WFH ASN Tak Selalu Bikin Tenang, Sosiolog Ungkap Risiko yang Sering Terabaikan
Mimpi bekerja dari rumah tanpa macet dan tekanan perjalanan akhirnya bisa dirasakan sebagian aparatur sipil negara (ASN).
Namun, WFH juga dapat menghadirkan persoalan baru ketika batas antara pekerjaan, rumah, dan waktu istirahat menjadi semakin kabur.
Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi ASN tidak hanya bisa dilihat dari sisi efisiensi kerja, tetapi juga dari dampaknya terhadap keseharian pekerja.
Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Nia Elvina, M.Si, mengatakan bahwa kebijakan WFH sebaiknya dipahami sebagai bagian dari perubahan cara pandang terhadap waktu kerja.
“Saya kira kebijakan WFH ini sebaiknya dipahami sebagai langkah awal kebijakan 4 hari atau 5 hari kerja,” kata Nia saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Menurut Nia, waktu libur dan waktu kerja bukan dua hal yang bisa dipisahkan begitu saja dari produktivitas.
“Banyak kajian menunjukkan waktu libur berkaitan erat dengan produktifitas kerja,” ujar dia.
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Sosiolog UI: Jangan Sekadar Pindah Kerja ke Rumah
WFH dan harapan kerja yang lebih sehat
Bagi sebagian pekerja, WFH dapat memberi ruang bernapas dari rutinitas yang melelahkan.
Tidak perlu berangkat pagi, menghadapi kemacetan, atau terburu-buru mengejar jam masuk kantor dapat membuat hari kerja terasa lebih ringan.
Dalam konteks ini, WFH bisa memberi kesempatan bagi ASN untuk mengatur ritme kerja dengan lebih tenang, terutama jika tugas yang dikerjakan memang dapat diselesaikan dari rumah.
Namun, Nia mengingatkan, perhatian terhadap waktu kerja dan waktu keluarga perlu menjadi bagian penting dari kebijakan tersebut.
“Waktu kerja dan waktu libur atau keluarga mulai mendapatkan perhatian yang lebih, karena hal ini amat berkaitan dengan kesehatan mental dan produktifitas kerja tadi,” kata Nia.
Dengan kata lain, WFH baru dapat memberi manfaat bila pekerja tetap memiliki batas yang jelas antara kapan harus bekerja dan kapan benar-benar bisa berhenti.
Baca juga: WFH Jumat Dinilai Bisa Buka Jalan Kerja 4 Hari, Sosiolog Ingatkan Syaratnya
Risiko selalu terhubung dengan pekerjaan
Ilustrasi WFH, work from home. WFH ASN bisa memberi ruang bernapas dari rutinitas kantor, tetapi tanpa batas kerja yang jelas, rumah justru dapat berubah menjadi sumber tekanan baru.
Masalah muncul ketika WFH membuat seseorang merasa harus selalu siap merespons pekerjaan.
Karena berada di rumah, pekerja bisa dianggap lebih mudah dihubungi kapan saja. Situasi ini dapat membuat batas jam kerja menjadi tidak jelas.
Nia menyinggung bahwa di beberapa negara, batas komunikasi kerja di luar jam kerja mulai menjadi perhatian.
“Dan untuk di beberapa negara, mulai menerapkan jam kerja yang sebenarnya. Atasan atau lainnya tidak diperkenankan untuk mengontak teman sejawat atau bawahannya mengenai pekerjaan,” ujar Nia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa WFH bukan sekadar memindahkan pekerjaan kantor ke rumah.
Lebih dari itu, kebijakan tersebut juga perlu disertai budaya kerja yang menghormati waktu istirahat.
Jika tidak, WFH dapat berubah menjadi beban baru karena pekerja merasa harus terus menunjukkan bahwa dirinya tetap produktif meski tidak berada di kantor.
Baca juga: WFH Jumat dan Pekerja Lajang, Sosiolog Ingatkan Pentingnya Waktu untuk Keluarga
Bagi perempuan, WFH bisa menjadi beban ganda
Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., menilai bahwa WFH tidak selalu dimaknai sebagai bekerja dari rumah secara ideal.
Menurut Bagong, dalam praktiknya, WFH bisa saja dipahami sebagai waktu yang lebih longgar, bahkan mendekati liburan.
“WFH lebih dimaknai sebagai liburan daripada bekerja di rumah. Di rumah orang justru merasa memiliki tanggungjawab lain,” kata Bagong saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Ia menambahkan, beban ini bisa terasa lebih berat bagi perempuan.
“Bagi perempuan terutama, WFH justru menjadi beban tambahan karena status keibuannya yang bertanggung jawab pada pekerjaan domestik,” ujar Bagong.
Situasi ini membuat WFH tidak selalu otomatis menghadirkan ketenangan.
Di satu sisi, pekerja tetap memiliki tanggung jawab pekerjaan. Di sisi lain, rumah juga menghadirkan tanggung jawab domestik yang tidak selalu bisa ditunda.
Baca juga: Cara ASN Mengatur Waktu agar WFH Jumat Tak Bikin Burnout
Interaksi kerja tetap bisa berjalan
Meski demikian, Bagong menilai WFH satu hari dalam seminggu masih dapat dikelola karena ASN tetap bekerja di kantor pada hari lainnya.
“Ini masih mendingan karena WFH cuma 1 hari. Jadi ada 4 hari kerja yang harus dijalani,” kata Bagong.
Ia juga menilai bahwa interaksi antarpegawai tidak menjadi persoalan besar selama komunikasi tetap bisa dilakukan melalui perangkat digital.
“Soal interaksi tidak menjadi masalah karena bisa melalui media sosial atau gadget,” ujar dia.
Dengan demikian, WFH ASN dapat menjadi kebijakan yang membantu keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi bila dijalankan dengan batas yang jelas.
Namun, tanpa pengaturan jam kerja dan komunikasi yang sehat, WFH justru berisiko menciptakan tekanan baru yang lebih sunyi di rumah.
Baca juga: Kartini Modern Tak Hanya di Ruang Publik, Ini Pandangan Sosiolog
Tag: #selalu #bikin #tenang #sosiolog #ungkap #risiko #yang #sering #terabaikan