Tak Sekedar Malu, Ini Dampak Psikologis Korban Candaan Seksual
- Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) memperlihatkan bagaimana ruang digital bisa menjadi tempat yang tidak aman bagi perempuan.
Melalui tangkapan layar yang tersebar di media sosial, publik melihat bagaimana narasi seksis dijadikan bahan candaan di dalam grup internal.
Bagi mereka, hal tersebut mungkin dianggap "cuma bercanda". Namun bagi korban, dampaknya sangat nyata dan memengaruhi kesehatan mental mereka secara mendalam.
"Dampaknya ketika dia tahu dia dijadikan bahan bercandaan, biasanya respon paling umumnya tentunya malu. Karena mungkin dia pun enggak sadar kalau dia dijadikan objek bercandaan seperti itu," ujar Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi. Psikolog saat dihubungi pada Kamis (16/4/2026).
Psikolog klinis dewasa yang berpraktik di lembaga kesehatan mental Anvaya Latentia Psikologi ini melanjutkan, banyak yang beranggapan bahwa menjadi bahan candaan seksual hanya akan menimbulkan rasa malu sesaat.
Padahal, ketika seseorang menyadari dirinya dijadikan objek atau bahan fantasi tanpa persetujuan, terjadi guncangan psikologis yang bisa mengubah cara pandang individu tersebut terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya.
Munculnya perasaan menyalahkan diri sendiri
Adelia menjelaskan bahwa salah satu dampak yang paling merusak adalah perubahan cara pandang korban terhadap diri sendiri.
Korban cenderung merasa ada yang salah dengan dirinya, sehingga orang lain merasa berhak menjadikannya sebagai bahan lelucon seksual.
Hal ini sering terjadi karena korban merasa termanipulasi oleh lingkungan yang menormalisasi pelecehan tersebut.
Baca juga: Dugaan Kekerasan Seksual oleh Dosen Unpad, BEM Desak Usut Tuntas, Kampus Janji Sanksi Berat
"Dia jadi merasa salah karena di grup itu semuanya setuju dengan bercandaan itu Jadinya dia merasa kayak, 'Apa memang gue ya yang salah? Makanya gue digituin orang-orang?'," kata Adelia yang juga aktif di lembaga kesehatan mental Jaga Batin ini.
Hal sederhana seperti mengunggah foto di media sosial pribadi juga bisa menjadi sumber penyesalan bagi korban. Mereka khawatir jika foto-foto tersebut turut dijadikan bahan lelucon seksual.
Hilangnya kepercayaan diri dan rasa tidak berdaya
Dampak sistemik dari normalisasi pelecehan membuat korban merasa tidak berdaya untuk melawan atau membela diri.
Baca juga: Sosiolog: Obrolan Seksual di Grup Chat Pria Bukan Hal Wajar
Adelia menyebutkan bahwa kondisi ini bisa berujung pada menurunnya rasa percaya diri secara drastis. Korban dapat merasa terpojok oleh fakta bahwa mereka dijadikan bahan objektifikasi tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Jadi melihat ke diri sendirinya negatif, jadi negative self-image, kemudian jadi yenggak percaya diri, dan tentunya jadi takut ngapa-ngapain karena mungkin dia pun merasa enggak berdaya," tutur dia.
Ketidakberdayaan tersebut membuat korban merasa tidak memiliki kendali atas ruang pribadinya sendiri di media sosial.
Baca juga: Pelecehan Seksual Tak Selalu Fisik, Ini Bentuknya dari Catcalling hingga Komentar di Medsos
Risiko gangguan mental berat dan masalah fisik
Jika kondisi psikologis awal tidak tertangani dengan baik, dampak pelecehan verbal ini bisa berkembang menjadi gangguan mental yang lebih kompleks.
Adelia menekankan bahwa stres akut bisa meningkat menjadi kecemasan, depresi, hingga trauma jangka panjang jika gejalanya menetap selama lebih dari enam bulan.
Pelecehan yang berfokus pada komentar fisik memiliki risiko yang lebih spesifik, salah satunya yakni munculnya gangguan makan atau Eating Disorder (ED).
Ketika fisik seseorang diobjektifikasi secara seksual melalui candaan, korban bisa mengalami Body Dysmorphic Disorder (BDD), yang mana mereka selalu merasa bentuk tubuhnya bermasalah meskipun kenyataannya tidak demikian.
Baca juga: Dari Menteri hingga DPR, Ramai-ramai Menyoroti Pelecehan Seksual di FH UI
Untuk ED, ini bisa terjadi pada korban yang merasa bahwa ia harus mengurangi berat badan karena tubuhnya yang gemuk dianggap "semok" oleh para pria dalam lelucon bernuansa seksual. Bisa juga terjadi pada korban yang bertubuh kurus, dan merasa harus menambah berat badan.
"Sangat mungkin ada ED kalau dia membentuk perilaku diet yang enggak sehat. Kalau BDD, dia selalu melihat tubuhnya enggak sesuai dengan realitasnya," tambah Adelia.
Kecemasan, depresi, hingga paranoid
Selain masalah fisik, korban juga berisiko tinggi mengalami gangguan emosional yang sulit dikontrol.
Rasa tidak aman yang muncul setelah mengetahui dirinya dijadikan bahan lelucon, bisa membuat korban merasa terancam di mana pun mereka berada, termasuk di ruang digital yang seharusnya menjadi tempat berekspresi secara bebas.
"Bisa juga jadi depresi kalau mungkin dia merasa sedih yang sedihnya itu sampai nggak bisa dikontrol. Bisa jadi paranoid juga," ucap dia.
Baca juga: Kenapa Pelecehan Seksual di Grup Chat Dianggap Bercanda? Sosiolog Soroti Ruang Aman yang Salah
Tag: #sekedar #malu #dampak #psikologis #korban #candaan #seksual