Makna Emosional Pameran Metamorfosa bagi Eksistensi Batik Peranakan
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
18:35
11 April 2026

Makna Emosional Pameran Metamorfosa bagi Eksistensi Batik Peranakan

- Bagi para seniman kriya, sebuah pameran bukan sekadar ajang untuk memajang karya di bawah sorotan lampu galeri.

Lebih dari itu, pameran merupakan ruang pengakuan atas identitas, sejarah, dan perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh publik luas.

Setidaknya, inilah yang dirasakan oleh pembatik Dave Tjoa terkait gelaran pameran akulturasi batik peranakan bertajuk "Metamorfosa", yang digelar di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta.

Melalui ajang ini, Dave membawa misi untuk menunjukkan bahwa denyut nadi batik peranakan Tionghoa masih berdetak kencang di tengah berbagai tantangan zaman.

Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah Batik Peranakan di Pameran Metamorfosa

"Arti dari pameran ini adalah sebuah kesempatan. Kenapa sebuah kesempatan? Karena terus terang, memang kami peranakan Tionghoa itu jarang dilirik," ungkap dia kepada Kompas.com di lokasi, Kamis (9/4/2026).

Sebuah upaya untuk melawan keterasingan

Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.

Menolak lupa pada kontribusi peranakan

Selama ini, batik peranakan Tionghoa diakui memiliki sumbangsih besar terhadap kekayaan khazanah batik pesisir di Indonesia.

Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan mereka seolah perlahan memudar dari perhatian publik. Dave merasa bahwa pameran ini merupakan momentum penting agar masyarakat kembali menoleh pada kekayaan budaya tersebut.

Baca juga: Cerita di Balik Batik Jaga Rawat Bhinneka Karya Dave Tjoa

Kekhawatiran akan hilangnya warisan ini menjadi penggerak utama bagi Dave untuk terus mengekspos karya-karya perajin peranakan ke permukaan. Ia tak ingin batik-batik sarat akulturasi ini hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah wastra Nusantara.

"Batik peranakan Tionghoa itu punya sumbangsih besar terhadap budaya batik Indonesia. Kita bisa lihat karya-karya yang ada di pesisir, itu sudah pasti punya akulturasi budaya. Kalau itu sampai hilang, sayang enggak sih?" ucap dia.

Dave menyadari bahwa tanpa perhatian besar, baik dari masyarakat maupun pemangku kepentingan, karya budaya yang rumit ini akan sangat rentan untuk hilang tertelan zaman.

Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.

"Hari ini bisa terjadi (pameran) adalah suatu momentum yang menurut saya, 'Oke, kita diingatkan kembali bahwa ini lho, kita masih menghasilkan karya bagus-bagus seperti ini'," tutur dia.

Baca juga: Dedikasi Dave Tjoa Lestarikan Batik Peranakan Lewat Kain 8 Meter

Misi mengangkat perajin daerah

Nama Dave menjadi sorotan di pameran tersebut karena menyumbang lebih dari 20 karya, meskipun baru memproduksi batik secara profesional selama dua tahun.

Dalam pameran ini juga terpampang karya Dave bertajuk "Sembilan Naga" yang membentang sepanjang 8 meter.

Namanya menjadi sorotan, tapi ia dengan rendah hati selalu menempatkan para pembatik senior dari daerah sebagai subyek utama yang patut diapresiasi.

Baginya, pameran ini adalah wadah untuk merangkul rekan-rekan perajin dari Cirebon, Pekalongan, dan Lasem, yang kerap mengeluhkan sepinya pasar.

Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.

Namun, proses membawa para perajin ini ke Ibu Kota bukanlah perkara mudah dan memakan waktu hingga enam bulan persiapan. Dave ingin mereka merasakan langsung bagaimana karya mereka dihargai dalam skala nasional.

"Buat mereka bisa datang ke Jakarta, memamerkan karyanya ini di sini, itu hal yang satu banding seribu kali ya. Dan itu sangat langka," tutur seniman yang mulai membatik serius sejak 2023 ini.

Baca juga: Dipesan Atlet NBA, Ini Harapan Perajin Batik Tulis Blitar

Pesan dan harapan untuk perajin batik

Di tengah gempuran kain printing atau batik cap yang kerap memukul sektor UMKM, Dave mengirimkan pesan penyemangat bagi para pembatik di seluruh pelosok negeri.

Ia berpesan agar para perajin tidak mudah putus asa meski jalan yang ditempuh terasa sunyi dan penuh tantangan ekonomi.

Menurutnya, menjaga ketulusan hati dan kesetiaan pada tradisi adalah kunci agar warisan budaya ini tetap bertahan.

Dave meyakini bahwa setiap kerja keras yang dilandasi kecintaan pada budaya, pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk diapresiasi.

Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.

"Jangan pernah putus asa untuk menjalankan batik karena pasti akan ada jalannya. Cuma memang mungkin harus menunggu, atau belum tepat waktu istilahnya," pungkas Dave.

Adapun pembatik yang turut memamerkan karya mereka di "Metamorfosa" mencakup (Batik Kanoman), Liem Po Hien (Batik Liem Ping Wie), dan Purwati Katrin (Batik Katrin Bee).

Selain itu ada Renny Ong (Batik Maranatha Ong's Art), Sulistyono (Batik Nyah Kiok), Valentina Ekawatiningsih (Batik Lumintu), dan Widianti Widjaja (Batik Oey Soe Tjoen).

Pameran akulturasi batik peranakan dapat dikunjungi setiap hari pukul 10.00-17.00 WIB, hingga 5 Mei 2026. Pengunjung juga dapat belanja batik dengan mengunjungi area bazaar yang bertempat di Bentara Budaya Jakarta.

Baca juga: Pameran Metamorfosa Tampilkan Indahnya Batik Peranakan

Tag:  #makna #emosional #pameran #metamorfosa #bagi #eksistensi #batik #peranakan

KOMENTAR