Subvarian Baru Ebola Diwaspadai, Seberapa Besar Ancamannya? Ini Kata Pakar
Ilustrasi virus ebola. (Freepik/rorozoa)
21:48
19 Mei 2026

Subvarian Baru Ebola Diwaspadai, Seberapa Besar Ancamannya? Ini Kata Pakar

Kemunculan dugaan sublineage atau subvarian baru Ebola menjadi perhatian di tengah wabah yang terjadi di Uganda dan Kongo.

Epidemiolog dari Griffith University Australia dan Sekolah Pascasarjana Universitas Yarsi, Dr. Dicky Budiman, PhD, mengatakan temuan tersebut perlu diwaspadai meski hingga kini masih bersifat awal dan belum mendapat konfirmasi penuh dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut Dr. Dicky, dugaan subvarian baru itu berasal dari Bundibugyo Ebola virus (BDBV), salah satu strain Ebola yang relatif jarang dibandingkan Zaire Ebola virus.

“Artinya kemungkinan virus yang beredar mengalami divergensi genetik dan berbeda dari strain Bundibugyo sebelumnya,” ujar Dr. Dicky dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, Bundibugyo Ebola virus belum banyak dipelajari dibandingkan strain Ebola lainnya dan hingga kini belum memiliki vaksin yang berlisensi luas.

Karena itu, kemunculan kemungkinan perubahan genetik pada strain tersebut menjadi perhatian para ahli epidemiologi global.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Afrika sebagai Darurat Kesehatan Global

Meski begitu, Dr. Dicky menegaskan bahwa dugaan subvarian baru Ebola tersebut masih berupa preliminary finding atau temuan awal.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada publikasi genom lengkap yang telah melalui peer review maupun konfirmasi definitif terkait peningkatan penularan, virulensi, atau kemampuan lolos dari kekebalan tubuh.

“Mutasi bukan berarti otomatis virus menjadi lebih mematikan atau lebih menular,” katanya.

Ia mengatakan, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan genetik tersebut benar-benar memengaruhi karakter epidemiologis virus Ebola.

Faktor yang membuat wabah mengkhawatirkan

Dr. Dicky menilai kekhawatiran utama saat ini bukan hanya pada kemungkinan subvarian baru, tetapi juga kondisi wilayah outbreak yang dinilai menjadi “perfect storm” epidemiologi.

Wabah terjadi di wilayah dengan konflik bersenjata, mobilitas tinggi, aktivitas pertambangan, serta sistem kesehatan yang lemah.

Selain itu, rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan, maraknya hoaks, dan keterbatasan akses laboratorium juga memperburuk pengendalian wabah.

“Secara historis, Ebola lebih mudah dikendalikan ketika outbreak terjadi di daerah pedesaan yang relatif terisolasi. Sekarang situasinya berbeda karena sudah masuk jaringan perkotaan dan mobilitas regional,” ujarnya.

Menurut Dr. Dicky, urban outbreak meningkatkan risiko penyebaran karena kepadatan penduduk lebih tinggi, tracing lebih sulit dilakukan, dan rumah sakit lebih mudah mengalami overload.

Risiko pandemi global masih rendah

Meski situasi dinilai serius, Dr. Dicky mengatakan Ebola tetap tidak semudah Covid-19 berkembang menjadi pandemi global.

Ia menjelaskan, Ebola bukan penyakit airborne disease utama karena penularannya membutuhkan kontak erat dengan darah atau cairan tubuh penderita.

Secara historis, angka reproduksi Ebola atau reproduction number (R0) juga relatif rendah, yakni sekitar satu hingga dua.
Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan Covid-19 maupun campak yang penularannya jauh lebih cepat.

“Ebola jauh lebih sulit menjadi pandemi respiratory global,” katanya.

Namun demikian, tingginya mobilitas manusia tetap membuat risiko penyebaran lintas negara perlu diantisipasi.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola sebagai Darurat Global, Apa Risikonya bagi Indonesia?

Indonesia diminta tetap waspada

Dr. Dicky menilai risiko Ebola masuk ke Indonesia saat ini masih rendah hingga menengah, tetapi tetap nyata.

Karena itu, pemerintah diminta memperkuat surveillance epidemiologi di bandara, pelabuhan, serta pintu masuk internasional lainnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan laboratorium, rumah sakit rujukan, alat pelindung diri (APD), hingga pelatihan tenaga kesehatan.

Selain itu, masyarakat diimbau tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi dari sumber kesehatan yang kredibel.

“Ancaman kesehatan masa depan bukan hanya soal virus, tetapi juga terkait perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan mobilitas global,” ujar Dr. Dicky.

Tag:  #subvarian #baru #ebola #diwaspadai #seberapa #besar #ancamannya #kata #pakar

KOMENTAR