Cerita Akulturasi Arab-Jawa dalam Semangkuk Gule Kacang Hijau
Food - ilustrasi gulai(DOK.SHUTTERSTOCK/DWI YULIANTO)
11:49
3 Juni 2026

Cerita Akulturasi Arab-Jawa dalam Semangkuk Gule Kacang Hijau

Bagi sebagian orang, Iduladha identik dengan sate, tongseng, atau gulai kambing. Namun bagi saya yang lahir dan besar di kawasan Surabaya, tepatnya di lingkungan Ampel yang kental dengan budaya Arab-Jawa, ada satu hidangan yang selalu menghadirkan rasa pulang: gule kacang hijau dengan roti maryam hangat.

Makanan ini mungkin tidak sepopuler gulai pada umumnya. Bahkan tidak semua orang Surabaya mengenalnya. Tetapi di kampung tempat saya tumbuh, aroma rempah gule kacang hijau hampir selalu hadir saat Iduladha datang.

Dan buat saya, hidangan itu bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita tentang keluarga, tradisi, dan akulturasi budaya yang hidup turun-temurun di Kampung Arab Ampel.

Baca juga: 6 Tips Masak Nasi Pulen dengan Butiran Terpisah Sempurna

Kampung Ampel dan Jejak Budaya Arab di Surabaya

Kawasan Ampel Surabaya | dokpriKompasiana Kawasan Ampel Surabaya | dokpri

Sejak kecil, saya tumbuh di lingkungan yang unik. Papa saya orang Jawa, sedangkan mama keturunan Arab. 

Di satu sisi, saya hidup dalam budaya Jawa yang lekat dengan tradisi guyub, bahasa halus, dan kebiasaan kenduri. Namun di sisi lain, saya juga dibesarkan dengan nuansa budaya Arab yang begitu terasa di kawasan Ampel.

Mulai dari aroma parfum khas Timur Tengah di toko-toko sekitar masjid, lantunan shalawat, hingga kuliner yang sulit ditemukan di tempat lain.

Kawasan Kampung Arab Ampel memang sudah lama dikenal sebagai titik pertemuan berbagai budaya. Banyak keturunan Arab Hadramaut bermukim di sana sejak ratusan tahun lalu dan kemudian berbaur dengan masyarakat lokal. Dari percampuran itulah lahir identitas Arab-Jawa yang unik, termasuk dalam urusan makanan.

Baca juga: Gang Nikmat, Bertahan dan Bertumbuh di Tengah Riuh Lanskap Kuliner Kota Kembang

Karena itulah, masakan di rumah kami tidak sepenuhnya Arab, tapi juga tidak sepenuhnya Jawa.

Ada sentuhan rempah Nusantara yang kuat, tetapi berpadu dengan gaya masak Timur Tengah yang kaya aroma dan bumbu.

Dan gule kacang hijau adalah salah satu contoh paling sederhana sekaligus paling hangat dari percampuran budaya itu.

Gule Kacang Hijau yang Tidak Banyak Orang Tahu

Hidangan khas Ampel Gule Kacang Hijau | dokpriKompasiana Hidangan khas Ampel Gule Kacang Hijau | dokpri

Saat pertama kali bercerita tentang gulai kacang hijau kepada teman-teman di luar Ampel, banyak yang heran.

"Kacang hijau dimasak jadi gulai?"

Pertanyaan itu sering membuat saya tersenyum.

Sebab bagi saya, hidangan ini sudah biasa sejak kecil.

Daging kambing hasil kurban dimasak bersama kacang hijau yang sudah direbus hingga empuk. Kuahnya kental, penuh rempah, dengan aroma kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan jintan yang kuat. Kadang ditambah santan agar rasanya lebih gurih dan lembut.

Yang membuatnya unik adalah perpaduan rasa gurih, hangat, dan sedikit manis alami dari kacang hijau.

Kalau orang Jawa akrab dengan gulai bercita rasa medok dan santan pekat, maka versi Arab-Jawa yang saya kenal terasa lebih kaya rempah dengan karakter Timur Tengah yang kuat.

Biasanya, hidangan ini disantap bersama roti maryam hangat.

Roti yang berlapis-lapis itu disobek kecil-kecil lalu dicelupkan ke kuah gulai. Sampai sekarang, kombinasi itu masih menjadi salah satu comfort food terbaik bagi saya.

Baca juga: Kedai Kopi di Malang Ini Tawarkan Minuman dari Kulit Kopi Cascara

Tradisi yang Selalu Menghidupkan Rumah

Yang paling saya rindukan sebenarnya bukan hanya rasanya, tetapi suasana ketika makanan itu dimasak.

Dulu saat Iduladha, rumah-rumah di kampung terasa hidup sejak pagi. Para ibu sibuk di dapur membersihkan daging, meracik bumbu, dan mengaduk kuah besar dalam panci. Aroma rempah menyebar sampai ke gang-gang sempit.

Anak-anak berlarian.

Takbir terdengar bersahutan.

Tetangga saling keluar masuk rumah.

Semua terasa hangat.

Saya tumbuh dengan melihat bagaimana makanan bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga cara merawat hubungan antarmanusia.

Ada kebiasaan berbagi masakan ke tetangga.

Ada tradisi mengantar makanan ke keluarga yang lebih tua.

Ada percakapan panjang di meja makan yang kadang lebih berkesan daripada makanannya sendiri.

Dan menariknya, semua itu terjadi lewat hidangan yang lahir dari percampuran budaya.

Baca juga: Ini Porsi dan Waktu Minum Kopi yang Tepat untuk Atasi Cemas dan Stres

Akulturasi yang Hidup Lewat Makanan

Banyak orang membicarakan akulturasi budaya dalam buku sejarah. Tetapi di Ampel, saya melihatnya langsung di meja makan.

Budaya Arab dan Jawa tidak saling menghapus. Keduanya justru saling melengkapi.

Orang-orang Arab di kawasan Ampel membawa tradisi rempah dan teknik memasak dari Timur Tengah. Sementara masyarakat lokal memberi pengaruh pada penggunaan santan, rasa yang lebih kaya, dan bahan pangan yang dekat dengan keseharian masyarakat Jawa.

Hasilnya adalah kuliner yang punya identitas sendiri.

Bukan masakan Arab murni.

Bukan pula masakan Jawa sepenuhnya.

Melainkan rasa baru yang lahir dari perjumpaan panjang antarmanusia.

Dan menurut saya, di situlah indahnya kuliner lokal.

Ia menyimpan sejarah yang tidak selalu tertulis, tetapi diwariskan dari dapur ke dapur.

Menjaga Rasa, Menjaga Cerita

Hari ini, banyak makanan modern bermunculan. Anak muda lebih akrab dengan makanan viral, dessert kekinian, atau kuliner Timur Tengah versi franchise.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun sesekali saya merasa sayang jika makanan seperti gule kacang hijau perlahan hilang hanya karena tidak cukup populer di media sosial.

Padahal di balik semangkuk gulai itu, ada cerita tentang identitas, keluarga, dan perjalanan budaya yang panjang.

Mungkin itulah alasan mengapa sampai sekarang saya masih selalu merindukan aroma gule kacang hijau saat Iduladha tiba.

Karena yang saya rindukan sebenarnya bukan hanya makanannya.

Tetapi juga rumah, masa kecil, dan kenangan tumbuh di tengah hangatnya budaya Arab-Jawa di Ampel Surabaya.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bukan Sekadar Gulai: Cerita Akulturasi Arab-Jawa dalam Semangkuk Gule Kacang Hijau"

Tag:  #cerita #akulturasi #arab #jawa #dalam #semangkuk #gule #kacang #hijau

KOMENTAR