Alasan Psikologis Orang Berprivilese Pura-pura Pernah Susah
- Sebagian dari orang yang sudah mencapai tangga kesuksesan, baik secara ekonomi atau pendidikan, sering membumbui kisah mereka dengan perjuangan yang berat karena berangkat dari kesulitan hidup. Di media sosial hal ini disebut juga dengan fenomena "berangkat dari nol".
Menariknya, tidak semua orang yang menyampaikan narasi tersebut benar-benar tumbuh dalam kondisi serba kekurangan.
Di ruang publik, kisah perjuangan dari bawah dianggap lebih menyentuh, lebih otentik, dan lebih layak diapresiasi.
Pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, psikolog Fitri Jayanthi, M.Psi., menjelaskan bahwa konstruksi sosial saat ini memang cenderung mengagungkan kisah perjuangan.
“Zaman sekarang, 'berjuang dari nol' sering dianggap lebih menginspirasi dan dinilai lebih di masyarakat,” ungkap psikolog klinis ini saat dihubungi pada Selasa (24/2/2026).
Baca juga: Fenomena Berangkat dari Nol, Pencitraan Pernah Hidup Susah
Mengapa orang berprivilese pura-pura hidup sulit?
1. Mencari pengakuan atas kerja keras
Menurut Fitri, narasi masa kecil yang penuh kesulitan kerap digunakan untuk menegaskan bahwa kesuksesan yang diraih adalah hasil jerih payah pribadi, bukan karena fasilitas atau dukungan keluarga.
“Tujuannya biasanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa kesuksesannya murni hasil kerja keras sendiri,” tutur dia.
Ia melihat, banyak orang merasa lebih terhubung dengan tokoh-tokoh yang berbagi cerita tentang hambatan dan keterbatasan sebelum akhirnya berhasil. Cerita semacam itu dianggap lebih dekat dengan pengalaman banyak orang.
“Dianggap lebih “relate", dibandingkan cerita orang yang pada dasarnya sudah mendapatkan kenyamanan, yang tidak begitu merasakan banyak kesulitan untuk mencapai kesuksesan,” tutur Fitri.
Dalam konteks sosial yang menekankan meritokrasi, yang mana keberhasilan dinilai sebagai hasil kemampuan dan kerja keras individu, kisah “dari nol” kemudian menjadi standar moral. Kesuksesan tanpa narasi penderitaan kerap dicurigai kurang otentik.
Baca juga: Kisah Kakak Beradik di Yogyakarta: Putus Sekolah, Memulung, Sambil Belajar Baca Tulis
2. Ingin diterima oleh masyarakat
Psikolog Shierlen Octavia, M.Psi., menambahkan bahwa perubahan narasi hidup ini tidak lepas dari kebutuhan dasar manusia untuk diterima.
“Kenapa narasinya diubah? Karena dia berusaha untuk menyesuaikan dengan apa yang dianggap lebih disukai oleh masyarakat sekitar,” tutur psikolog klinis di NALA Mindspace ini.
Ia menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan validasi, baik secara moral maupun sosial.
Ketika lingkungan lebih mengapresiasi kisah perjuangan, individu bisa terdorong untuk membentuk cerita yang selaras dengan ekspektasi tersebut, agar bisa lebih diterima.
Baca juga: Oversharing di Media Sosial, Haus Validasi atau Bentuk Minta Tolong?
3. Konformitas
Selain menyesuaikan dengan apa yang lebih disukai masyarakat agar diterima, ada pula kecenderungan konformitas.
Orang-orang dengan privilese ini membuat narasi palsu tentang kehidupan mereka untuk mengikuti arus yang dinilai lebih aman daripada tampil berbeda, terlebih jika perbedaan itu berpotensi memicu penilaian negatif.
“Manusia sebenarnya cenderung suka konformitas. Lebih baik follow the flock, daripada berbeda atau mencolok sendiri, biarpun banyak juga orang yang senang jadi spotlight,” ungkap Shierlen.
Di Indonesia, menurut Shierlen, kisah sukses yang diawali dengan masa kecil sulit, seolah memberi cap legitimasi bahwa pencapaian tersebut benar-benar pantas untuk dirayakan. Pencapaian dikatakan sah atau keren, jika berjuangnya dari nol.
Baca juga: Apa Dampak Sosial Jika Banyak Orang Kaya Merekayasa Pernah Hidup Susah
4. Menghindari stigma privilese
Shierlen juga menyoroti adanya dorongan untuk melindungi diri dari stigma negatif terhadap keluarga mapan.
Pasalnya, individu dengan latar belakang berprivilese kerap diasosiasikan dengan anggapan bahwa mereka tidak berjuang atau dimanjakan.
“Banyak orang berusaha melindungi diri dari penilaian negatif kalau keluarga berprivilese itu pasti enggak berjuang atau dimanja, sehingga wajar kalau sukses,” ucap dia.
Dalam situasi ini, mengubah narasi masa lalu bisa menjadi cara untuk menghindari label tersebut. Alih-alih menonjolkan dukungan dan fasilitas yang dimiliki, sebagian orang memilih untuk merekayasa cerita kesulitan agar tidak dianggap sekadar diuntungkan keadaan.
Baca juga: Takut Dicap Sombong, Orang Mapan Pura-pura Pernah Hidup Susah
Tag: #alasan #psikologis #orang #berprivilese #pura #pura #pernah #susah