Anggota DPR Minta Pemerintah Lindungi Petani hingga Nelayan di Tengah Melemahnya Rupiah
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Rina Sa’adah, meminta pemerintah melindungi petani hingga nelayan di tengah melemahnya nilai rupiah belakangan ini.
Menurutnya, pelemahan nilai rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku strategis, termasuk di sektor pertanian dan perikanan nasional.
“Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar pergerakan kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi dan ketahanan pangan nasional," kata Rina kepada wartawan, Rabu (3/6/2026).
Apalagi, menurutnya, sektor pertanian dan perikanan saat ini masih bergantung pada impor kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak.
Baca juga: DPR Pastikan Hati-hati dalam Membahas Revisi UU Pemilu Agar Tak Digugat ke MK
"Jika biaya impor meningkat, maka tekanan terhadap harga pangan dan biaya produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha perikanan juga akan semakin besar,” jelasnya.
Rina khawatir kenaikan biaya impor komponen tersebut bakal mencekik para pelaku usaha di tingkat bawah.
Oleh karena itu, ia mengatakan Komisi IV DPR RI mendorong pemerintah mempercepat swasembada pangan demi memutus ketergantungan terhadap pasar luar negeri.
"Langkah konkret harus segera diambil melalui penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta penyaluran subsidi yang tepat sasaran bagi petani dan nelayan," lanjutnya.
Rina juga menekankan sinergi ketat antara pemerintah pusat dan daerah sangat diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat serta menjaga pasokan pangan tetap aman.
Baca juga: Kejagung: Yayasan Mitra MBG Terafiliasi Dadan Dkk Nikmati Insentif Miliaran Rupiah Per Hari
Di kesempatan ini, Rina pun mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak lonjakan kurs dollar Amerika Serikat terhadap sektor pangan nasional.
Politisi PKB ini menjelaskan posisi rupiah dapat dianalisis secara objektif dengan membandingkan pergerakan mata uang negara tetangga di ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Jika pelemahan rupiah ternyata jauh lebih dalam dari negara lainnya, menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi faktor domestik.
“Yang perlu kita lihat bukan hanya angka kurs rupiah terhadap dollar AS, tetapi juga bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. Jika pelemahan mata uang terjadi hampir merata di kawasan, maka tekanan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal,” ujar Rina.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot semakin tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Rupiah Dekati Rp 18.000, Purbaya: Itu Ranah Bank Indonesia
Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.13 WIB, mata uang Garuda di pasar spot melemah 0,49 persen ke posisi Rp 17.926 per dollar AS.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak melemah terhadap dollar AS pada perdagangan pagi ini.
Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam.
Setelah rupiah, pelemahan terbesar terjadi pada ringgit Malaysia yang turun 0,25 persen.
Selanjutnya, baht Thailand melemah 0,09 persen, yuan China turun 0,05 persen, dan peso Filipina terkoreksi 0,02 persen.
Tag: #anggota #minta #pemerintah #lindungi #petani #hingga #nelayan #tengah #melemahnya #rupiah