Indonesia dan Thailand Pimpin Lonjakan Penjualan Mobil Listrik ASEAN
Ilustrasi mobil listrik. (PIXABAY/MENNO DE JONG)
10:12
21 Mei 2026

Indonesia dan Thailand Pimpin Lonjakan Penjualan Mobil Listrik ASEAN

Penjualan mobil listrik di Asia Tenggara terus menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.

Kawasan ini mulai menjadi salah satu pasar kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dengan perkembangan tercepat di dunia, seiring masuknya produsen otomotif asal China, dukungan kebijakan pemerintah, hingga meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan rendah emisi.

Laporan terbaru International Energy Agency (IEA) dalam Global EV Outlook 2026 menunjukkan pasar mobil listrik global masih bertumbuh kuat pada 2025.

Baca juga: Proyeksi Harga Minyak Dunia Tetap Tinggi, Purbaya Genjot Mobil Listrik

Ilustrasi mobil listrik. Penjualan kendaraan listrik telah melonjak di Asia Tenggara imbas krisi minyak yang diakibatkan oleh perang Iran di Timur Tengah.Shutterstock Ilustrasi mobil listrik. Penjualan kendaraan listrik telah melonjak di Asia Tenggara imbas krisi minyak yang diakibatkan oleh perang Iran di Timur Tengah.

Dikutip dari laporan tersebut, Kamis (21/5/2026), penjualan mobil listrik dunia naik 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya hingga melampaui 20 juta unit. 

Artinya, satu dari empat mobil baru yang terjual di dunia sudah merupakan kendaraan listrik.

IEA juga memperkirakan penjualan mobil listrik global akan kembali meningkat pada 2026 menjadi sekitar 23 juta unit atau mendekati 30 persen dari total penjualan mobil dunia.

Di tengah pertumbuhan global tersebut, Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus.

Baca juga: DKI Jakarta Masih Bebaskan Pajak Motor dan Mobil Listrik

Negara-negara seperti Thailand, Indonesia, dan Vietnam mulai mencatat lonjakan penjualan kendaraan listrik dalam dua tahun terakhir.

Dalam laporannya, IEA mencatat penjualan mobil listrik di negara berkembang Asia di luar China meningkat lebih dari 40 persen pada 2024 menjadi hampir 400.000 unit. Thailand tetap menjadi pasar mobil listrik terbesar di Asia Tenggara meskipun penjualan mobil listrik di negara itu turun 10 persen.

Ilustrasi Mobil Listrik. Insentif mobil listrik impor hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 2026, produsen diwajibkan merakit kendaraan di dalam negeri sesuai aturan TKDN.Kindel Media Ilustrasi Mobil Listrik. Insentif mobil listrik impor hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 2026, produsen diwajibkan merakit kendaraan di dalam negeri sesuai aturan TKDN.

Penurunan tersebut, menurut IEA, tetap diiringi kenaikan pangsa pasar mobil listrik karena penjualan mobil konvensional turun lebih tajam hingga 26 persen akibat pengetatan kredit kendaraan. 

Pangsa mobil listrik di Thailand pun naik menjadi 13 persen pada 2024 dari sebelumnya 11 persen.

Baca juga: Menkeu Tegaskan Pajak Mobil Listrik Tak Naik, Hanya Ubah Skema

Sementara itu, Indonesia dan Vietnam menjadi dua negara dengan pertumbuhan tercepat di kawasan.

IEA menyebut penjualan mobil listrik di Indonesia meningkat tiga kali lipat, sedangkan Vietnam hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pangsa penjualan kendaraan listrik kedua negara itu bahkan disebut sudah sebanding dengan negara-negara seperti Spanyol dan Kanada.

Asia Tenggara jadi target ekspansi produsen China

Pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara tidak lepas dari ekspansi agresif produsen otomotif asal China.

Dalam laporannya, IEA menyebut kapasitas produksi kendaraan listrik produsen otomotif China di Asia Tenggara diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat pada 2026 menjadi 1,2 juta kendaraan.

Baca juga: Minyak Mahal, Ekspor Mobil Listrik dan Hybrid China Naik 140 Persen

IEA menyatakan peningkatan kapasitas tersebut akan menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu basis produksi luar negeri terbesar bagi perusahaan otomotif China.

Masuknya merek-merek seperti BYD, Chery, Great Wall Motor, hingga VinFast memperketat persaingan industri otomotif di kawasan. Harga kendaraan listrik yang semakin murah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan penjualan.

IEA menyebut penurunan harga baterai dan tingginya harga bahan bakar minyak menjadi pendorong tambahan bagi konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik.

 “Setelah pertumbuhan yang kuat tahun lalu, penjualan mobil listrik global diperkirakan akan meningkat lagi pada tahun 2026," ungkap IEA.

Ilustrasi mobil listrik. PIXABAY/ANDREAS160578 Ilustrasi mobil listrik.

Baca juga: Mengupas Dominasi Mobil Listrik China di Indonesia

Laporan tersebut juga menyoroti potensi pertumbuhan pasar Asia Tenggara dalam jangka panjang.

Dalam proyeksi yang dikutip Financial Times, pangsa pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara diperkirakan dapat meningkat dari sekitar 20 persen pada 2025 menjadi 60 persen pada 2035.

Indonesia mulai agresif beri insentif kendaran listrik

Indonesia menjadi salah satu negara yang paling aktif mendorong pengembangan kendaraan listrik di Asia Tenggara. IEA menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah Indonesia untuk mengejar target kendaraan listrik nasional.

Salah satu kebijakan yang disebut IEA adalah pemberian diskon pajak pertambahan nilai (PPN) kendaraan listrik sejak April 2023 yang masih berlanjut hingga 2025.

Baca juga: Harga Minyak Naik, Industri Mobil Listrik China Diproyeksi Melesat

Indonesia juga memanfaatkan posisinya sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia untuk menarik investasi rantai pasok baterai kendaraan listrik. Kehadiran sejumlah produsen baterai dan otomotif asing memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem EV regional.

Selain Indonesia, Thailand juga lebih dulu agresif memberikan subsidi kendaraan listrik dan insentif produksi. Kebijakan tersebut berhasil menarik investasi dari berbagai produsen otomotif global.

Namun, perkembangan pesat kendaraan listrik juga memunculkan tekanan terhadap industri otomotif konvensional di kawasan.

Dikutip dari warta Reuters, sepuluh kelompok industri otomotif Thailand memperingatkan sektor otomotif negara itu menghadapi krisis jika kebijakan kendaraan listrik tidak segera diubah.

Baca juga: Harga Bensin Naik, Penjualan Mobil Listrik Bekas Terdongkrak

Kelompok industri tersebut menyatakan produsen lokal kesulitan bersaing dengan mobil listrik murah asal China yang masuk tanpa tarif impor.

Mereka juga menyebut produsen komponen otomotif mulai kehilangan pesanan akibat perubahan pasar menuju kendaraan listrik.

Ilustrasi mobil listrik, kendaraan listrik. SHUTTERSTOCK/MIKE FLIPPO Ilustrasi mobil listrik, kendaraan listrik.

Harga mobil listrik semakin kompetitif

Salah satu faktor yang mempercepat adopsi kendaraan listrik adalah harga yang semakin kompetitif dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.

IEA menyebut lebih dari 30 persen mobil listrik di China pada 2025 dijual dengan harga lebih murah dibandingkan mobil berbahan bakar minyak di segmen yang sama.

Baca juga: Purbaya Masih Dilema Lanjutkan Insentif Mobil Listrik, Kenapa?

Penurunan harga tersebut didorong turunnya biaya baterai dan meningkatnya kapasitas produksi. Persaingan antarprodusen juga semakin ketat sehingga produsen berlomba menawarkan harga lebih rendah.

Selain faktor harga, konsumen juga mempertimbangkan biaya operasional kendaraan listrik yang lebih murah dibandingkan kendaraan konvensional, terutama ketika harga energi fosil meningkat.

Kebutuhan listrik kawasan diperkirakan meningkat

Pertumbuhan kendaraan listrik juga diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan listrik di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan.

Reuters menyebut kebutuhan listrik di Asia Tenggara diperkirakan meningkat lebih dari 100 terawatt hour (TWh) dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Baca juga: Cukup 20 Menit, Sinergi PLN, MEBI, dan Huawei Percepat Pengisian Mobil Listrik

Peningkatan tersebut didorong oleh perkembangan kawasan industri hijau, pusat data, dan pertumbuhan kendaraan listrik di kawasan.

Di sisi lain, IEA memperkirakan penggunaan kendaraan listrik dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar minyak dunia dalam jangka panjang.

Dalam laporan Global EV Outlook 2026, IEA memperkirakan kendaraan listrik dapat menggantikan konsumsi lebih dari 5 juta barel minyak per hari pada 2030.

Momentum pertumbuhan kendaraan listrik di Asia Tenggara diperkirakan masih akan terus berlanjut, terutama dengan semakin banyaknya model kendaraan listrik berharga terjangkau yang masuk ke pasar kawasan.

Baca juga: Harga Bersaing, Minat Pembiayaan Mobil Listrik Kian Tinggi

IEA dalam laporannya menyatakan penjualan kendaraan listrik global pada kuartal pertama 2025 sudah naik 35 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dan mencatat rekor penjualan baru di hampir seluruh pasar utama.

Tag:  #indonesia #thailand #pimpin #lonjakan #penjualan #mobil #listrik #asean

KOMENTAR