Harga Emas Dunia Diprediksi Melandai pada 2026, Investor Mulai Berpaling?
- Proyeksi harga emas dunia kembali menjadi sorotan setelah bank investasi asal Swiss, UBS, memangkas target harga emas akhir 2026 menjadi 5.500 dollar AS per ounce dari sebelumnya 5.900 dollar AS per ounce.
Revisi tersebut muncul di tengah tekanan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan penguatan dollar AS yang dinilai mengurangi daya tarik logam mulia.
UBS menilai investor mulai kembali mempertimbangkan biaya peluang atau opportunity cost dalam investasi emas.
Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini (28/5) Turun Lagi, Melemah Rp 31.000 per Gram
Ilustrasi emas.
Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi relatif kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga tetap.
Analis UBS Dominic Schnider dan Wayne Gordon menyebut kondisi tersebut membuat permintaan investor terhadap emas melemah, terutama dari instrumen exchange traded fund (ETF) dan pasar berjangka.
“Pasar kembali menemukan konsep opportunity cost, dengan karakter emas yang tidak memberikan imbal hasil kini kembali menjadi pertimbangan penting ketika real yield tetap tinggi,” tulis UBS dalam risetnya, dikutip dari Kitco, Kamis (28/5/2026).
Meski memangkas target harga, UBS tetap mempertahankan pandangan bullish jangka panjang terhadap emas. Bank investasi tersebut menilai sejumlah faktor struktural yang menopang reli emas dalam beberapa tahun terakhir masih bertahan.
Baca juga: Harga Emas Turun ke Level Terendah Dua Bulan, Pasar Cemaskan Hal Ini
UBS menyebut tiga faktor utama yang masih mendukung harga emas dalam jangka panjang, yakni tingginya utang pemerintah global, defisit fiskal yang besar, serta diversifikasi cadangan devisa bank sentral ke aset emas.
Ilustrasi uang dollar AS.
Yield obligasi dan dollar AS jadi tekanan utama
Penurunan proyeksi harga emas UBS terjadi setelah harga emas global gagal melanjutkan reli kuatnya pada awal 2026.
Setelah sempat menyentuh level di atas 5.000 dollar AS per ounce, harga emas mulai bergerak terbatas seiring naiknya imbal hasil Treasury AS dan menguatnya dollar AS.
UBS menilai kenaikan yield obligasi AS meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengalihkan sebagian portofolio dari emas ke obligasi.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 28 Mei 2026 Belum Berubah, Cek Sebelum Beli
Selain itu, penguatan dollar AS juga membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan fisik maupun investasi.
“Imbal hasil Treasury yang tinggi dan dollar AS yang kuat terus menekan permintaan investor terhadap logam mulia,” tulis UBS, mengutip TradingView.
Reuters melaporkan, harga emas sempat turun lebih dari 1 persen pada perdagangan pekan ini setelah pasar memperkirakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya menopang harga emas justru memicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak.
Baca juga: Harga Emas Jatuh akibat Inflasi dan Suku Bunga, Serangan AS-Iran Berdampak
Kenaikan ekspektasi inflasi itu membuat pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat. Dampaknya, real yield naik dan menjadi tekanan bagi emas.
Reli harga emas dinilai kehilangan momentum
UBS juga menyoroti mulai melambatnya arus dana ke instrumen investasi emas. Menurut bank tersebut, permintaan ETF emas dan kontrak berjangka telah melemah dibandingkan awal tahun.
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.
“Stabilisasi arus dana saat ini belum cukup untuk mengembalikan momentum kenaikan kuat yang dinikmati emas pada awal 2026,” ungkap UBS.
Reli harga emas dunia memang sempat menjadi salah satu fenomena utama pasar komoditas sejak 2025. Harga emas mencatat penguatan tajam didorong ketidakpastian geopolitik, pelemahan dollar AS, serta ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
Baca juga: Rusia Jual Emas Besar-besaran di Tengah Tekanan Anggaran Perang
Pada Januari 2026, UBS bahkan sempat menaikkan proyeksi harga emas hingga 6.200 dollar AS per ounce untuk periode Maret-September 2026. Saat itu, bank tersebut menilai permintaan investasi dan pembelian bank sentral akan terus menopang harga.
Dalam proyeksi sebelumnya, UBS memperkirakan harga emas dapat bertahan di sekitar 5.000 dollar AS per ounce sepanjang sebagian besar 2026 sebelum turun moderat di akhir tahun.
Bahkan, dalam skenario risiko politik dan keuangan meningkat, harga emas dunia diperkirakan bisa mencapai 5.400 dollar AS per ounce.
Namun kini, UBS melihat kondisi pasar mulai berubah. Penguatan dollar AS dan tingginya yield obligasi dianggap menjadi kombinasi yang mengurangi ruang kenaikan emas dalam jangka pendek.
Baca juga: Bisnis Emas Batangan Moncer, Penjualan Hartadinata Abadi (HRTA) Tembus Rp 20 T
Faktor struktural masih menopang harga
Meski demikian, UBS tidak mengubah pandangan jangka panjang terhadap emas. Bank tersebut tetap melihat emas sebagai instrumen lindung nilai atau hedge yang menarik di tengah ketidakpastian global.
UBS menilai pembelian emas oleh bank sentral masih akan kuat pada 2026. Dalam proyeksi sebelumnya, UBS memperkirakan pembelian resmi bank sentral dapat mencapai sekitar 900 hingga 950 metrik ton.
Menurut UBS, diversifikasi cadangan devisa menjadi salah satu faktor penting yang menopang permintaan emas global. Ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS juga dinilai membuat banyak negara meningkatkan kepemilikan emas.
Ilustrasi emas. Harga emas. Penyebab harga emas naik-turun.
Selain pembelian bank sentral, kekhawatiran terhadap besarnya utang pemerintah global juga dinilai menjadi faktor pendukung emas. UBS menyebut struktur fundamental tersebut belum berubah meski ada tekanan jangka pendek akibat suku bunga tinggi.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik 1 Persen saat Minyak Turun, Investor Mulai Kembali Cari Safe Haven
Revisi target UBS dinilai lebih merefleksikan faktor siklus pasar ketimbang perubahan fundamental jangka panjang.
UBS tetap mempertahankan tiga pilar utama bullish emas, yakni utang pemerintah, defisit fiskal, dan diversifikasi cadangan devisa.
Geopolitik dan inflasi masih jadi variabel penting
Ketidakpastian geopolitik juga tetap menjadi variabel penting dalam pergerakan harga emas. Konflik di Timur Tengah dan ketegangan global lainnya masih berpotensi meningkatkan permintaan aset safe haven.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, pasar justru melihat konflik geopolitik memicu kenaikan harga energi dan inflasi. Kondisi itu berbalik menjadi sentimen negatif bagi emas karena memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi.
Baca juga: JPMorgan: Bank Sentral dan Investor Dorong Harga Emas Naik
Reuters melaporkan harga minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari 4 persen akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pasar menilai risiko inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
UBS juga menilai emas masih memiliki potensi kenaikan dalam skenario tertentu. Dikutip dari TheStreet, dalam pandangan sebelumnya, bank tersebut memperkirakan harga emas bisa mencapai 7.200 dollar AS per ounce jika risiko geopolitik meningkat tajam atau terjadi tekanan besar di pasar keuangan global.
Di sisi lain, UBS juga membuka kemungkinan skenario penurunan harga jika The Fed mengambil langkah lebih agresif dalam menaikkan suku bunga. Dalam skenario bearish, harga emas diperkirakan dapat turun menuju 4.600 dollar AS per ounce.
Ilustrasi emas. Penyebab harga emas naik-turun. Proyeksi harga emas.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Harapan Perdamaian AS-Iran Redakan Kekhawatiran Inflasi
Investor mulai menyesuaikan ekspektasi
Revisi proyeksi UBS menunjukkan pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap prospek emas setelah reli panjang dalam dua tahun terakhir. Sejumlah analis menilai fase “easy money” dari reli emas kemungkinan sudah berlalu.
UBS memperingatkan investor agar memiliki ekspektasi yang lebih realistis terhadap arah harga emas ke depan. Menurut UBS, faktor struktural pendukung emas memang masih ada, tetapi kondisi pasar kini menjadi lebih kompleks dibandingkan fase awal reli.
UBS juga melihat logam mulia lain seperti perak berpotensi memiliki ruang kenaikan lebih besar dibandingkan emas pada fase berikutnya. Diversifikasi investasi logam mulia dinilai menjadi salah satu strategi yang mulai diperhatikan pasar.
Sementara itu, pergerakan harga emas dalam jangka pendek diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi arah kebijakan moneter AS, perkembangan inflasi, pergerakan dollar AS, serta dinamika geopolitik global.
Baca juga: Harga Emas Diprediksi Tembus Rp 2,9 Juta per Gram Pekan Depan, Jika Ini yang Terjadi
Di tengah kondisi tersebut, UBS mempertahankan pandangan bahwa pelemahan harga emas saat ini belum mencerminkan perubahan struktural terhadap prospek jangka panjang logam mulia.
“Pelemahan terbaru kami lihat bersifat sementara, bukan perubahan struktural,” tulis UBS.
Tag: #harga #emas #dunia #diprediksi #melandai #pada #2026 #investor #mulai #berpaling