Survei: Gen Z Hanya Bertahan 1,8 Tahun di Satu Pekerjaan
Gen Z kembali menjadi sorotan dalam dunia kerja. Kali ini, perhatian tertuju pada durasi mereka bertahan di sebuah perusahaan yang dinilai semakin pendek dibanding generasi sebelumnya.
Dikutip dari Your Tango, Selasa (19/5/2026), survei terbaru yang dilakukan Gateway Commercial Finance terhadap lebih dari 1.000 responden, terdiri dari pekerja Gen Z dan manajer perekrutan, menemukan rata-rata pekerja Gen Z hanya bertahan sekitar 1,8 tahun di satu pekerjaan sebelum memutuskan pindah.
Temuan tersebut memperkuat stereotip Gen Z sebagai “job hopper” atau generasi yang mudah berpindah pekerjaan.
Baca juga: Survei: Gen Z dan Milenial Ingin Tempat Kerja Fleksibel dan Bermakna
Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.
Namun, di balik fenomena itu, muncul perubahan cara pandang anak muda terhadap karier, loyalitas, dan makna bekerja.
Gen Z memiliki batas toleransi yang lebih tegas terhadap lingkungan kerja yang dianggap tidak sehat, tidak menghargai pekerja, atau tidak memberikan ruang berkembang.
Mereka ingin bekerja, tetapi tidak ingin terlalu dieksploitasi, dibayar rendah, dan tidak dihargai.
Hampir setengah Gen Z ingin resign dalam setahun
Survei Gateway Commercial Finance menunjukkan, sebanyak 47 persen pekerja Gen Z berencana meninggalkan pekerjaannya dalam waktu kurang dari satu tahun. Bahkan, separuh responden mengaku siap resign kapan saja apabila menemukan peluang yang lebih baik.
Baca juga: Survei Deloitte: Hampir 30 Persen Gen Z Punya Pekerjaan Sampingan
Data itu menunjukkan loyalitas kerja kini tidak lagi dipandang sama seperti generasi sebelumnya yang identik dengan karier panjang di satu perusahaan.
Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.
Dalam laporan tersebut disebutkan, hanya seperempat pekerja Gen Z yang merasa berkomitmen untuk bertahan jangka panjang di perusahaan mereka saat ini. Kurang dari separuh responden juga percaya, loyalitas kepada satu perusahaan masih memberikan keuntungan di pasar kerja modern.
Fenomena ini muncul di tengah perubahan besar dunia kerja pascapandemi, ketika fleksibilitas, kesehatan mental, dan keseimbangan hidup menjadi faktor yang semakin diprioritaskan pekerja muda.
Profesor sosiologi University of Illinois Kevin Leicht mengatakan, perubahan pola pikir tersebut sebenarnya sudah terbentuk selama bertahun-tahun.
Baca juga: Survei Deloitte: AI Jadi “Teman Kerja” Baru Milenial dan Gen Z
“Selama bertahun-tahun kita diberi tahu bahwa karier stabil sudah menjadi masa lalu,” kata Leicht, dikutip dari New York Post.
“Era bekerja lebih dari 30 tahun di perusahaan yang sama sudah berakhir," tutur dia.
Menurut dia, Gen Z tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, perubahan cepat industri, dan meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja. Hal itu membuat mereka melihat pekerjaan secara lebih transaksional dibanding generasi sebelumnya.
Gen Z utamakan nilai dan kesehatan mental
Berbeda dengan generasi terdahulu yang kerap mengutamakan stabilitas, Gen Z dinilai lebih selektif terhadap budaya kerja dan nilai perusahaan.
Baca juga: Deloitte: Gen Z dan Milenial Menunda Masa Depan karena Tekanan Keuangan
Banyak pekerja muda tidak bersedia bertahan di lingkungan kerja yang bertentangan dengan prinsip pribadi mereka.
Kondisi tersebut ikut memicu tren resign cepat di kalangan pekerja muda, terutama ketika perusahaan dianggap tidak memberikan dukungan terhadap kesehatan mental maupun work-life balance.
Laporan lain yang dikutip Glamour juga menunjukkan Gen Z lebih memprioritaskan kepuasan kerja, keseimbangan hidup, dan kesejahteraan pribadi dibanding loyalitas tradisional terhadap perusahaan.
Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.
Bagi Gen Z, pekerjaan tidak lagi dipandang sebagai identitas utama hidup, melainkan salah satu aspek yang harus tetap seimbang dengan kehidupan personal.
Baca juga: Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang
Perubahan pola pikir itu juga terlihat dari meningkatnya tren “quiet quitting”, “resenteeism”, hingga keengganan bekerja berlebihan tanpa kompensasi yang jelas.
Kesempatan berkembang jadi faktor penting
Meski kerap disebut mudah resign, sejumlah survei menunjukkan alasan utama Gen Z berpindah kerja bukan semata soal gaji.
Laporan Youngstown State University menemukan sebanyak 46 persen pekerja Gen Z bersedia keluar dari pekerjaannya demi memperoleh peluang pengembangan karier yang lebih baik.
Dalam laporan tersebut, pekerja muda disebut mencari perusahaan yang menyediakan pelatihan, jenjang karier jelas, pendidikan lanjutan, hingga fleksibilitas pengembangan kemampuan.
Baca juga: Strategi Budgeting Ala Gen Z: Kelola Uang dengan Kantong Digital
“Ketika kesempatan berkembang terbatas, pekerja mulai mempertimbangkan untuk pergi,” demikian isi laporan tersebut.
Pete Freeman dari Youngstown State University mengatakan, banyak pekerja Gen Z sudah memikirkan strategi keluar apabila perusahaan tidak menyediakan ruang pertumbuhan.
“46 persen Gen Z bersedia resign demi kemajuan karier yang lebih baik,” ujar Freeman.
Menariknya, faktor gaji disebut bukan alasan utama dalam keputusan tersebut.
Baca juga: Mayoritas Penduduk RI Gen Z dan Milenial, Bonus Demografi Belum Berakhir
Fenomena itu memperlihatkan bahwa bagi Gen Z, pengalaman kerja tidak lagi sekadar alat mencari penghasilan, tetapi juga sarana pengembangan diri dan peningkatan kompetensi.
Loyalitas tidak hilang, tapi berubah bentuk
Ilustrasi Gen Z
Meski identik dengan budaya pindah kerja, sejumlah riset menunjukkan Gen Z sebenarnya tetap menginginkan stabilitas, hanya dengan definisi yang berbeda.
Studi Admiral yang dikutip The Times menemukan sebanyak 75 persen Gen Z menginginkan pekerjaan yang aman dan stabil. Bahkan, rata-rata mereka berharap bisa bertahan hingga tujuh tahun bersama satu perusahaan.
Namun, loyalitas tersebut tidak lagi diartikan sebagai bertahan di posisi yang sama sepanjang karier.
Baca juga: Paradoks Karier: Gen Z Tak Lagi Mengejar Tahta Organisasi
Gen Z disebut lebih tertarik pada konsep “employer for life” dibanding “job for life”, yakni tetap berada di perusahaan yang sama tetapi dengan kesempatan berpindah peran, meningkatkan keterampilan, dan mencoba tantangan baru.
Artinya, pekerja muda tetap menginginkan hubungan jangka panjang dengan perusahaan, asalkan perusahaan mampu menyediakan fleksibilitas dan peluang berkembang.
Perusahaan mulai kesulitan menahan talenta muda
Perubahan pola kerja Gen Z membuat banyak perusahaan mulai memikirkan ulang strategi retensi karyawan.
Survei Gateway Commercial Finance menunjukkan 36 persen manajer perekrutan mengaku pernah menghindari kandidat Gen Z karena khawatir terhadap kecenderungan job hopping.
Baca juga: Gen Z dalam Persimpangan Tekanan Ekonomi, Kedewasaan Finansial, dan Kehadiran Keluarga
Selain itu, seperempat perekrut menganggap riwayat kerja singkat sebagai tanda bahaya dalam proses seleksi.
Namun, sejumlah pakar menilai pendekatan perusahaan juga perlu berubah apabila ingin mempertahankan pekerja muda lebih lama.
Penelitian mengenai retensi pekerja milenial dan Gen Z yang dipublikasikan di ResearchGate menunjukkan keterikatan emosional menjadi faktor paling dominan dalam meningkatkan loyalitas karyawan muda.
Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.
Penelitian tersebut menyebutkan program keterlibatan karyawan, komunikasi internal yang interaktif, dan pengembangan personal dapat meningkatkan keinginan pekerja muda untuk bertahan lebih lama di perusahaan.
Baca juga: Kala Purbaya Soroti Investor Gen Z dan Yakin Pasar Modal RI Bakal Cerah
Selain itu, kepuasan kerja dan rasa memiliki terhadap organisasi juga disebut berpengaruh besar terhadap niat pekerja untuk tetap bertahan.
Dunia kerja sedang berubah
Fenomena pendeknya masa kerja Gen Z memperlihatkan perubahan besar dalam relasi antara perusahaan dan pekerja.
Apabila sebelumnya loyalitas sering diukur dari lamanya seseorang bertahan di satu kantor, kini pekerja muda lebih menilai hubungan kerja berdasarkan kualitas pengalaman, peluang berkembang, dan keseimbangan hidup yang ditawarkan perusahaan.
Perubahan itu juga terjadi ketika dunia kerja semakin fleksibel dengan berkembangnya sistem hybrid, remote working, hingga ekonomi gig.
Baca juga: Gen Z, Investasi, dan Ilusi Pertumbuhan di Tengah Ekonomi Survival Mode
Majalah TIME dalam laporannya menyebut banyak pekerja Gen Z tumbuh dalam era kerja jarak jauh selama pandemi sehingga memiliki ekspektasi berbeda terhadap lingkungan kerja tradisional.
Sebagian dari mereka menginginkan fleksibilitas lebih tinggi, sementara sebagian lain tetap mencari interaksi sosial dan budaya kantor yang sehat.
Di tengah perubahan tersebut, perusahaan dituntut bukan hanya menawarkan gaji kompetitif, tetapi juga pengalaman kerja yang dinilai relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.