Benteng Amsterdam di Maluku, Saksi Sejarah Rempah yang Lebih Mahal dari Emas
Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.(Dok. ANTARA/Syamsul Rizal)
14:42
19 Mei 2026

Benteng Amsterdam di Maluku, Saksi Sejarah Rempah yang Lebih Mahal dari Emas

Bila berada di Negeri Hila di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, sempatkanlah ke Benteng Amsterdam untuk mengetahui sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Nusantara. 

Untuk mencapai tempat ini, wisatawan perlu menempuh perjalanan darat selama sekitar satu jam dari Kota Ambon.

Jalanan yang akan dilalui cukup kecil dan berliku, suasana kota berangsur-angsur berubah menjadi deretan rumah di pedesaan dan sejumlah warga berjualan ikan di pinggir jalan, dilansir dari Antara, Selasa (19/5/2026).

Mengenal Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku

Terbuka untuk kunjungan wisata

Benteng Amsterdam di Desa Wisata Negeri Hila, Maluku. Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.WONDERFUL INDONESIA Benteng Amsterdam di Desa Wisata Negeri Hila, Maluku. Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.

Benteng yang termasuk wilayah Kecamatan Leihitu ini biasanya ramai oleh pengunjung pada siang hari.

Banyak rombongan dosen datang untuk melakukan perjalanan wisata sejarah. Mereka duduk rapi sembari bercengkerama beratapkan tenda biru.

Mereka melihat pertunjukan bambu gila di depan Benteng Amsterdam. Ada pula yang mencba permainan tersebut dan bergerak ke sana-kemari. Keramaian seperti ini sudah menjadi hal biasa di Benteng Amsterdam.

"Buat masyarakat dan siapa pun dia yang mau datang ke sini bikin acara di sini, itu kami siap," kata polisi khusus cagar budaya setempat, Damir Lating.

Menurut Damir, tempat wisata ini sering menjadi lokasi acara institusi, misalnya acara perpisahan pejabat dan sosialisasi.

Awal mula Benteng Amsterdam

Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.

Sebagai informasi, sebelum bangsa Eropa mendarat di Pulau Maluku, di wilayah ini sudah ada kerjaan Islam bernama Kerajaan Hitu yang pusatnya di Negeri Hila.

Adapun Benteng Amsterdam sudah berdiri sejak tahun 1512. Bangsa Portugis yang membangun benteng ini pertama kali, dipimpin Fransisco Serrao. Awalnya benteng ini hanya berfungsi sebagai gudang rempah bangsa Portugis.

Hampir satu abad kemudian, giliran bangsa Belanda masuk ke Pulau Maluku tahun 1605. Kerajaan Hitu dan masyarakat setempat membantu bangsa Belanda untuk mengusir bangsa Portugis. 

Upaya tersebut pun sukses dan gudang rempah-rempah ini kemudian beralih fungsi menjadi kubu pertahanan. Belanda memberi nama tempat ini Benteng Amsterdam.

Nilai rempah yang melebihi emas

Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas. Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.

Mengapa masyarakat setempat membantu Belanda untuk mengusir Portugis?

Pada masa itu, Portugis menerapkan sistem dagang monopoli dan mengumpulkan rempah-rempah di Maluku secara paksa. Semua orang wajib menjual hasil bumi berupa pala dan cengkih kepada Portugis.

"Tidak ada lagi negara lain yang punya persediaan rempah yang lebih banyak seperti dia," ucap Damir.

Menurut Portugis, nilai rempah-rempah saat itu sangat tinggi, bahkan bisa melampaui harga emas di pasar dunia.

Satu kilogram pala saat itu lebih mahal dari satu gram emas. Oleh karena itu, Kerajaan Hitu ingin menyelamatkan cengkih dan pala mereka. 

Intip arsitektur Benteng Amsterdam

Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.Dok. ANTARA/Syamsul Rizal Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.

Bangunan Benteng Amsterdam terdiri dari tiga lantai. Pada zaman Belanda, lantai pertama berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan. 

Bentuk benteng pun unik karena menyerupai segi empat, dengan atap berbentuk limas. Bangunan ini masih terlihat kokoh karena sudah dipugar pada tahun 1991, berdasarkan acuan gambar dari buku Beschreiving van Ambonian karya dari Francois Valantyn.

Struktur bangunan dan tembok asli tetap dipertahankan sejak ratusan tahun lalu. Namun, bagian kayu dan tegel lantai hampir semua sudah diganti. 

Bila memasuki benteng, pengunjung bisa melihat ruangan kecil di sisi kiri. Pada masa penjajahan Belanda, ruangan ini menjadi tempat menyimpan mesiu.

Setelah Belanda pergi dan tentara Jepang berganti menguasai tempat ini, ruangan kecil itu berfungsi sebagai penjara. 

Jejak peneliti Rumphius

Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.Dok. ANTARA/Syamsul Rizal Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku, menyimpan sisi lain dari sejarah rempah-rempah di Indonesia. Bahkan, nilai pala saat itu melebihi emas.

Dinding di lantai dua penuh dengan deretan pigura bergambar aneka jenis ikan hasil penelitian dari ahli botani Jerman, Georg Eberhard Rumphius.

Rumphius bekerja untuk VOC di Ambon dan mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk meneliti tanaman di Ambon.

Hasil penelitiannya di Maluku mencatat semua jenis ikan di perairan Maluku yang berjumlah sekitar 600 jenis.

Rumphius juga menulis tentang peristiwa tsunami pertama di Maluku tahun 1674. Namun, alih-alih menulis kata tsunami dalam catatannya, Rumphius menggunakan istilah bahaya Seram karena pusat gempa berasal dari Pulau Seram.

Rumphius menjadi saksi bencana alam yang menewaskan sekitar 2.000 orang. Sebanyak 1.200 korban jiwa berasal dari Negeri Hila.

Tag:  #benteng #amsterdam #maluku #saksi #sejarah #rempah #yang #lebih #mahal #dari #emas

KOMENTAR