Benarkah Umur Panjang Bawaan Lahir? Ini Penjelasan Sains
Ilustrasi orang tua panjang umur, orang tua berusia 100 tahun.()
11:40
17 Mei 2026

Benarkah Umur Panjang Bawaan Lahir? Ini Penjelasan Sains

- Banyak orang ingin berumur panjang. Walau kamu bisa membentuk pola hidup sehat, peluang hidup lama ternyata juga dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak bisa kita ubah, yaitu genetik bawaan.

Sebuah kajian membuktikan, porsi genetik ternyata jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Artinya, DNA berperan penting atas batas umur seseorang.

Topik ini dulunya sangat sulit dikaji karena butuh waktu puluhan tahun untuk mengumpulkan data usia manusia.

Kajian lawas bertajuk "The heritability of human longevity: a population-based study of 2872 Danish twin pairs born 1870-1900", menemukan gen hanya menyumbang 20-25 persen hasil akhir umur seseorang.

"Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan sifat bawaan lain seperti indeks massa tubuh, yang berkisar sekitar 50 persen," kata dokter kedokteran darurat sekaligus pakar umur panjang di Biograph, Michael Doney, melansir Prevention, Minggu (17/5/2026).

Baca juga: 4 Latihan untuk Perkuat Sendi Lutut, Kuat Naik Tangga di Usia Senja

Peran dominan DNA dalam menentukan rentang usia

Sebuah studi baru bertajuk "Heritability of intrinsic human life span is about 50% when confounding factors are addressed" yang terbit Januari 2026, mengungkap, komposisi genetik memegang kendali atas 55 persen rentang usia seseorang.

Sisanya sebesar 45 persen berasal dari keseharian yang bisa dikontrol, seperti pola makan, pola tidur, dan seberapa rutin kamu berolahraga.

"Jika pewarisan genetik tinggi, gen umur panjang dapat mengungkap mekanisme penuaan dan memberi informasi pada pengobatan dan kesehatan masyarakat," ujar dokter spesialis umur panjang dan pakar genetika di Parsley Health, Nisha Chellam, M.D.

Baca juga: 5 Cara Mudah dan Murah untuk Hidup Panjang Umur Menurut Dokter

Mengukur pengaruh biologis lewat studi saudara kembar

Dalam riset itu, peneliti menganalisis basis data independen yang memuat pendaftaran saudara kembar, salah satunya dari Swedish Adoption/Twin Study of Aging. Ini memungkinkan peneliti membandingkan DNA kembar yang dibesarkan terpisah.

"Hipotesisnya adalah kembar identik berbagi 100 persen materi genetik, dan kembar non-identik berbagi 50 persen materi genetik. Jadi, jika kembar identik memiliki usia yang mirip, maka gen pasti berpengaruh," kata dr. Chellam.

Sementara itu, dr. Doney menjelaskan bahwa metode ini membantu peneliti mengurangi pengaruh faktor luar, seperti lingkungan atau gaya hidup, sehingga mereka bisa lebih fokus melihat hubungan usia dengan faktor biologis dan genetika.

Data yang telah disaring kemudian dibandingkan dengan catatan penduduk berusia di atas 100 tahun di Amerika Serikat untuk mengurangi kemungkinan bias akibat perbedaan lokasi penelitian.

Baca juga: Ingin Bugar dan Panjang Umur? Lakukan Variasi Latihan Olahraga

Ilustrasi lansia, wajah keriput.Google Gemini AI Ilustrasi lansia, wajah keriput.

Hasilnya, saudara kandung dari orang-orang yang berhasil hidup hingga usia seabad juga menunjukkan pola pewarisan genetik yang mirip dengan kembar non-identik, yakni sekitar 50 persen.

Dr. Chellam menambahkan, ketika faktor kematian dari luar seperti kecelakaan atau kondisi lingkungan disingkirkan, pengaruh penyakit yang diturunkan dalam keluarga, misalnya penyakit jantung, demensia, dan kanker, menjadi terlihat lebih jelas.

Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa faktor keturunan memiliki peran besar terhadap umur panjang seseorang.

Baca juga: Skizofrenia merupakan Penyakit Keturunan, Mitos atau Fakta?

Beda penyakit, beda pula tingkat pengaruh genetiknya

Para pemilik gen umur panjang juga lebih lambat mengembangkan kondisi kronis, sehingga proses penuaan pembuluh darah, otak, tulang, dan jantung, menjadi jauh lebih lambat. Ini memberikan mereka masa sehat lebih lama.

Meski begitu, efek genetik bekerja secara berbeda pada setiap tipe penyakit. Misalnya pada penyakit jantung, faktor genetik menyambung separuh dari faktor risiko, sedangkan untuk demensia bisa mencapai 70 persen, dan pada penyakit kanker sekitar 30 persen. 

Namun, para ahli menegaskan bahwa kita juga wajib menjalani pola hidup sehat untuk menurunkan risiko penyakit, bahkan jika kita punya gen panjang umur dalam keluarga.

"Umur panjang lebih sederhana dari yang kita bayangkan. Fokuslah pada pilar kesehatan, yaitu bergerak, nutrisi, pengurangan stres, tidur, dan komunitas," tutur dr.Chellam.

"Gen sangat memengaruhi cara kita menua dan berapa lama kita bisa hidup, tetapi usia di dunia nyata tetap bergantung pada seberapa baik kita melindungi kesehatan seiring berjalannya waktu," pungkas dia.

Baca juga: 6 Kebiasaan Orang-orang Panjang Umur yang Hidup sampai 100 Tahun

Tag:  #benarkah #umur #panjang #bawaan #lahir #penjelasan #sains

KOMENTAR