Dedikasi Dave Tjoa Lestarikan Batik Peranakan Lewat Kain 8 Meter
- Mengubah selembar kain putih menjadi mahakarya batik tulis berukuran raksasa bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan secara instan.
Dibutuhkan ketahanan fisik, fokus tingkat tinggi, serta dedikasi luar biasa untuk menggoreskan lilin malam secara konsisten pada medium yang sangat panjang.
Dedikasi tersebut dibuktikan oleh seniman peranakan, Dave Tjoa, melalui karya bertajuk "Sembilan Naga" sepanjang delapan meter. Karya ini menjadi salah satu daya tarik utama dalam pameran "Metamorfosa" yang digelar di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, pada 9 April-5 Mei 2026.
Baca juga: Cerita di Balik Batik Jaga Rawat Bhinneka Karya Dave Tjoa
"Yang paling saya suka (dari semua karya) sudah tentu delapan meter naga, karena dibuat hampir enam bulan, dan sudah begitu, delapan meter dikerjakan sendiri semuanya," papar Dave kepada Kompas.com di lokasi, Kamis (9/4/2026).
Merawat jejak wastra Nusantara
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Berawal dari kain kedukaan warisan
Pencapaian Dave terbilang unik, mengingat ia merampungkan karya raksasanya dalam tempo yang relatif singkat sejak memutuskan terjun ke industri ini.
Ketertarikannya pada batik Nusantara bermula pada tahun 2000, saat ia menerima warisan empat lembar kain kedukaan dari sang nenek.
Memiliki kain sarat sejarah itu memicu rasa penasarannya untuk menggali filosofi corak dari berbagai daerah.
"Begitu saya pegang kain itu, begitu dipegang, kayak 'Wah keren banget ini batik ya'. Dari situ saya mendalami batik tiga negeri, saya mendalami batik-batik lain," kenangnya.
Dave pun belajar membatik secara otodidak. Namun, dorongan melestarikan budaya itu memuncak saat pada tahun 2023, yang membuatnya memutuskan untuk mengambil kelas membatik intensif dan sertifikasi di Yogyakarta.
Sejak mengantongi sertifikasi, ia memacu dirinya untuk segera memproduksi puluhan helai batik demi memperluas jangkauan pelestarian budaya peranakan.
Baca juga: Pameran Metamorfosa Tampilkan Indahnya Batik Peranakan
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
"Memang saya sedikit memaksa diri saya karena prinsip saya adalah kita mau menyebarluaskan batik ini," tutur Dave yang telah memproduksi sekitar 40 kain batik dalam dua tahun terakhir ini.
Pembuktian diri lewat "Sembilan Naga"
Rasa "ngotot" untuk terjun secara totalitas inilah yang melatarbelakangi lahirnya karya monumental "Sembilan Naga".
Lantaran merasa masa belajarnya terbilang singkat dibanding perajin senior, ia membutuhkan medium untuk membuktikan keseriusannya.
Pengerjaan kain raksasa itu menyita tenaga dan waktu hingga setengah tahun tanpa bantuan asisten. Motif naga sengaja dipilih karena menyimbolkan kekuatan, wibawa, serta harapan datangnya rezeki layaknya hujan bagi para petani.
"Sebenernya karya 'Sembilan Naga' itu pembuktian diri bahwa saya tuh bisa ngebatik, cuma ya caranya ekstrem," papar Dave.
Ia tidak menampik bahwa proses pengerjaan kain yang tidak biasa tersebut sangat menyita ketahanan fisiknya, bahkan hingga mengorbankan waktu tidur.
"Struggle saya tuh kurang tidur itu saja, karena terlalu banyak membatik gitu lho. Tapi memang batik menurut banyak orang seperti itu, adiktif. Saya bisa duduk lima jam membatik terus," ungkap Dave.
Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah Batik Peranakan di Pameran Metamorfosa
Panggung apresiasi bagi perajin peranakan
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Setelah membuktikan dedikasinya, Dave enggan menjadi sorotan tunggal. Melalui pameran yang dapat dikunjungi publik setiap pukul 10.00-17.00 WIB ini, ia membawa misi besar untuk mengangkat rekan-rekan perajin peranakan senior dari daerah seperti Cirebon, Pekalongan, dan Lasem.
Ia menyadari bahwa panggung pameran bagi batik peranakan masih minim di tengah gempuran batik cap yang kerap mematikan perajin UMKM.
"Kesempatan ini menjadi sangat berharga, dan sangat kami usahakan supaya terjadi, dan bagaimana agar mereka (masyarakat) paham bahwa kami tuh masih ada," terang dia.
Dave justru selalu mengarahkan apresiasi publik kepada para perajin senior, yang dinilainya jauh lebih mumpuni karena telah mengabdi lintas dekade.
Adapun pembatik lain yang turut memamerkan karya mereka di "Metamorfosa" mencakup Giok/Indrawati (Batik Kanoman), Liem Po Hien (Batik Liem Ping Wie), dan Purwati Katrin (Batik Katrin Bee).
Selanjutnya Renny Ong (Batik Maranatha Ong's Art), Sulistyono (Batik Nyah Kiok), Valentina Ekawatiningsih (Batik Lumintu), dan Widianti Widjaja (Batik Oey Soe Tjoen).
Selain pameran, "Metamorfosa" juga menyelenggarakan bazaar batik di Bentara Budaya Jakarta setiap hari pukul 10.00-17.00 WIB. Acara ini diramaikan dengan sesi talkshow "Merayakan Batik Peranakan di Indonesia" pada Sabtu (11/4/2026) pukul 15.30-17.00 WIB.
Selanjutnya, akan ada bincang-bincang sekaligus trunk show busana wastra bersama desainer Maya Ratih pada Sabtu (22/4/2026) pukul 15.00-17.00 WIB.
Baca juga: Kemeja Batik Hadir dalam Koleksi Brand New York Aime Leon Dore
Tag: #dedikasi #dave #tjoa #lestarikan #batik #peranakan #lewat #kain #meter