Maskapai Dunia Pangkas Rute dan Naikkan Tarif, Dampak Konflik dan Krisis Avtur
- Sejumlah maskapai penerbangan global menyesuaikan operasional dengan mengurangi frekuensi penerbangan dan menaikkan harga tiket pesawat.
Hal itu menyusul lonjakan harga bahan bakar jet (avtur) yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
- Harga Tiket Pesawat AirAsia X Bakal Naik 40 Persen, Penerbangan Dikurangi
- Batik Air Malaysia Kurangi 35 Persen Penerbangan akibat Harga Avtur Naik
Langkah tersebut dilakukan untuk meredam tekanan biaya operasional yang meningkat tajam.
Sejumlah maskapai penerbangan, seperti Air India dan Air New Zealand, mengumumkan pengurangan penerbangan serta penyesuaian tarif tiket.
Kenaikan harga avtur menjadi faktor utama, mengingat bahan bakar menyumbang sekitar 20 hingga 40 persen dari total biaya operasional maskapai.
Pekan lalu, harga acuan avtur di Eropa mencapai rekor tertinggi sebesar 1.838 dollar AS (sekitar Rp 29 juta) per ton, melonjak drastis dibandingkan sebelum konflik dimulai, dilansir dari BBC, Rabu (8/4/2026).
Dampak lonjakan harga avtur terhadap industri penerbangan
Sejumlah maskapai sudah terdampak
Perang AS-Israel vs Iran picu lonjakan harga avtur, maskapai penerbangan global kurangi penerbangan dan naikkan harga tiket pesawat.
Para analis mengingatkan, kondisi ini berpotensi membuat harga tiket terus naik dan jumlah penerbangan semakin berkurang, apalagi jika konflik berlanjut.
Wilayah teluk menjadi sumber utama bahan bakar pesawat, yang menyumbang sekitar 50 persen impor Eropa.
Sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Hormuz, yang saat ini terdampak penutupan oleh Iran sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel.
Air New Zealand diperkirakan akan mengurangi penerbangan dari dan ke Auckland, Wellington, serta Christchurch.
Maskapai penerbangan ini juga menyatakan, sebagian besar penumpang yang terdampak akan dialihkan ke penerbangan lain pada hari yang sama.
“Seperti maskapai (penerbangan) global lainnya, kami juga mengalami kenaikan harga bahan bakar jet yang lebih dari dua kali lipat dari biasanya," kata juru bicara dari Air New Zealand.
Sementara itu, Air India mengubah skema biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk penerbangan domestik dari tarif tetap menjadi berbasis jarak.
Maskapai penerbangan ini juga menaikkan biaya tambahan untuk penerbangan internasional.
Perang AS-Israel vs Iran picu lonjakan harga avtur, maskapai penerbangan global kurangi penerbangan dan naikkan harga tiket pesawat.
Maskapai penerbangan di Asia juga mulai mengurangi layanan dan menyesuaikan harga tiket pesawat. China Eastern Airlines telah menaikkan biaya tambahan penerbangan domestik, sedangkan Korean Air masuk ke mode manajemen darurat.
Sementara itu, United Airlines dan Scandinavian Airlines juga memangkas penerbangan dan menaikkan tarif.
Sementara itu, Air France-KLM berencana menaikkan harga tiket jarak jauh, dan Cathay Pacific meningkatkan biaya tambahan bahan bakar.
Namun, beberapa maskapai penerbangan, seperti International Airlines Group dan easyJet, masih bisa menahan kenaikan karena telah "mengunci" harga bahan bakar sebelum konflik.
CEO Ryanair, Michael O'Leary, bahkan mengingatkan bahwa pasokan avtur bisa terganggu mulai Mei 2026 jika konflik terus berlanjut.
- Filipina Siapkan Skenario Setop Penerbangan Akibat Kelangkaan BBM
- Maskapai Penerbangan di Taiwan Bakal Naikkan Biaya Tambahan Bahan Bakar hingga 157 Persen
Semakin tertekan
Perang AS-Israel vs Iran picu lonjakan harga avtur, maskapai penerbangan global kurangi penerbangan dan naikkan harga tiket pesawat.
Analis dari perusahaan analisis pasar energi Vortexa, Mick Strautmann, menuturkan, kondisi pasar saat ini semakin tertekan.
"Dimulai dari pasar yang sudah ketat, kurangnya ekspor bahan bakar jet dari Timur Tengah memperburuk situasi," tutur Strautmann.
"Dengan ekspor global yang berada di titik terendah dalam empat tahun, permintaan perjalanan udara saat ini kemungkinan tidak akan berkelanjutan jika gangguan terus terjadi sehingga maskapai harus menaikkan harga dan mengurangi penerbangan," tambah dia.
Menurutnya, situasi ini akan semakin mungkin terjadi menjelang musim liburan musim panas di berbagai belahan dunia.
Meski demikian, analis Kpler, George Shaw menilai krisis ini belum mencapai tahap kekurangan pasokan besar.
“Eropa belum mendekati kehabisan stok karena bahan bakar juga diproduksi secara domestik dan April masih relatif aman,” ujar dia.
Namun, ia mengingatkan adanya potensi “masalah lokal” akibat penurunan impor yang mulai terasa.
Dengan kondisi ini, industri penerbangan global diperkirakan masih akan menghadapi tekanan besar dalam beberapa bulan ke depan.
- Harga Tiket Pesawat Naik hingga 13 Persen, Imbas Harga Avtur Melonjak
- Harga Tiket Pesawat TransNusa Bakal Naik 10–14 Persen, Dipicu Harga Avtur
Tag: #maskapai #dunia #pangkas #rute #naikkan #tarif #dampak #konflik #krisis #avtur