Di Antara Kabar Muram, Arsenal Berjaya
ADA kabar muram dari Chelsea dan Manchester United berupa pemecatan pelatih, tapi tetap mencuat kabar gembira dari Arsenal--sang "meriam London".
Klub racikan Mikel Arteta itu melanjutkan tren positif di fase superkrusial: pengujung 2025 dan pembuka 2026.
Dalam duel versus Aston Villa di Stadion Emirates London, 31 Desember 2025, Arsenal membalas kekalahan 1-2 atas Villa di Birmingham. Balas dendam yang mempertontonkan superioritas karena The Gunners melumat Villa 4-1.
Laga di pekan ke-19 itu memastikan Martin Odegaard dkk juara paruh musim Liga Premier Inggris 2025/2026.
Pesta itu dipungkasi dengan gol dari Gabriel Jesus usai cidera panjang yang bikin senewen. Saking emosinya, striker asal Brasil ini membuka jersey, lalu mempertontonkan kaos putih bertuliskan "I belong to Jesus".
Ia bahagia dan bersyukur, sebab gol itu teramat berarti buat kariernya, juga untuk Arsenal yang mengejar trofi Liga Premier Inggris (EPL).
Hasil penting itu merontokkan rekor 11 kemenangan beruntun tim polesan Unai Emery. Sang pengacak-acak EPL itu pun kembali menjejakkan kaki ke bumi.
Ditambah hasil imbang Manchester City atas 'kuda hitam' Sunderland, Arsenal nyaman di puncak klasemen dengan poin 45 hasil 14 kali menang, 3 kali seri dan 2 kali kalah.
Di akhir 2025, Arsenal unggul 4 poin dari City serta 6 poin dari Villa. Ini mengungkit mimpi Arteta yang dalam tiga musim terakhir patah oleh City dan Liverpool.
Dengan bercanda seorang pecandu bola menyebut Arsenal telah terpelanting jadi "satpam" atau penjaga trofi antara 2022-2025. Dan kampanye musim ini adalah kerja besar mencopot julukan bernuansa ledekan itu.
Tugas Arteta adalah meraih trofi EPL di akhir musim, lalu menciumnya dan menaruhnya di lemari sejarah klub di London Utara itu.
Di pembuka 2026, Arsenal melesat meninggalkan City. Melawat ke kandang Bournemouth, Arsenal membawa pulang tiga poin setelah menang 3-2.
Gelandang serba bisa Declan Rice menjadi bintang lapangan dengan memborong dua gol. Ini berarti lima kemenangan beruntun di ajang EPL dan tujuh kemenangan berturut-turut di seluruh kompetisi.
Itulah mentalitas yang ditunjukkan pasukan Arteta selepas ditekuk Aston Villa, 6 Desember 2025 lalu.
Tertahannya City di awal tahun ada kaitannya dengan cerita muram yang mendera seteru Arsenal, Chelsea.
Pada 1 Januari 2026, Enzo Maresca dipecat dari kursi pelatih The Blues. Namun, alih-alih memberi keuntungan, Pep Guardiola justru bertemu "taktik tak terduga" pelatih caretaker Chelsea, Callum Mcfarlane.
Pelatih Chelsea U-21 itu meramu taktik jitu untuk Reece James dkk, terutama di babak kedua.
City yang unggul satu bola terpleset di menit 90+4. Enzo Fernandez membatalkan kemenangan City yang sudah di depan mata.
Paduan gaya main ala Maresca plus man to man marking ternyata manjur. City tak mampu melesak gol kedua. Di masa Maresca, Chelsea kalah terus atas City racikan Guardiola di musim lalu.
Hasil itu menyuntikkan semangat buat Chelsea yang digempur hasil minor dalam tujuh pekan terakhir EPL, sekaligus membantu Arsenal menjauhkan diri dari kejaran City.
Kabar pahitnya, City juga kehilangan dua bek tengahnya yang cidera kontra Chelsea: Ruben Dias dan Josko Gvardiol. Padahal dua pemain ini pilar tak tergantikan dalam line up utama City.
Ketidakhadiran mereka dikhawatirkan merusak sistem City. Bayang-bayang masalah di musim lalu berkelebat.
Tim biru langit ini sempat kalah bertubi-tubi dan terpuruk, tapi hal itu tak sanggup membuat manajemen City berpikir untuk mendongkel Guardiola--manajer yang menghadirkan kebesaran dan kejayaan pada klub dari kota Mancheter itu. Manajemen City berbeda dengan Chelsea dan MU yang "tidak sabaran".
Hingga pekan ke-20, Arsenal tenang di puncak dan unggul 6 poin dari City. Modal yang dapat meningkatkan mentalitas Arsenal.
Pada pekan ke-22 di tengah pekan ini, Arsenal akan diuji juara bertahan Liverpool. Sementara City meladeni Brighton & Hove Albion. Pacuan kuda ini juga melibatkan Aston Villa, Liverpool dan bahkan Chelsea dan MU--setidaknya secara matematis.
Arsenal telah puasa trofi EPL selama 21 tahun. Terakhir Arsenal menggondol trofi di musim 2003/2004 di bawah arsitek ulung, Arsene Wenger. Puasa itu bakal kian panjang jika musim ini Arteta gagal lagi.
Musim ini dianggap jadi momentum buat Meriam London berjaya. Pertama, saat ini skuad Arsenal lebih penuh alternatif. Penyerang Kai Havertz juga telah berada di bangku cadangan. Ia bakal memberi opsi serangan untuk Arsenal.
Kedua, sang juara bertahan, Liverpool, dalam kinerja naik turun--kalau bukan tidak sesangar musim lalu. Bejibunnya pemain baru ternyata tak selalu positif. Arne Slot masih kesulitan bikin pemain baru nyetel dengam gaya main The Reds.
Ketiga, City terlihat lebih cepat kembali dibandingkan musim lalu yang berantakan. Namun, City ternyata bukan tim dengan kinerja sementereng dua atau tiga musim silam. Dua laga terakhir menunjukkan itu. Konsistensi dan stabilitas belum begitu kuat.
Ditambah cidera Gvardiol, Dias dan John Stones dinilai akan mengganggu irama permainan The Citizens.
Guardiola pasti pusing dengan kondisi skuadnya. Mendatangkan bek tengah baru juga bukan perkara gampang di transfer musim dingin ini.
Jadi, apakah musim ini bakal jadi milik Arsenal? Apakah Arsenal tak bakal "kehabisan bensin" lagi di paruh kedua musim ini?
Mari sedikit mencermati data. Dalam sepak bola, data kadang membentuk pola, naik jadi mitos yang sering terbukti di akhir musim.
Pada 2018/2019, Liverpool sukses juara paruh musim, tapi di akhir kompetisi gagal meraih trofi. City juara di musim itu.
The Reds lalu membalas di musim berikut, 2019/2020. Liverpool dominan di paruh musim hingga akhir musim.
Pada 2020/2021, MU juara paruh musim, tapi pemilik trofi di akhir musim adalah City. Superioritas pasukan Guardiola berlanjut di musim 2021/2022.
Pada 2022/2023, Arsenal telah jawara di paruh musim. Ini layak dicamkan Arteta karena tak mampu bertahan di akhir musim. City membuat Arsenal menangis, trofi dibawa pulang ke Stadion Etihad kota Manchester (Bola.net, 1/1/2024).
Pendek kata, tak setiap klub yang nangkring di peringkat satu pada paruh musim otomatis juara di akhir kompetisi. Arsenal, Liverpool dan MU pernah berjumpa hal pahit itu antara 2018-2024.
Di dalam dan di balik data menghuni "mitos", juga utak-atik gathuk. Ini acap kali terbukti dalam sepak bola. Chelsea pernah jawara Liga Champions Eropa (UCL) musim 2011/2012 dan 2020/2021 yang dikaitkan dengan hal yang berulang.
Pada 2011/2012, The Blues kampiun UCL di bawah asuhan caretaker, Roberto Di Matteo. Pada 2020/2021, pasukan biru juga jawara UCL di masa Thomas Tuchel yang menggantikan Frank Lampard yang dipecat.
Tahunnya 2012 dan 2021, di mana 12 dan 21 tersusun angka sama, yakni 1 dan 2. Setidaknya begitu buat yang percaya utak-atik gathuk ini.
Sebagian gilbol dan sebagian fans The Gunners percaya dengan data berikut. Pada musim 1998/1999, 1999/2000 dan 2000/2001 silam, Arsenal runner up dalam tiga musim beruntun. Lalu, pada musim berikutnya, 2001/2002, Arsenal jadi jawara.
Nah, yang percaya utak-atik gathuk menautkan fakta tiga musim terakhir dengan kejadian di pengujung abad 20 dan awal abad 21 itu.
Kebetulan di musim 2022/2023, 2023/2024 dan 2024/2025, Arsenal selalu runner up EPL. Jadi, buat yang percaya, setelah tiga musim beruntun selalu nomor dua, di musim 2025/2026 ini pasukan Arteta bakal kampiun Liga Premier Inggris.
Hal beginian tidak rasional, sulit dicerna akal sehat. Namun, sepak bola adalah cerita tentang hal yang masuk akal dan tak dapat dimengerti sekaligus.
Dalam sepak bola ada faktor hoki--sesuatu yang tak dapat diduga. Megabintang Argentina, Diego Armando Maradona termasuk yang percaya itu. Tentu tak semua pemain memikirkan hal semacam ini.
Arsenal, Arteta serta Odegaard dkk sebaiknya bertumpu pada rasionalisme. Sebab masih ada 18 laga lagi yang harus dijalani.
Ini kompetisi penuh, bukan turnamen. Konsistensi dan stabilitas sangat dibutuhkan untuk mengarungi musim yang panjang. Setialah pada misi: Menang sebanyak mungkin. Tak usah merasa dikejar dan dikuntit oleh City atau Liverpool.
Yang dilawan Arsenal bukan dua klub itu saja, melainkan 17 klub lain. Saat ini Arsenal memiliki momentum.
Mereka sendiri yang dapat memilih takdirnya. Goal, gold, glory tak mungkin dijangkau dengan utak-atik gathuk, tapi kerja keras bersama kompetisi yang penuh gelombang dan badai.