Ongkos Bikin AI Mahal, Banyak Perusahaan Pilih PHK Karyawan
ilustrasi artificial intelligence(Sharda University)
12:09
2 Juni 2026

Ongkos Bikin AI Mahal, Banyak Perusahaan Pilih PHK Karyawan

- Teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin hari semakin pintar. Namun, di balik kepintaran itu, AI memiliki kisah tragis, terutama untuk pekerja. Biaya pengembangan AI yang harus dikeluarkan perusahaan tidak murah dan pekerja yang harus menanggungnya.

Belakangan ini, banyak perusahaan memilih memecat karyawannya supaya bisa mengalihkan sumber daya ke investasi AI, baik untuk mengembangkan sebuah program AI yang cerdas maupun untuk membangun infrastrukturnya seperti pusat data.

Baca juga: Di Tengah PHK Massal, Paus Leo XIV Kritik Ambisi Perusahaan Mendominasi AI

Biaya tinggi investasi AI

Biaya investasi AI yang dikeluarkan perusahaan bisa mencapai ratusan hingga ribuan triliun rupiah. Ada beberapa perusahaan teknologi yang diketahui nilai investasinya pada pengembangan AI.

Misalnya, Amazon mengeluarkan investasi senilai sekitar Rp 211 triliun di Australia pada pertengahan Juni 2025 untuk membangun pusat data AI.

Kemudian, pada awal Maret 2026, Amazon berinvestasi ke OpenAI dengan komitmen 50 miliar dollar AS atau sekitar Rp 840,12 triliun.

Contoh lain adalah Meta (induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram), yang tahun ini berkomitmen menggelontorkan lebih dari 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.764 triliun) untuk investasi AI.

Total belanja modal Meta untuk AI diperkirakan juga akan meningkat mencapai mencapai 125 miliar hingga 145 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.205 triliun - Rp 2.557 triliun).

Di tengah biaya investasi AI yang tinggi, keberlangsungan karyawan yang dikorbankan. Ada puluhan ribu karyawan dari berbagai perusahaan teknologi yang mengalami pemecatan akibat AI.

PHK karyawan jadi solusi

Dalam menjalankan aksi PHK karyawan, ada beberapa dalih yang umum dipakai perusahaan seperti transformasi bisnis dan restrukturisasi organisasi, dengan tujuan efisiensi di baliknya.

Berdasar catatan kami, terdapat dua tipe efisiensi yang diharapkan perusahaan dari AI dengan memecat karyawan.

Pertama, perusahaan memecat karyawan dan menggantikan perannya secara langsung dengan AI sehingga bisa menekan biaya produksi. Kedua, PHK dilakukan untuk membantu biaya pengembangan AI perusahaan.

Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah laporan kondisi PHK karyawan di berbagai perusahaan teknologi beberapa waktu belakangan.

8.000 karyawan dirumahkan Meta

Meta (induk perusahaan Facebook, WhatsApp, dan Instagram) pada April kemarin telah mengumumkan akan mengurangi 10 persen total pekerjanya. Kemudian, pada 20 Mei 2026, Meta resmi merumahkan sekitar 8.000 karyawan secara global.

Pada akhir Maret lalu, total pegawai Meta mencapai 80.000 orang. Aksi PHK ini mengurangi jumlah pegawai perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg menjadi sekitar 72.000 orang.
Menurut sumber yang mengetahui rencana perusahaan, PHK terbaru terutama menyasar tim engineering dan produk. Bahkan, pemangkasan pegawai tambahan masih mungkin terjadi hingga akhir tahun.

Pemecatan karyawan ini dijalankan untuk mendukung ambisi Meta menjadi perusahaan penguasa AI. Dalam memo internal untuk para karyawan terdampak, CEO Meta Mark Zuckerberg mengingatkan bahwa pengorbanan dibutuhkan untuk menguasai AI.

“Namun, kesuksesan bukanlah sesuatu yang pasti. AI adalah teknologi paling penting dalam hidup kita. Perusahaan-perusahaan yang memimpin akan menentukan generasi berikutnya,” kata Zuckerberg dalam memo itu, yang diunggah di X oleh seorang reporter New York Times, sebagaimana dilansir NBC News, Jumat (22/5/2026).

Sebelum memangkas karyawan, pada 18 Mei, Meta lebih dulu melakukan restrukturisasi dengan memindahkan 7.000 pegawai ke proyek AI baru untuk mengembangkan produk dan agen AI.

Pengurangan dan restrukturisasi karyawan merupakan sebagian strategi Meta untuk menguasai AI. Ambisi Meta menjadi perusahaan AI juga bisa terbaca lewat langkah investasinya. Saat jumlah karyawan dikurangi, investasi AI Meta justru meningkat.

Oracle pecat 30.000 karyawan global

Pada awal April kemarin, perusahaan teknologi kenamaan asal AS, Oracle melakukan aksi yang menghebohkan dengan memecat 30.000 karyawan, yang mengurangi 18 persen total pegawai secara global.

Cukup mirip dengan Meta, aksi pengurangan pegawai Oracle ini juga dilatarbelakangi alasan efisiensi biaya produksi supaya bisa memfokuskan alokasi sumber daya ke pengembangan AI.

Dalam komunikasi internal, Oracle berdalih, PHK massal merupakan bagian dari restrukturisasi perusahaan. Langkah ini diambil untuk menyederhanakan operasional sehingga ada sejumlah posisi yang dianggap tak lagi relevan.

Kendati demikian, langkah ini sejalan dengan ambisi besar perusahaan untuk menggeser fokus investasi besar-besaran ke arah teknologi kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur pusat data (data center).

Amazon pecat 16.000 karyawan

Salah satu perusahaan teknologi terbesar di AS dan dunia, Amazon memangkas 16.000 karyawan di tengah persaingan AI pada awal tahun ini, yang mengurangi 9 persen dari total staf perusahaan.

Namun, aksi PHK Amazon di awal 2026 itu bukan yang pertama kali, melainkan sudah putaran kedua sejak 2025. Pada akhir Oktober tahun lalu, perusahaan yang sekarang dipimpin Andy Jassy ini telah melakukan PHK pada 14.000 karyawan.

Jassy sempat menjelaskan pada tahun lalu dampak pengadopsian AI di lingkungan Amazon. Seperti pandangan yang umum beredar, menurut Jassy, kebutuhan tenaga kerja perusahaan bisa lebih efisien dengan AI.

“Seiring dengan peluncuran lebih banyak AI Generatif dan agen, hal itu akan mengubah cara kerja kita. Kita akan membutuhkan lebih sedikit orang untuk melakukan beberapa pekerjaan yang dilakukan saat ini, dan lebih banyak orang untuk melakukan jenis pekerjaan lain,” kata Jassy, dikutip dari CNN News.

Akan tetapi, efisiensi tenaga kerja berkat AI bukan satu-satunya alasan Amazon memecat ribuan karyawan.

Amazon saat ini berada dalam persaingan ketat dengan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa lainnya, seperti Microsoft, Google, Meta, dan OpenAI, untuk mengembangkan AI dan meningkatkan infrastruktur komputasinya.

Cisco pangkas 4.000 karyawan

Pada pertengahan Mei kemarin, perusahaan teknologi informasi dan jaringan Cisco melakukan PHK massal terhadap 4.000 karyawan, yang mengurangi 5 persen dari total pegawai perusahaan.

CEO Cisco Chuck Robbins tegas menyampaikan bahwa aksi pemangkasan karyawan ini dijalankan untuk efisiensi sumber daya sehingga bisa difokuskan pada investasi AI perusahaan.

"Ini berarti membuat keputusan sulit, tentang di mana kami berinvestasi, bagaimana kami diorganisasi, dan bagaimana struktur biaya kami mencerminkan peluang yang ada di depan," kata Robbins.

Dalam laporan keuangannya, Cisco juga mengungkap bahwa sepanjang tahun fiskal berjalan, penjualan infrastruktur AI ke perusahaan hyperscaler telah mencapai 5,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 93 triliun).

Cisco bahkan menaikkan proyeksi pesanan infrastruktur AI menjadi 9 miliar dollar AS dari sebelumnya 5 miliar dollar AS. Sementara itu, pendapatan bisnis AI diproyeksikan naik dari 3 miliar dollar AS menjadi 4 miliar dollar AS.

Block PHK lebih dari 4.000 karyawan

Pada Februari 2026, Block, perusahaan pengembang dompet digital Cash App yang dikepalai Jack Dorsey (pendiri Twitter yang sekarang bertransformasi jadi X) melakukan PHK pada lebih dari 4.000 karyawan.

Aksi PHK ini mengurangi sekitar 40 persen dari total pegawai Block, dari 10.000 pekerja menjadi kurang dari 6.000 pekerja. Pemecatan pegawai Block ini kuat dilatarbelakangi persoalan efisiensi pekerjaan, yang menggantikan pekerja manusia dengan AI.

Setelah melakukan pemecatan, dalam surat pemegang saham, CEO Block Jack Dorsey mengatakan, alat AI yang mereka buat dengan tim yang lebih kecil akan membuat operasional perusahaan jadi lebih efisien.

“Tim yang jauh lebih kecil, menggunakan alat yang kami bangun, dapat melakukan lebih banyak dan melakukannya dengan lebih baik,” kata Dorsey dilansir dari Forbes.

Sementara itu, Chief Financial Officer dan Chief Operating Officer Block Amrita Ahuja menerangkan lebih spesifik soal kondisi pengadopsian AI perusahaan yang menjadi landasan memecat karyawan.

Menurut Ahuja, penggunaan AI di Block meningkatkan kecepatan dan efisiensi tim software dalam menyusun kode pemrograman yang berkualitas tinggi. Peningkatan ini mencapai 40 persen dari September 2025 hingga Februari 2026, kata Ahuja.

Ahuja mengatakan, efisiensi dengan memanfaatkan AI memungkinkan perusahaan untuk berinvestasi kembali dalam pengeluaran lain, seperti infrastruktur AI, token, dan karyawan dengan keahlian di bidang AI.

Baca juga: Bukan Anak STEM, Lulusan Filsafat Tulen Ini Bikin AI Claude Jadi Baik Hati

Coinbase pecat 700 karyawan

Sekitar awal Mei ini, perusahaan kripto Coinbase mengumumkan pemecatan pada 700 karyawan. Latar belakang aksi PHK Coinbase ini mirip dengan Block, yakni efisiensi tenaga kerja dengan AI.

Menurut CEO Coinbase Brian Amstrong, perusahaan perlu melakukan PHK karena pasar kripto sedang lesu. Di tengah kondisi yang demikian, AI bisa menekan biaya yang perlu dikeluarkan perusahaan untuk tenaga kerja.

“Kondisi ini membuat perusahaan perlu menyesuaikan struktur biaya agar dapat keluar dari periode ini dengan kondisi lebih ramping, cepat, dan efisien,” tulis Armstrong dalam sebuah memo kepada karyawan yang juga dibagikan di media sosial X (dahulu Twitter).

Amstrong menyebut bahwa perkembangan teknologi itu membuat perusahaan dapat bekerja lebih efektif dengan tim yang lebih kecil.

1.600 pegawai dipecat Atlassian

Atlassian, perusahaan perangkat lunak perkantoran yang mengembangkan Jira dan Trello, mengumumkan pemangkasan 1.600 karyawan secara global pada sekitar pertengahan Maret kemarin.

Keputusan PHK ini diambil untuk mengalihkan sumber daya ke investasi AI. CEO Atlassian, Mike Cannon-Brookes di blog resmi Atlassian menerangkan investasi AI itu diperlukan untuk
memperkuat bisnis penjualan ke segmen bisnis (enterprise).

"Langkah ini juga dengan berat hati harus kami lakukan untuk memperbaiki profil keuangan perusahaan, sekaligus menyesuaikan strategi kerja supaya bisa lebih cepat dan efisien di era AI," jelas Mike.

Mike juga mengungkap alasan lain dari PHK ini, yaitu untuk beradaptasi dengan perubahan alur kerja, kebutuhan keterampilan, dan kebutuhan jumlah tenaga kerja di era AI.

Microsoft minta 8.750 pegawai untuk pensiun dini

Pada akhir April kemarin, kabar mengejutkan datang dari Microsoft. Perusahaan pembuat sistem operasi Windows ini, untuk pertama kali dalam 51 tahun terakhir sejak berdiri, meminta sejumlah karyawannya untuk pensiun dini.

Program pensiun dini ini ditawarkan secara spesifik untuk karyawan Microsoft yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Mengacu pada data internal Juni 2025, Microsoft memiliki 125.000 karyawan di AS.

Penawaran ini ditujukan kepada sekitar tujuh persen dari jumlah tersebut, atau setara 8.750 orang karyawan. Keputusan Microsoft yang meminta pensiun dini ini merupakan strategi mengamankan arus kas perusahaan di tengah pengeluaran AI yang tinggi.

Microsoft saat ini terus meningkatkan pengeluaran untuk membangun kapasitas data center demi memenuhi lonjakan permintaan layanan AI.

Belanja modal kumpulan raksasa teknologi (Microsoft, Apple, Meta, Amazon, dan Alphabet) dilaporkan meroket hingga 383 miliar dollar AS pada tahun lalu.

Angka tersebut diproyeksikan para analis akan terus membengkak menembus 500 miliar dollar AS pada tahun 2026.

Khusus untuk Microsoft, total pengeluaran mereka diperkirakan akan berlipat ganda, dari 44,5 miliar dollar AS pada tahun 2024 menjadi sekitar 98 miliar dollar AS pada 2026.

PHK tinggi, AI menggantikan manusia?

Dari berbagai kasus PHK perusahaan teknologi di atas, AI berada dalam kondisi eksternal yang problematik. Penggusuran tenaga kerja manusia oleh AI dari berbagai perusahaan di atas sejauh ini tidak berbicara dalam masalah kemampuan atau fitur teknis.

Artinya, keputusan perusahaan dalam memangkas karyawan bukan dilandasi pada kondisi AI punya kemampuan atau fitur tertentu yang canggih sehingga bisa menggantikan pekerjaan manusia.

Lebih kompleks dari itu, ada beberapa faktor eksternal di luar AI yang membuat perusahaan mengorbankan keberlangsungan pekerjaan karyawan, seperti kondisi finansial perusahaan, situasi pasar, dan rencana jangka panjang perusahaan.

Menjadi “kambing hitam” atas kondisi finansial perusahaan

Chief AI Officer Cognizant, Babak Hodjat, mengatakan bahwa AI kerap dijadikan “kambing hitam” dalam restrukturisasi perusahaan sehingga terjadi PHK karyawan.

“Terkadang AI menjadi kambing hitam dari sisi finansial. Ini bisa terjadi ketika perusahaan merekrut terlalu banyak atau ingin merampingkan organisasi,” kata Hodjat kepada TechSpot.

Pandangan ini sejalan dengan fenomena yang disebut “AI Washing”, yakni ketika perusahaan menggunakan narasi AI untuk membungkus keputusan bisnis lama seperti efisiensi biaya.

Bahkan, sebuah survei terhadap manajer perekrutan menunjukkan sekitar 59 persen perusahaan mengakui mereka menekankan AI dalam pengumuman PHK karena “terlihat lebih baik di mata pemangku kepentingan”.

Selain AI Washing, konteks era terjadinya PHK dan perkembangan AI ini juga penting.

Selama pandemi, perusahaan teknologi melakukan ekspansi besar-besaran dan merekrut agresif. Kini, ketika pertumbuhan melambat, mereka memasuki fase koreksi dan terpaksa harus melakukan PHK, diiringi dengan ekspansi ke AI.

Eksperimen reorganisasi perusahaan

Sejumlah petinggi teknologi mungkin akan berbicara bahwa AI akan mengubah cara kerja, bukan langsung menggantikan orangnya. Artinya, AI tetap berperan dalam perubahan ini.

Alih-alih menggantikan pekerjaan secara langsung, AI lebih banyak mengubah cara pekerjaan dilakukan. Perusahaan kini menuntut output yang sama, atau lebih tinggi, dari tim yang lebih kecil dengan bantuan AI.

CEO Google, Sundar Pichai, menyebut adopsi AI sendiri telah meningkatkan produktivitas engineer sekitar 10 persen.

Hal ini juga diakui oleh manajemen Meta. CFO Meta, Susan Li bahkan menyebut perusahaan belum mengetahui “ukuran tim ideal” di era AI karena efisiensi terus berubah.

Artinya, banyak perusahaan masih dalam tahap eksperimen, mencari tahu kombinasi optimal antara manusia dan mesin.

Data industri menunjukkan gambaran yang lebih kompleks soal hubungan PHK dan AI.
Sekitar 20 persen PHK di sektor teknologi pada 2026 dikaitkan dengan AI, tetapi analis menilai perubahan ini lebih berupa reorganisasi ketimbang eliminasi pekerjaan sepenuhnya.

Seorang analis dari perusahaan bisnis RationalFX, Alan Cohen, menyebut industri saat ini sedang “dibentuk ulang” oleh AI.

“Sektor teknologi sedang direorganisasi secara fundamental di sekitar workflow yang lebih efisien berbasis teknologi,” kata Cohen.

Sementara itu, ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, justru berpandangan AI dalam jangka panjang bisa menciptakan lebih banyak pekerjaan.

Ia mengacu pada fenomena "Jevons Paradox", di mana peningkatan efisiensi justru mendorong permintaan dan membuka lapangan kerja baru.

AI bukan faktor utama gelombang PHK

Di tengah dinamika ini, para ahli menilai pekerja yang paling rentan bukan semata-mata mereka yang pekerjaannya bisa diotomatisasi. Sebaliknya, mereka yang tidak beradaptasi, terutama dalam memanfaatkan AI, lebih berisiko tertinggal.

Para ahli menilai dampak terbesar AI saat ini adalah pada produktivitas, bukan penggantian total tenaga kerja. Namun, transisi ini tetap “akan terasa menyakitkan” sebelum manfaatnya benar-benar terlihat luas.

Sehingga pada akhirnya, gelombang PHK di era AI merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, koreksi pasca-ekspansi pandemi, tekanan efisiensi, eksperimen teknologi, hingga perubahan strategi bisnis.

Betul bahwa AI memang menjadi bagian penting dari transformasi perusahaan, juga langkah PHK yang terpaksa dilakukan. Namun, ini bukan jadi satu-satunya penyebab PHK.

Baca juga: Bos Nvidia Peringatkan AS soal Ancaman AI China

Untuk melihat ke mana arah industri bergerak, indikator yang lebih relevan bukan hanya siapa yang di-PHK, melainkan siapa yang direkrut berikutnya.

Jika perusahaan mulai aktif merekrut talenta dengan keterampilan AI, maka transformasi benar-benar sedang terjadi.

Namun jika tidak, bisa jadi AI hanya menjadi label baru untuk dinamika lama dalam dunia bisnis, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Conversation.

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #ongkos #bikin #mahal #banyak #perusahaan #pilih #karyawan

KOMENTAR