Plastik Mahal, Puan Maharani: Kemasan Daun Bisa Jadi Solusi UMKM
Ketua DPR RI Puan Maharani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (12/3/2026).(DPR RI )
18:58
15 April 2026

Plastik Mahal, Puan Maharani: Kemasan Daun Bisa Jadi Solusi UMKM

- Kenaikan harga plastik hingga 30–80 persen sejak awal 2026 mulai menekan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman. Ketergantungan pada kemasan plastik sekali pakai membuat biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Ketua DPR RI Puan Maharani menilai kondisi ini bisa menjadi momentum bagi pelaku UMKM untuk beralih ke kemasan berbahan alami, seperti daun.

Harga plastik yang melonjak dan pasokan yang mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil semakin kesulitan dari sisi ekonomi. Di pendahulu kita dulu, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama. Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu,” ujar Puan dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, penggunaan kemasan organik bukan hal baru di Indonesia. Sejak dulu, masyarakat telah memanfaatkan bahan alami seperti daun pisang atau daun jati untuk membungkus makanan.

Baca juga: Dari Dapur ke Meja Makan, Ini Sumber Mikroplastik di Makanan Anda

Praktik tersebut hingga kini masih bertahan di sejumlah daerah, termasuk di Jawa Tengah. Berbagai makanan tradisional seperti nasi liwet, gudeg, lontong, hingga lemper masih menggunakan daun sebagai pembungkus.

Selain lebih ramah lingkungan, kemasan berbahan alami juga dinilai memiliki nilai tambah. Dalam beberapa kasus, penggunaan daun justru mampu menjaga kualitas makanan, bahkan memberikan aroma khas yang meningkatkan daya tarik produk.

“Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif. Selain mendukung warisan budaya Indonesia, kita juga turut mengkampanyekan gerakan ramah lingkungan,” ujar Puan.

Ia menambahkan, peralihan ke kemasan organik juga sejalan dengan upaya pengurangan sampah plastik dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Mengutip data United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 19 hingga 23 juta ton limbah plastik mencemari ekosistem perairan dunia setiap tahun. Bahkan, setiap hari terdapat sekitar 2.000 truk sampah plastik yang dibuang ke laut, sungai, dan danau.

Baca juga: 963 Kilogram Sampah Terkumpul di Bromo, Didominasi Sampah Plastik

Namun demikian, Puan mengakui bahwa perubahan kebiasaan tidak bisa dilakukan secara instan. Ia mendorong langkah bertahap, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di rumah makan, khususnya untuk konsumsi di tempat.

Selain itu, pemerintah diminta menyiapkan ekosistem pendukung agar transisi ke kemasan alami berjalan efektif. Dukungan tersebut mencakup regulasi, ketersediaan bahan baku, hingga sosialisasi kepada masyarakat.

“Pada dasarnya masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan yang ada. Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai,” ucap Puan.

Puan juga mendorong kementerian terkait, seperti Kementerian Lingkungan Hidup (LH), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan Kementerian Ekonomi Kreatif, untuk berkolaborasi menyediakan solusi kemasan alternatif yang mudah diakses dan terjangkau.

“Pemerintah perlu memfasilitasi kebutuhan pelaku usaha dan konsumen terhadap alternatif kemasan. DPR akan terus melakukan pengawasan sesuai tugas dan kewenangannya,” tutur Puan.

Tag:  #plastik #mahal #puan #maharani #kemasan #daun #bisa #jadi #solusi #umkm

KOMENTAR