menanamkan investasi lebih dari 100 juta dollar AS. Investasi ini ditujukan untuk mendukung implementasi operasi pertambangan pada proyek-proyek PGGR dan Techno9. Kapasitas produksi tahunan diproyeksikan dapat melampaui 20 juta ton.
Realisasi investasi tersebut masih bergantung pada hasil uji tuntas serta perolehan persetujuan investasi luar negeri atau overseas direct investment dari otoritas Tiongkok. Nilai investasi akhir akan disesuaikan dengan hasil persetujuan dan pencatatan untuk masing-masing proyek.
Selain Mongolia, NINE bersama entitas terafiliasi juga mendorong pengembangan kerja sama pertambangan lintas negara. Saat ini, Techno9 sedang melakukan negosiasi lanjutan dengan sejumlah perusahaan pertambangan di Indonesia yang memiliki izin usaha pertambangan sah.
Komoditas yang dibahas mencakup emas, batu bara, timah, dan bauksit.
“Saat ini PG/PT Techno9 Indonesia Tbk sedang melakukan negosiasi lanjutan secara intensif terkait kerja sama operasi dengan beberapa perusahaan pertambangan di Indonesia yang memiliki izin usaha pertambangan yang sah, yang mencakup sumber daya seperti emas, batubara, timah, dan bauksit, dengan tujuan memperluas batas sumber daya dalam kerja sama antara para pihak,” lanjutnya.
Tag: #techno9 #ungkap #perkembangan #akuisisi #tambang #group #mongolia