Dosen dan Pasar
JIKA ditelusuri secara historis, dunia pengetahuan lahir bukan dari pasar, melainkan dari perenungan.
Ia tumbuh bukan dari kalkulasi untung-rugi, melainkan dari rasa ingin tahu yang mendalam terhadap realitas.
Para filsuf Yunani kuno tidak duduk di bawah pohon atau berjalan di lorong-lorong kota sambil memikirkan bagaimana memperoleh keuntungan ekonomi dari gagasannya.
Mereka bertanya tentang hakikat keadilan, kebenaran, alam semesta, dan manusia karena dorongan intelektual yang murni.
Para ilmuwan, teolog, dan cendekiawan besar dalam berbagai peradaban.
Mereka menghabiskan waktu untuk mengamati, merenung, berdiskusi, dan menulis jauh sebelum pengetahuan menjadi komoditas ekonomi yang bernilai tinggi.
Baca juga: Orang Suci Saja Tak Cukup
Hampir seluruh fondasi peradaban modern lahir dari aktivitas yang pada awalnya tampak "tidak produktif" menurut ukuran ekonomi.
Matematika berkembang karena ada orang yang senang bermain dengan angka dan pola.
Astronomi berkembang karena ada orang yang berjam-jam memandangi langit.
Filsafat berkembang karena ada orang yang tidak puas menerima kenyataan begitu saja.
Ilmu hukum berkembang karena ada orang yang terus-menerus merenungkan keadilan dan ketertiban.
Pengetahuan lahir dari kontemplasi yang panjang. Dari keberanian untuk berhenti sejenak dari kesibukan praktis dan bertanya: mengapa sesuatu terjadi? Apakah ada cara yang lebih baik? Apa prinsip yang mendasarinya?
Pertanyaan-pertanyaan di atas seperti itu tidak selalu menghasilkan uang dalam waktu dekat, tetapi justru dari sanalah lahir perubahan besar dalam sejarah manusia.
Karena itu, ada perbedaan mendasar antara logika pasar dan logika ilmu pengetahuan.
Pasar bertanya: "Apa manfaatnya sekarang?" Ilmu pengetahuan bertanya: "Apa kebenarannya?"
Pasar mengukur nilai dengan keuntungan yang segera terlihat. Ilmu pengetahuan sering bekerja untuk manfaat yang baru tampak puluhan tahun kemudian.
Banyak penemuan besar bahkan pada awalnya dianggap tidak memiliki kegunaan praktis.
Ketika teori-teori matematika abstrak dikembangkan berabad-abad lalu, tidak ada yang membayangkan bahwa kelak teori itu menjadi fondasi komputer dan kecerdasan buatan hari ini.
Ketika para ilmuwan meneliti struktur atom ratusan tahun yang lalu, mereka tidak sedang mengejar aplikasi industri tertentu. Mereka hanya ingin memahami alam.
Namun, dari pencarian itu lahirlah berbagai teknologi yang mengubah dunia industry saat ini.
Di dunia ilmu hukum, pemikiran tentang konstitusi, pemisahan kekuasaan, hak asasi manusia, atau negara hukum tidak lahir dari transaksi ekonomi.
Baca juga: Penyederhanaan Partai, Untuk Siapa?
Gagasan-gagasan tersebut lahir dari perenungan panjang tentang bagaimana manusia dapat hidup di negara secara adil dan bermartabat.
Para pemikir hukum besar menghabiskan hidupnya untuk memikirkan persoalan yang sering kali tidak menghasilkan keuntungan materi langsung, tetapi manfaatnya dirasakan oleh jutaan orang selama berabad-abad.
Universitas pada pertama kali terbentuk di dunia bukan didirikan sebagai pabrik pencetak tenaga kerja, melainkan sebagai tempat manusia mencari dan mengembangkan pengetahuan.
Laboratorium mulanya bukan tempat menghasilkan produk komersial, melainkan tempat menguji batas-batas pemahaman manusia.
Perpustakaan di dunia pertama kali bukan tempat gudang buku yang diadakan oleh anggaran negara, melainkan ruang perjumpaan antara generasi-generasi pemikir yang dipisahkan oleh waktu.
lmuwan Tidak Butuh Uang?
Iya betul dalam dunia modern ilmu pengetahuan berhubungan dengan ekonomi.
Penelitian membutuhkan biaya. Universitas membutuhkan pendanaan. Inovasi dapat menghasilkan keuntungan.
Namun, hubungan itu seharusnya tidak membalikkan hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ketika seluruh aktivitas intelektual hanya diukur berdasarkan nilai ekonominya, maka pengetahuan kehilangan salah satu sumber energi terpentingnya, yaitu kebebasan untuk mencari kebenaran.
Suatu bangsa yang ingin maju harus memelihara tradisi intelektual yang menghargai perenungan, pembacaan yang mendalam, penelitian yang tekun, dan pencarian pengetahuan yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan logika keuntungan jangka pendek.
Sejarah pengetahuan adalah sejarah orang-orang yang bersedia duduk lebih lama untuk berpikir ketika orang lain bergegas mengejar keuntungan.
Mereka mungkin tidak selalu menjadi orang terkaya pada zamannya. Namun, merekalah yang sering kali meninggalkan warisan terbesar bagi umat manusia.
Ketika seseorang memilih menjadi ilmuwan, ia sebenarnya telah menceburkan diri ke dalam kolam ketulusan.
Di kolam itu ukuran keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diterima, tetapi juga oleh apa yang berhasil diberikan kepada masyarakat, bangsa, dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Bukan berarti ilmuwan harus hidup dalam kekurangan atau mengabaikan kesejahteraan. Penghargaan yang layak terhadap ilmuwan tetap penting dan harus diperjuangkan.
Namun, yang membuat seseorang bertahan puluhan tahun dalam dunia ilmu bukanlah penghargaan itu sendiri.
Baca juga: Tiga Juta Penonton, Nol Tersangka
Yang membuatnya bertahan adalah kecintaan terhadap pengetahuan dan kesadaran bahwa dirinya sedang mengerjakan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadinya.
Seorang ilmuwan sejati tidak menghitung setiap pengorbanan dengan timbangan keuntungan.
Ia memahami bahwa tidak semua nilai dapat diukur dengan uang, jabatan, atau popularitas.
Ada nilai yang hanya dapat diukur oleh jejak pemikiran yang ditinggalkannya, oleh murid-murid yang dibimbingnya, oleh teori yang dikembangkannya, dan oleh manfaat yang terus hidup setelah dirinya tiada.
Di situlah letak kemuliaan seorang ilmuwan.
Ia memberikan totalitas bukan karena dunia menjanjikan balasan yang sepadan, melainkan karena ia telah memilih untuk menjadi bagian dari mata rantai panjang peradaban manusia. Dan mudah-mudahan saya sedang tidak bermimpi.