Intensitas Hubungan RI-Prancis di Era Prabowo: Dari Alutsista hingga Budaya
Presiden RI Prabowo Subianto menemui Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, Prancis, Selasa (14/4/2026). (Dok. Tim Media Prabowo)
16:30
28 Mei 2026

Intensitas Hubungan RI-Prancis di Era Prabowo: Dari Alutsista hingga Budaya

 - Perancis menjadi salah satu negara yang paling sering dikunjungi Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat sebagai Presiden RI.

Berdasarkan catatan Kompas.com, setidaknya Kepala Negara telah empat kali berkunjung ke Perancis, lebih banyak dibanding lawatan ke Rusia, Jepang, Yordania, maupun Brasil.

Kunjungan perdana Prabowo berlangsung pada 14 Juli 2025, ketika ia diundang menghadiri parade militer Hari Nasional Perancis atau Bastille Day.

Setelah itu, Prabowo kembali mengunjungi Perancis pada Januari 2026, April 2026, dan Mei 2026.

Baca juga: Gerindra Respons Kritik soal Prabowo ke Perancis dan Program 1.098 Sapi Kurban

Di luar lawatan tersebut, Presiden Perancis Emmanuel Macron juga sempat berkunjung ke Indonesia pada Mei 2025.

Macron mendatangi Istana Merdeka Jakarta, Akademi Militer (Akmil) Magelang, hingga Candi Borobudur.

Artinya, dalam hampir dua tahun terakhir, Prabowo dan Macron setidaknya telah lima kali bertemu secara langsung.

Intensitas hubungan itu menandai babak baru relasi Indonesia-Perancis.

Jika sebelumnya hubungan kedua negara identik dengan transaksi pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista), di era Prabowo hubungan tersebut tampak bergerak lebih jauh, menuju kemitraan strategis yang mencakup geopolitik Indo-Pasifik, transfer teknologi, pendidikan militer, energi, hingga mineral kritis.

Perkuat kemitraan strategis

Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan, kunjungan Presiden Prabowo ke Perancis dilakukan untuk memperkuat kemitraan strategis kedua negara yang terus berkembang melalui intensitas hubungan bilateral dan kedekatan kedua pemimpin negara.

Dalam kunjungan keempat Prabowo ke Perancis pada Mei 2026, Indonesia dan Perancis bahkan bersiap meningkatkan hubungan bilateral menuju Comprehensive Strategic Partnership.

Sugiono menyebut, peningkatan hubungan itu mencerminkan semakin pentingnya posisi Indonesia dan Perancis di tengah ketidakpastian global.

"Mencerminkan semakin pentingnya Indonesia dan Prancis bagi satu sama lain di tengah ketidakpastian global," kata Sugiono, pada Selasa (26/5/2026).

Baca juga: Prabowo ke Perancis, Fadli Zon Singgung Hubungan Baik Kedua Negara

Kunjungan tersebut juga merupakan balasan atas lawatan Macron ke Indonesia pada Mei 2025 lalu.

Saat bertemu Prabowo di Istana Merdeka Jakarta, Macron menyebut, hubungan Indonesia dan Perancis berkembang sangat cepat dalam satu dekade terakhir.

“Besok ada perjanjian yang akan ditandatangani di Borobudur, persahabatan antara Indonesia dan Perancis. Ini bukan hanya satu kata saja, tetapi memang semakin kuat dari tahun ke tahun,” ujar Macron, Rabu (28/5/2025).

Dari Rafale hingga kemitraan pertahanan

Kunjungan Prabowo ke Perancis sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu mitra pertahanan Perancis di Asia Tenggara.

Kerja sama pertahanan termasuk pembelian Rafale, menjadi salah satu fondasi utama hubungan Prabowo-Macron saat ini.

Saat masih menjabat Menteri Pertahanan, Prabowo menandatangani kontrak pembelian 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation.

Sejak awal 2026, unit-unit Rafale mulai dikirim secara bertahap ke Indonesia.

Kementerian Pertahanan memastikan tiga unit Rafale pertama tiba pada Januari 2026.

Kemudian, pada Mei 2026, Prabowo menyerahkan enam unit Rafale kepada TNI AU di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Penyerahan itu juga disertai alutsista lain seperti Airbus A400M Atlas, Dassault Falcon 8X, hingga radar GCI GM403.

Baca juga: Kata Para Menteri soal Kunker Ketiga Prabowo ke Perancis di 2026

Dalam acara tersebut, Prabowo menegaskan penguatan alutsista menjadi penting di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.

"Kita tahu geopolitik penuh ketidakpastian dan kita tahu pertahanan adalah syarat utama untuk stabilitas dan jaminan kita bisa berdaulat," kata Prabowo, pada 18 Mei 2026.

Namun, hubungan RI-Perancis tidak lagi berhenti pada transaksi pembelian senjata.

Dalam kunjungan Macron ke Indonesia pada Mei 2025, kedua negara menandatangani Letter of Intent (LoI) on Strategic Defense Cooperation antara Kementerian Pertahanan RI dan Kementerian Angkatan Bersenjata Perancis.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebelum pertemuan itu menyebut, LoI tersebut berkaitan dengan pengembangan kerja sama alutsista strategis, termasuk Rafale dan kapal selam Scorpene.

Selain LoI pertahanan strategis, kedua negara juga meneken kerja sama perlindungan informasi rahasia militer atau Military Protection of Classified Information Agreement (MPCIA).

Seluruh penandatanganan dilakukan di Istana Merdeka Jakarta.

Perkembangan itu menunjukkan hubungan Indonesia-Perancis mulai bergerak dari pola buyer-seller menuju strategic defense partnership.

Diplomasi budaya dan pendidikan militer

Kerja sama Indonesia-Perancis juga diperluas ke sektor pendidikan dan kebudayaan.

Saat mengunjungi Akmil Magelang bersama Macron, Prabowo memperlihatkan langsung laboratorium bahasa Perancis yang digunakan para prajurit dan perwira TNI sebelum menjalani pendidikan di Perancis.

Sementara lawatan Macron ke Candi Borobudur membawa dimensi diplomasi budaya.

Dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka sebelumnya, kedua negara memang mengadopsi empat deklarasi bersama, mulai dari pengembangan kemitraan strategis Indonesia-Perancis hingga 2050, strategi kebudayaan, penyelesaian damai isu Palestina, hingga penguatan hubungan bilateral.

Perkuat kerja sama energi

Sedangkan kunjungan terakhir Prabowo pada Mei ini merupakan bentuk dari kunjungan kenegaraan balasan Macron ke Indonesia pada 2025.

Prabowo dan Macron menjalani sejumlah agenda resmi untuk memperkuat hubungan kerja sama kedua negara.

Dalam pertemuan bilateral, keduanya akan membahas penguatan kerja sama di berbagai bidang strategis, antara lain pertahanan, energi terbarukan, mineral kritis, pendidikan, sains, dan inovasi.

Baca juga: Prabowo ke Perancis, Menlu: Undangan dari Presiden Macron yang Tertunda

Kunjungan kenegaraan ini juga diharapkan membangun kemitraan yang semakin berimbang dan memberi manfaat nyata bagi pembangunan nasional, terutama dalam penguatan ekosistem industri, investasi hilirisasi, penguasaan teknologi, serta inovasi untuk industri masa depan.

Indonesia dan Perancis juga memiliki posisi penting dalam hubungan antar kawasan.

Indonesia dinilai menjadi salah satu mitra utama Eropa di kawasan Asia, sementara Perancis memiliki peran strategis sebagai penghubung hubungan Asia Tenggara dengan Eropa.

Kementerian Luar Negeri menyatakan, peningkatan kemitraan yang dilakukan tidak hanya memperkuat diplomasi ketahanan kedua negara, tetapi juga menegaskan komitmen bersama untuk perdamaian serta tatanan dunia berbasis aturan.

Tag:  #intensitas #hubungan #prancis #prabowo #dari #alutsista #hingga #budaya

KOMENTAR