Fun Football Tetap Aman, Dokter Tekankan Pentingnya Skrining Jantung
Ilustrasi sepak bola.(Dok. Unsplash/Tobias Flyckt )
07:08
20 Januari 2026

Fun Football Tetap Aman, Dokter Tekankan Pentingnya Skrining Jantung

- Meninggalnya asisten pelatih Arema FC Kuncoro, Minggu (18/1/2026) kemarin, usai kolaps saat bermain sepak bola kembali membuka diskusi penting tentang risiko kesehatan jantung dalam aktivitas olahraga yang kerap dianggap ringan.

Sepak bola sebagai olahraga kompetisi sekaligus rekreasi tetap perlu diiringi kesadaran medis yang memadai.

Dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Donny Kurniawan, Sp.K.O, menilai kasus yang menimpa Kuncoro tidak bisa dilepaskan dari kemungkinan gangguan jantung yang kerap tidak disadari, terutama pada usia di atas 35 tahun.

"Permasalahannya sama kalau kita bicarakan penyebabnya kadang kita bicara tentang penyakit coroner yang tersembunyi."

"Apalagi di usia di atas 35 tahun itu juga harus dipikirkan kardiomiopati, gangguan irama jantung yang bisa menjadi penyebab juga," ujar dokter yang biasa disapa Donny itu kepada Kompas.com.

"Terus memang ada yang karena kelainan struktur bawaan dari lahir tapi sudah terdeteksi kalau kayak itu," imbuhnya.

Menurutnya, fokus utama dalam dunia sepak bola seharusnya tidak hanya berhenti pada penanganan ketika kejadian darurat sudah terjadi.

Tekankan Pentingnya Skrining Kesehatan

Justru, akar persoalan terletak pada minimnya edukasi dan kesadaran akan pentingnya skrining kesehatan sejak awal.

"Medical check up dianggap suatu hal remeh, dulu kalau di Persija saya melakukan medical check up bukan hanya untuk pemain tapi juga official dan segala macam supaya kita bisa mengevaluasi resiko penyakit jantungnya, faktor usia dan segala macam penyakit penyertanya," tuturnya.

Untuk itu, ia menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan bukan sekedar formalitas, melainkan dasar untuk menyesuaikan aktivitas fisik agar tetap aman.

"Nah yang menjadi permasalahan itu fun Football itu happy-happy tapi kan sepak bola itu kadang-kadang lari dan jalan jadi lonjakan jantung itu tidak terduga, jadi sesuatu yang tiba-tiba bisa naik dan turun," kata dr. Donny Kurniawan.

Perubahan intensitas yang cepat dalam permainan sepak bola membuat olahraga ini berisiko, terutama bagi mereka yang tetap aktif bermain hingga usia lanjut.

"Jadi main bola ini tidak bisa dia anggap remeh untuk yang memang aktif di sepak bola hingga lanjut usia. Jadi wajib sadar diri untuk periksa kesehatan dan segala macamnya," sambungnya.

Edukasi Penanganan Gawat Darurat

Selain pencegahan, dokter yang pernah menjadi team physician untuk Satria Muda itu juga menyoroti lemahnya pemahaman penanganan kegawatdaruratan di lapangan.

Seperti pada video yang beredar usai Kuncoro kolaps di bench sebelum dibawa ke RSUD Dr Saiful Anwar Kota Malang.

"Melihat dari video untuk penanganan sementara harus digalakkan lagi ini kan kalau melihat RJP (Resusitasi Jantung Paru)-nya salah semua, dari posisi, irama dan kayanya bener-bener kaya orang-orang yang tidak tahu sama sekali dan berusaha seakan-akan playing be hero," kata pria yang memiliki sertifikasi FIFA untuk dokter tim sepak bola itu.

Sebab ia menilai, pada video tersebut tampak niat memberi pertolongan pertama tanpa pengetahuan yang tepat justru berpotensi memperburuk kondisi korban.

"Kalau orang bilang kan itu mencoba nolong, tidak sih, itu benar-benar tidak tahu dan berlagak seakan-akan menolong itu juga salah," imbuhnya.

Dr. Donny Kurniawan menambahkan bahwa peristiwa serupa pernah terjadi sebelumnya di sepak bola nasional, sehingga menunjukkan bahwa risiko ini bukan kasus terisolasi.

"Dulu waktu asisten pelatih Persija coach Fauzi meninggal ya karena memang ada jantung dan segala macamnya, kasusnya pun sama. Asisten-asisten pelatih ini menajdi sesuatu yang sangat krusial," ujarnya.

Karena itu, ia mendorong pengetatan skrining kesehatan tanpa kompromi, termasuk bagi atlet, mantan atlet, maupun mereka yang merasa masih bugar.

"Kalau saya sih lebih prefer ke mempertegas screening. Walaupun atlet, mantan atlet atau merasa diri sehat bukan berarti clear bermain bola, meskipun hanya fun," kata dr. Donny Kurniawan.

"Karena tiap orang memiliki risiko itu walaupun secara epidomologi kejadiannya cuma 1-2 banding 100.000 per tahunnya, tapi kalau dalam angka epidomologi sedikit tapi kita harus berfikiran bahwa 1 saja sudah terlalu banyak untuk meninggal,” pungkasnya.

Tag:  #football #tetap #aman #dokter #tekankan #pentingnya #skrining #jantung

KOMENTAR