Nasi Bukan Musuh! Prof Ali Khomsan Bongkar 4 Mitos Gizi yang Sering Salah Kaprah
- Banyak orang tua bangga melihat anaknya gemuk karena dianggap sehat dan makmur. Di sisi lain, nasi sering kali menjadi "kambing hitam" utama penyebab perut buncit. Namun, benarkah anggapan tersebut?
Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Ali Khomsan menegaskan, bahwa fenomena ini bukanlah sekadar mitos, melainkan bentuk ketidakpahaman masyarakat terhadap konsep gizi yang benar.
Berikut adalah fakta di balik mitos gizi yang sering salah kaprah di masyarakat.
1. Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat
Dahulu, pipi anak yang tembam sering dianggap sebagai simbol kesejahteraan. Faktanya, kegemukan justru menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit kronis di masa depan.
"Kalau zaman dulu orang mengatakan gemuk itu lambang kemakmuran, lambang kesejahteraan, tetapi sekarang kita menyadari bahwa gemuk itu juga merupakan lambang bagaimana kita menjadi lebih mudah terekspos oleh penyakit-penyakit yang kita sebut sebagai penyakit tidak menular ya," ujarnya kepada JawaPos.com.
Menurutnya, standar anak sehat bukan dilihat dari gemuknya, melainkan kesesuaian berat dan tinggi badan dengan standar medis yang berlaku. Ali mengungkapkan, jika pada usia muda sudah terkena hipertensi dan diabetes, dapat membuka peluang terjangkit penyakit lainnya yang lebih parah di usia tua.
"Hipertensi, diabetes, penyakit gula, itu adalah salah satunya disebabkan oleh faktor risiko yang penting yaitu namanya kegemukan," terangnya.
2. Anak Berbadan Kecil Belum Tentu Stunting
Sering kali orang tua panik melihat anaknya terlihat lebih kecil dari teman sebayanya. Ali menjelaskan bahwa stunting memiliki parameter yang sangat terukur, tidak bisa hanya dikira-kira secara kasat mata.
"Stunting itu sudah ada ukurannya dan di setiap posyandu pasti sudah tahu berapa kalau anak tingginya, misalnya anak umur 5 tahun tingginya hanya 90 cm, maka itu stunting, karena stunting itu ukurannya adalah tinggi badan. Ya jadi standarnya sudah jelas, ada di Puskesmas, ada di kader posyandu," jelasnya.
Pemerintah sendiri terus berupaya mengatasi stunting melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini sasarannya diperluas mulai dari balita hingga ibu hamil.
3. Makan Malam vs Makan Sore
Banyak yang percaya makan malam adalah penyebab utama kegemukan. Ali meluruskan, masalah sebenarnya terletak pada jeda waktu antara makan dan tidur. Idealnya, tubuh butuh waktu 4-5 jam untuk mencerna makanan sebelum beristirahat.
"Jadi makan malam itu memang berpotensi untuk menjadi gemuk, karena memang kita ini harus memberikan jeda antara makan dengan waktu tidur ya, itu jedanya bisa 4 jam, 5 jam, sehingga sebenarnya yang lebih dianjurkan itu adalah makan sore, supaya proses pencernaan itu berlangsung secara optimal sampai kita berangkat tidur jam 9 atau jam 10," katanya.
Apalagi, kata Ali, dengan bertambahnya usia, metabolisme tubuh akan semakin menurun.
"Jadi apalagi kita ini orang-orang yang usia paruh baya ya, kemungkinan berpeluang gemuknya lebih besar ya, sehingga karena metabolisme yang sudah semakin turun, sehingga oleh karena itu diusahakan bukan makan malam ya, tetapi makan sore," ucapnya.
4. Nasi Bikin Gemuk? Ini Masalah Psikologis
Nasi sering dihindari saat diet karena dianggap tinggi kalori. Namun, alasan sebenarnya mengapa nasi membuat gemuk adalah karena rasanya yang terlalu cocok dengan lidah orang Indonesia, sehingga sulit untuk berhenti makan.
"Tetapi kalau saya melihat bahwa mengapa nasi itu dalam tanda kutip, orang mengatakan ini bisa menjadi sumber masalah kegemukan, karena nasi itu enak. Jadi ketika orang makan nasi enak, dia makannya banyak. Dibandingkan kalau dia makan singkong atau dia makan ubi jalar ya, itu kan tidak seenak nasi," ungkap Ali.
Karena sudah terbiasa makan nasi sejak kecil dengan lauk pauk yang pas, kuantitas nasi yang masuk ke tubuh cenderung lebih banyak dibandingkan sumber karbohidrat lainnya seperti ubi atau singkong. Padahal, jika karbohidrat lainnya dikonsumsi dengan jumlah yang banyak, juga berdampak buruk pada berat badan.
"Jadi saya kira ada kaitan dari kuantitas yang dikonsumsi dengan bagaimana kita menyikapi nasi itu sebagai makanan pokok yang memang mempunyai cita rasa enak yang tidak tergalahkan oleh makanan bumbi-umbian," katanya.
"Memang ada perbedaan kalori juga, tetapi saya kira itu bukan merupakan penyebab mengapa orang makan nasi itu cenderung lebih mudah gemuk. Kalau saya melihatnya, karena orang makan nasi itu kuantitasnya biasanya akan lebih banyak," jelasnya.
Refleksi Hari Gizi: Sehat Dimulai dari Piringku
Diketahui, Hari Gizi Nasional (HGN) 2026 jatuh pada tanggal 25 Januari. Hari Gizi Nasional 2026 mengangkat tema "Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal" dengan slogan "Sehat Dimulai dari Piringku".
Ali mengaku setuju dengan slogan HGN 2026. Hal ini mengingatkan bahwa apa yang kita konsumsi adalah penentu kesehatan jangka panjang. Makanan bisa menjadi obat, namun bisa juga menjadi sumber penyakit jika kita tidak bijak memilihnya.
"Jadi memang kesehatan itu bergulang pada apa yang tersaji di piring dan itu membuat kita sehat atau membuat kita tambah sakit," imbuhnya.
Tag: #nasi #bukan #musuh #prof #khomsan #bongkar #mitos #gizi #yang #sering #salah #kaprah