Susu Kental Manis Bukan untuk Konsumsi Harian, Ini Penjelasan Pakar IPB
Susu kental manis (SKM) masih sering dikonsumsi sebagai minuman harian di banyak keluarga Indonesia, terutama saat sarapan.
Padahal, produk ini sebenarnya tidak dirancang sebagai pengganti susu.
Melansir laman resmi IPB University, Rabu (25/3/2026), pakar gizi dari IPB University mengingatkan bahwa konsumsi SKM sebagai minuman utama dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Baca juga: Sering Dianggap Sopan, Ternyata Anak Tak Boleh Dipaksa Salim atau Peluk
Kandungan gula jauh lebih tinggi
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa SKM merupakan produk olahan susu dengan tambahan gula dalam jumlah besar.
Ia menyebut sekitar 40 hingga 50 persen kandungan SKM adalah gula.
“Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian,” ujar dr. Karina.
Kondisi ini membuat SKM tidak setara dengan susu segar maupun susu UHT dari sisi nilai gizi.
Baca juga: Tanpa Disadari, Kebiasaan Orangtua Ini Bisa Melanggar Batasan Anak
Takaran kecil bisa cepat memenuhi batas gula harian
Ilustrasi susu kental manis. Susu kental manis masih sering dikonsumsi sebagai minuman harian, padahal kandungan gulanya tinggi dan tidak dirancang sebagai pengganti susu.
Karina menjelaskan bahwa dalam satu takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan SKM, terdapat sekitar 15 gram gula.
Sementara itu, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan dalam pedoman gizi seimbang adalah 50 gram.
Artinya, konsumsi sekitar sembilan sendok makan SKM dalam sehari sudah bisa memenuhi batas tersebut.
“Jika seseorang mengonsumsi sekitar sembilan sendok makan SKM dalam sehari, jumlah tersebut sudah mencapai batas konsumsi gula harian,” jelasnya.
Baca juga: Bukan Sekadar Izin, Ini Pentingnya Consent untuk Anak Sejak Kecil
Nilai gizi tidak mencukupi sebagai susu harian
Selain tinggi gula, kandungan protein dan lemak dalam SKM juga dinilai tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi harian.
Karina menegaskan bahwa anggapan SKM sebagai pengganti susu minum tidak tepat.
Produk ini tetap mengandung unsur susu, tetapi jumlahnya sudah berkurang karena proses pengolahan.
Hal ini membuat SKM lebih tepat digunakan sebagai pelengkap, bukan sebagai sumber utama nutrisi.
Perlu memperhatikan cara konsumsi
Karina mengingatkan masyarakat untuk lebih memperhatikan takaran saat mengonsumsi SKM. Ia menyarankan penggunaan sendok takar agar jumlah konsumsi gula dapat dikontrol.
“Jangan langsung menuangkan dari kaleng. Dengan menakar, kita bisa mengetahui batas penggunaannya,” ujarnya.
Kebiasaan menuang langsung tanpa takaran berisiko membuat konsumsi gula berlebihan tanpa disadari.
Baca juga: Berkaca dari Kasus FH UI, Psikolog Ungkap Cara Mendidik Anak Laki-laki Sejak Dini
Lebih tepat sebagai pelengkap makanan
Dalam praktiknya, SKM lebih sesuai digunakan sebagai pemanis atau pelengkap rasa dalam makanan dan minuman.
Karina juga menyoroti konsumsi minuman manis saat momen tertentu, seperti berbuka puasa.
Ia mengingatkan agar penggunaan SKM tidak disertai tambahan gula lain.
“Kalau sudah menggunakan SKM yang tinggi gula, sebaiknya tidak menambahkan gula pasir atau sirup lagi agar asupan gula tetap seimbang,” katanya.
Baca juga: Psikolog Ungkap Kebiasaan di Rumah yang Bisa Membentuk Sikap Seksis pada Anak
Kesadaran konsumsi jadi kunci
Pemahaman tentang kandungan dan fungsi SKM menjadi penting agar tidak terjadi kesalahan penggunaan.
Mengonsumsi SKM secara bijak dapat membantu menjaga asupan gula tetap dalam batas aman.
Dengan demikian, risiko kesehatan akibat konsumsi gula berlebih dapat diminimalkan.
Tag: #susu #kental #manis #bukan #untuk #konsumsi #harian #penjelasan #pakar