Hasil Eksperimen Ungkap Masyarakat Indonesia Rentan Terjebak Konten ''Clickbait''
Ilustrasi lansia, konten clickbait.(Google Gemini AI)
22:05
29 April 2026

Hasil Eksperimen Ungkap Masyarakat Indonesia Rentan Terjebak Konten ''Clickbait''

- Pernahkah kamu berniat membuka gawai hanya untuk mengecek jadwal kereta atau penugasan di grup kantor, tetapi berujung menggulir layar selama berjam-jam hingga lupa waktu?

Di era serba digital, rutinitas harian sering kali "dibajak" oleh ragam konten sensasional, yang memang dirancang agar jari bergerak jauh lebih cepat daripada akal pikiran.

Menyadari fenomena hilangnya kendali diri yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat, Blibli menggelar sebuah eksperimen sosial bertajuk "Jeda 10 Detik".

Baca juga: Hati-hati, Konten Pamer Fisik di Media Sosial Bisa Picu Masalah Gangguan Makan

Melalui sebuah situs interaktif, ratusan ribu masyarakat Indonesia diuji tingkat refleksnya saat dihadapkan pada ragam informasi yang memancing emosi dan mendorong pengambilan keputusan secara impulsif.

"Ternyata, konten clickbait masih jadi pemenangnya. Jadi, karena banyak awalnya tuh penasaran, kepo, FOMO," kata Head of PR Blibli Nazrya Octora dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Nazrya mengungkapkan, bahwa rasa penasaran memegang kendali utama saat seseorang berselancar di dunia maya.

Temuan menarik eksperimen jeda

Kelompok dan waktu yang paling rentan terkena clickbait

Eksperimen yang melibatkan lebih dari 158.000 warga ini menyodorkan simulasi konten sehari-hari untuk melihat seberapa kuat daya kritis mereka. Berdasarkan hasil pemantauan, ada sejumlah temuan menarik tentang kebiasaan warga saat mengakses internet.

Pertama, konten-konten dengan judul bombastis atau janji manis yang tidak masuk akal terbukti masih sangat diminati.

Misalnya adalah penawaran turun berat badan puluhan kilogram cuma bermodal teknik pernapasan. Konten semacam ini sukses menjebak banyak orang untuk buru-buru mengklik tautannya.

Selain itu, eksperimen ini juga memperlihatkan bahwa kelompok lanjut usia (lansia) alias baby boomers justru menjadi sasaran yang paling gampang terpancing clickbait di dunia maya.

Baca juga: 8 Tanda Tubuh Kita Butuh Jeda Media Sosial

"Jadi, kita harus sering-sering ingetin circle baby boomers kita yang usianya 65 tahun ini, karena ternyata mereka paling gercep nge-klik banner berita-berita kayak tadi," ucap Nazrya.

Respons cepat tanpa pikir panjang ini rupanya merata di berbagai kota besar. Tingkat partisipasi reaktif paling tinggi ada di Jakarta, disusul oleh Depok dan Surakarta.

Namun, tidak ada perbedaan besar dari segi gender, sebab perempuan dan laki-laki terbukti sama-sama gampang bereaksi.

Ilustrasi lansia.Google Gemini AI Ilustrasi lansia.

Dari segi waktu, daya kritis warga justru menurun drastis pada jam-jam sibuk perkantoran, terutama pukul 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00.

"Ini kalau jam ngantor sih memang setiap dua jam biasanya agak lemah konsentrasi gitu kan ya," tutur Nazrya.

Lebih lanjut, ternyata tingkat kelengahan masyarakat juga tidak kenal hari libur. Pada periode libur panjang dan hari raya, interaksi warga di dunia maya tetap melonjak tajam.

Hal ini menunjukkan tidak adanya batasan antara waktu istirahat dan kebiasaan menatap layar ponsel.

Baca juga: Riuh Berita Politik, Jangan Sampai Bikin Kamu Sebar Hoaks

Melatih kendali diri melalui aktivitas jeda sederhana

Untuk memutus rantai impulsivitas tersebut, eksperimen ini menekankan pentingnya mengambil jeda sejenak sebelum bereaksi terhadap sebuah konten.

Aktivitas sederhana seperti memijat telinga, atau bermain game mengisi air yang juga difasilitasi oleh eksperimen ini, dirancang untuk meredam stres tak kasatmata, sekaligus "mendinginkan" otak.

Psikolog Irma Gustiana memaparkan, bahwa latihan mengendalikan emosi ini bertujuan untuk mengalihkan energi impulsif menjadi aktivitas yang lebih sadar secara kognitif. Dengan berhenti sejenak, kau sebenarnya sedang melatih kendali diri agar tidak disetir oleh emosi sesaat.

"Ketenangan itu ternyata bukan soal berapa lama teman-teman, tapi seberapa terasanya di diri kita. Kalau sekali main sudah membuat lega, ya artinya tujuan mindful-nya berhasil," kata Irma dalam keterangan tertulis.

Dampak nyata jeda singkat bagi kejernihan pikiran

Hasilnya, praktik jeda 10 detik ini terbukti efektif mengubah cara seseorang dalam mencerna informasi.

Banyak peserta yang awalnya merasa bosan atau tegang, mengaku merasa jauh lebih santai dan objektif setelah melakukan istirahat singkat tersebut.

Data eksperimen menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh orang merasa lebih positif dalam merespons informasi digital usai mengambil jeda.

Ketenangan pikiran ini menjadi modal utama agar seseorang tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang manipulatif.

"Intinya, kami ingin budaya jeda ini membuat kita menjadi pemegang kendali atas emosi kita sendiri," jelas Nazrya.

Pengendalian diri inilah yang diyakini menjadi kunci utama, agar setiap individu bisa mengambil keputusan dengan pikiran jernih, baik di dunia maya maupun nyata.

Baca juga: Lomba Melamun di Kotagede, Ruang Jeda di Tengah Hidup Serba Cepat

Tag:  #hasil #eksperimen #ungkap #masyarakat #indonesia #rentan #terjebak #konten #clickbait

KOMENTAR