Kurban dan Krisis Empati Global
IDUL Adha 1447 H hadir pada saat dunia tengah memikul luka kemanusiaan yang sangat dalam.
Di Gaza, Sudan, dan sejumlah wilayah konflik lainnya, manusia tidak sedang berbicara tentang perayaan. Mereka sedang berbicara tentang bagaimana bertahan hidup di tengah reruntuhan, kelaparan, dan ketidakpastian.
Anak-anak kehilangan rumah, bahkan sebelum mereka cukup memahami arti masa depan. Banyak keluarga tidak lagi menghitung hari raya, melainkan menghitung sisa makanan yang mampu membawa mereka melewati hari berikutnya.
Di tengah situasi itu, Idul Adha terasa seperti cermin besar yang memantulkan wajah peradaban modern. Peradaban yang berhasil mencapai kemajuan teknologi luar biasa, tetapi pada saat yang sama gagal menjaga nurani kemanusiaannya sendiri.
Para ilmuwan sosial menyebut keadaan dunia hari ini sebagai polycrisis, situasi ketika berbagai krisis hadir secara bersamaan dan saling memperparah satu sama lain.
Krisis perang bertemu dengan krisis pangan. Krisis ekonomi bertemu dengan krisis lingkungan. Krisis politik bertemu dengan krisis kepercayaan.
Dunia seperti kehilangan pusat moral yang mampu menjaga keseimbangan antara kekuasaan, teknologi, dan kemanusiaan.
Yang lebih ironis, di tengah ancaman kelaparan global dan penderitaan jutaan manusia, anggaran militer dunia terus meningkat dari tahun ke tahun.
Baca juga: Politik dan Pengorbanan
Triliunan dolar AS dihabiskan untuk membangun persenjataan dan memperpanjang konflik. Dunia modern tampaknya tidak kekurangan sumber daya untuk menghancurkan, tetapi kekurangan keberanian moral untuk menyelamatkan.
Krisis pengorbanan
Selama ini, kisah Nabi Ibrahim sering dipahami hanya pada adegan dramatik ketika beliau mengangkat pisau untuk menyembelih Ismail.
Fokus perhatian berhenti pada momen pengorbanan fisik dan turunnya hewan pengganti dari langit. Padahal, inti terdalam dari kisah itu bukan pada pisaunya, tapi pada kemampuan manusia menaklukkan ego dirinya sendiri.
Ibrahim sedang memperlihatkan bahwa pengorbanan sejati selalu dimulai dari keberanian melepaskan sesuatu yang paling dicintai demi nilai yang lebih tinggi.
Yang dikorbankan Ibrahim bukan semata Ismail sebagai anak yang sangat dicintainya, melainkan rasa memiliki yang berlebihan, ego sebagai manusia, dan kecenderungan menjadikan diri sendiri sebagai pusat segalanya.
Di sinilah dunia modern tampak mengalami krisis besar: krisis ketidakmampuan untuk berkorban.
Perang berlangsung karena terlalu banyak pihak yang tidak bersedia melepaskan ambisi geopolitiknya.
Ketimpangan global terus melebar karena kerakusan ekonomi dianggap lebih penting daripada keadilan sosial.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, manusia modern sering terjebak pada budaya akumulasi tanpa batas, yakni mengumpulkan lebih banyak, menguasai lebih besar, dan mempertahankan kepentingan diri sendiri dengan segala cara.
Filsuf dan pemikir Muslim Iran, Seyyed Hossein Nasr, pernah mengingatkan bahwa krisis terbesar dunia modern sesungguhnya bukan krisis teknologi atau ekonomi, melainkan krisis spiritual.
Dalam Man and Nature (1968), Nasr menjelaskan bahwa manusia modern kehilangan kesadaran sakral dalam memandang kehidupan. Akibatnya, manusia memosisikan alam, sesama manusia, bahkan agama sekalipun semata sebagai instrumen kepentingan.
Pandangan itu terasa sangat relevan hari ini. Dunia modern tidak benar-benar miskin sumber daya. Dunia hanya kehilangan etika pengorbanan.
Baca juga: Neutral Buoyancy Negara: Jutaan Orang di Pinggir Jurang Tak Lagi Terdeteksi
Karena itu, Idul Adha sejatinya menjadi kritik spiritual terhadap peradaban yang dibangun di atas kerakusan dan ego kolektif.
Al Quran telah memberikan penegasan yang sangat kuat bahwa bukan darah dan daging kurban itu yang sampai kepada Allah, tapi kualitas ketakwaan dan kesadaran moral manusia.
Ayat ini seperti sedang mengingatkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada simbolisme. Kurban bukan soal seberapa besar hewan yang disembelih. Kurban menuntut seberapa jauh manusia bersedia menghadirkan keberpihakan kepada sesama.
Di sinilah letak paradoks dunia religius hari ini. Simbol keagamaan semakin tampak di ruang publik, tetapi keadilan sosial justru sering melemah.
Rumah-rumah ibadah berdiri megah, tetapi rasa empati sosial sering menipis. Media sosial dipenuhi narasi kesalehan, tetapi pada saat yang sama manusia semakin mudah menormalisasi penderitaan orang lain.
Sosiolog asal Polandia, Zygmunt Bauman (2005), menyebut keadaan ini sebagai lahirnya “masyarakat cair”, yakni masyarakat yang kehilangan ikatan moral yang kokoh.
Dalam dunia yang serba cepat dan visual, penderitaan manusia mudah berubah menjadi sekadar konsumsi informasi.
Kita melihat tragedi setiap hari, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasakan kedalaman luka itu.
Barangkali karena itulah Idul Adha terasa sangat penting di tengah dunia modern. Ia memaksa manusia berhenti sejenak dari ego dan kenyamanannya. Ia mengajarkan bahwa inti keberagamaan bukan hanya kesalehan individual, melainkan kemampuan menghadirkan manfaat sosial bagi orang lain.
Dari ritual ke solidaritas
Kurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Daging kurban tidak boleh berhenti pada pemilik hewan. Ia harus dibagikan kepada keluarga, tetangga, terutama mereka yang membutuhkan.
Dalam satu momentum keagamaan, Islam menghadirkan mekanisme distribusi sosial yang sangat egaliter.
Namun dalam masyarakat modern, simbol sering kali mengalahkan substansi. Kurban tidak jarang berubah menjadi pertunjukan status sosial.
Hewan terbesar dipamerkan. Dokumentasi disebarkan secara berlebihan. Kesalehan perlahan berubah menjadi visualitas.
Padahal, Ibrahim tidak sedang mengajarkan pertunjukan religius. Ia mengajarkan keberanian moral.
Baca juga: Media Sosial: Mesin Baru Pembuat Stres Finansial
Karena itu, solidaritas Idul Adha tidak cukup dipahami sebagai belas kasihan sesaat. Solidaritas harus bergerak lebih jauh menjadi keberpihakan sosial yang nyata.
Membela perdamaian. Menolak normalisasi kekerasan. Mengurangi kesenjangan. Menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan.
Pemikir Muslim, Tariq Ramadan (2008), menegaskan bahwa inti etika Islam bukan hanya kesalehan ritual, tetapi keberanian menghadirkan keadilan dalam ruang publik.
Agama kehilangan maknanya ketika hanya berhenti pada identitas dan simbol, tetapi gagal melahirkan transformasi sosial.
Pesan itu terasa sangat relevan di tengah situasi dunia hari ini. Kita hidup pada zaman ketika manusia begitu mudah berbicara tentang moralitas, tetapi sangat sulit mengorbankan kepentingannya sendiri demi kemanusiaan yang lebih luas.
Mungkin karena itu pula, pertanyaan terpenting pada Idul Adha kali ini bukan lagi sekadar: sapi atau kambing? Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: ego apa yang sebenarnya perlu kita sembelih?
Bagi para pemimpin dunia, itu mungkin berarti keberanian menghentikan ambisi politik yang memperpanjang perang.
Bagi kelompok ekonomi besar, itu berarti kesediaan membatasi kerakusan akumulasi yang melahirkan ketimpangan sosial.
Bagi masyarakat yang hidup dalam kenyamanan, itu berarti keberanian keluar dari ketidakpedulian yang membuat penderitaan manusia lain terasa biasa.
Sebab pada akhirnya, tragedi terbesar dunia modern bukan hanya perang atau kelaparan. Tragedi terbesar dunia modern adalah ketika manusia mulai terbiasa melihat penderitaan tanpa lagi merasa terganggu secara moral.
Idul Adha datang untuk mengguncang kembali kesadaran itu. Takbir yang berkumandang sesungguhnya menjadi pengingat bahwa tidak ada yang lebih besar daripada nilai kemanusiaan itu sendiri.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh oleh kepentingan, warisan terbesar Ibrahim justru terletak pada kesediaannya menempatkan nilai moral di atas dirinya sendiri.
Ketika pisau kurban diangkat pada hari raya ini, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya keikhlasan memberi, tapi kemampuan manusia membebaskan dirinya dari ego yang membuatnya sulit peduli kepada sesama.