Soal Rencana Lepas dari Bio Farma, Kimia Farma Tunggu Arahan Holding
- PT Kimia Farma (Persero) Tbk buka suara terkait rencana Danantara Indonesia memisahkan perusahaan dari struktur holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi, yakni PT Bio Farma (Persero).
Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam mengatakan, perseroan masih menunggu arahan dari Bio Farma sebagai induk usaha terkait pelaksanaan rencana deholdingisasi tersebut.
Lantaran, dalam hal ini, Kimia Farma berada pada posisi sebagai pihak yang akan menjalankan kebijakan tersebut, bukan sebagai penggagas.
"Kami menunggu dari Bio Farma, karena kami sebagai obyek di sini, bukan kami berinisiatif, di mana teman-teman dari Bio Farma-lah yang akan menentukan," ujarnya dalam acara Public Expose di kantor Bio Farma Group, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Kimia Farma Gelar RUPS Hari Ini, Bahas Perubahan Susunan Pengurus Perusahaan
Maka dari itu, Djagad menegaskan bahwa perusahaan saat ini tidak bisa memastikan kapan pemisahan resmi dilaksanakan.
Ia menyatakan, Kimia Farma pada prinsipnya akan selalu mengikuti arahan Danantara, termasuk permintaan kepada seluruh BUMN untuk melakukan penataan struktur organisasi.
Saat ini Danantara bersama BP BUMN pun sedang memproses pemangkasan jumlah BUMN, termasuk anak dan cucu usaha, melalui program streamlining. Rencananya, jumlah BUMN yang berkisar 1.000 menjadi hanya sekitar 250 entitas.
Djagad bilang, proses penyederhanaan atau streamlining anak usaha saat ini tengah berjalan di lingkungan Kimia Farma.
"Jadi pelaksanaan deholdingisasi ini, kami menunggu saja, sesuai dengan arahan Bio Farma, tapi kalau streamlining, pengurangan jumlah anak usaha, itu kita sedang berproses," kata dia.
Sebelumnya, rencana pemisahan Kimia Farma dari Bio Farma diungkapkan oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria.
Ia menyebut, Kimia Farma akan langsung berada di bawah kendali Danantara.
Sementara untuk skema pengelolaan PT Kimia Farma Apotek (KFA), anak usaha Kimia Farma, masih dalam tahap kajian.
Langkah ini diambil karena masing-masing entitas memiliki model bisnis yang berbeda.
"Kimia Farma akan langsung berada di bawah Danantara. Untuk Kimia Farma Apotek saat ini masih kami review apakah akan dibuat independen," ujar Dony dalam acara diskusi di Plataran, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Menurut Dony, Bio Farma akan difokuskan pada pengembangan riset dan produksi vaksin.
Induk BUMN sektor farmasi ini memiliki basis utama pada kegiatan riset, yang diharapkan lebih berfokus pada pengembangan vaksin-vaksin baru.
Sedangkan Kimia Farma bergerak di bidang manufaktur obat.
Tantangan utamanya mencakup kemampuan memproduksi obat, memasarkan agar produknya terserap pasar, serta mengoptimalkan utilisasi pabrik untuk menekan biaya pokok produksi (COGS).
Sementara Kimia Farma Apotek menjalankan bisnis ritel farmasi.
Fokusnya pada pemilihan lokasi yang strategis, perhitungan jumlah pelanggan di wilayahnya, hingga pengembangan basis data pelanggan untuk mendukung kinerja bisnis.
"Ke depannya kita mereview bisnis model dari Kimia Farma Apotik, menjadi lebih modern, sehingga SKU (stock keeping unit)-nya tidak hanya obat saja, tetapi juga masuk ke hal-hal yang beauty dan lain-lain," jelasnya.
Baca juga: PP 19/2026 Terbit, Danantara Bisa Bentuk Lebih dari Satu Holding BUMN
Tag: #soal #rencana #lepas #dari #farma #kimia #farma #tunggu #arahan #holding