VinFast Jual Pabrik Rp 122 Triliun, Tata Kelola Vingroup Dipertanyakan
VinFast VF MPV 7(KOMPAS.com/Ruly Kurniawan)
15:28
21 Mei 2026

VinFast Jual Pabrik Rp 122 Triliun, Tata Kelola Vingroup Dipertanyakan

- Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast Auto, kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana menjual dua pabrik utamanya dalam transaksi bernilai miliaran dollar AS.

Langkah tersebut memicu pertanyaan soal tata kelola perusahaan di konglomerasi Vingroup milik miliarder Vietnam, Pham Nhat Vuong.

VinFast selama satu dekade terakhir dikenal agresif berekspansi dan menghabiskan dana besar untuk membangun bisnis kendaraan listrik global.

Namun hingga kini perusahaan belum pernah mencetak laba sejak didirikan pada 2017.

Baca juga: VinFast Respons Wacana Insentif Lebih Besar untuk EV Baterai Nikel

Dalam transaksi yang diumumkan pekan lalu, VinFast akan menjual bisnis manufakturnya di Vietnam senilai 13,3 triliun dong Vietnam atau sekitar 506 juta dollar AS setara Rp 8,95 triliun, dengan kurs Rp 17.687 per dollar AS.

Kelompok investor pembeli juga akan mengambil alih utang sekitar 6,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 122 triliun.

Setelah transaksi selesai, VinFast menyebut perusahaan akan mengadopsi model bisnis “ringan aset” atau asset light.

Perusahaan akan lebih fokus pada riset dan pengembangan produk dibanding memiliki fasilitas produksi besar sendiri.

Vingroup mengatakan langkah tersebut akan membuat VinFast hampir bebas utang karena beban manufaktur tidak lagi tercatat di neraca perusahaan.

Biaya produksi selama ini memang menjadi salah satu penyebab utama kerugian besar VinFast.

Tahun lalu saja, perusahaan membukukan rugi sekitar 3,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 68,9 triliun.

Baca juga: Spek Motor Listrik VinFast di Indonesia, Beda dari Versi Vietnam

Struktur transaksi picu tanda tanya

Meski secara finansial dinilai masuk akal, sejumlah analis mulai mempertanyakan struktur transaksi tersebut.

Sorotan muncul karena keterlibatan sejumlah pihak yang masih memiliki hubungan dekat dengan Vingroup dan Pham Nhat Vuong.

Analis otomotif YCP asal Singapura, Mehdi Jaouadi, menilai strategi ini memang berpotensi memperkuat posisi keuangan VinFast.

Namun ia melihat ada sejumlah tanda bahaya dari sisi tata kelola.

“Dari perspektif strategis dan keuangan, langkah ini masuk akal dan memberikan fondasi yang solid bagi VinFast untuk tumbuh,” kata Jaouadi.

“Namun, dari perspektif tata kelola, keputusan strategis ini memiliki beberapa tanda bahaya dan menimbulkan beberapa pertanyaan,” lanjut dia.

Salah satu nama yang ikut disorot ialah pengusaha properti Nguyen Hoai Nam.

Ia baru bulan ini mengambil alih kendali perusahaan yang nantinya membeli lebih dari 95 persen bisnis manufaktur VinFast.

Nam juga duduk di dewan direksi Vincom Retail, perusahaan pusat perbelanjaan yang sebelumnya berada di bawah Vingroup.

Beberapa hari sebelum transaksi diumumkan, Nam mengambil alih perusahaan bernama Future Investment and Trading Development atau FIRD.

Perusahaan tersebut sebelumnya dimiliki Vingroup dan Vuong.

FIRD memegang paten kendaraan listrik generasi pertama VinFast dan memiliki modal terdaftar sekitar 4,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 81,3 triliun.

Sekitar 92 persen modal itu disebut berasal dari Nam.

“Tidak jelas mengapa FIRD menjadi pembeli utama begitu cepat setelah perubahan kepemilikan ini,” ujar Jaouadi.

VinFast menolak memberikan komentar lebih rinci.

“VinFast bukan pihak dalam transaksi ini dan oleh karena itu tidak memiliki dasar atau wewenang untuk berkomentar,” tulis perusahaan.

Vuong berada di dua sisi transaksi

Struktur transaksi juga dianggap rumit karena melibatkan beberapa tahap perpindahan kepemilikan.

Awalnya, bisnis manufaktur akan diambil alih oleh Vuong, FIRD, dan perusahaan lain bernama Ngoc Quy Investment and Trading Development.

Namun setelah transaksi selesai pada September nanti, hanya FIRD dan Vuong yang tersisa sebagai pemilik.

FIRD akan menguasai sekitar 95,5 persen saham, sedangkan Vuong mempertahankan kurang dari 5 persen.

Kondisi ini membuat sebagian analis mempertanyakan peran Ngoc Quy Investment yang akhirnya tidak memegang saham sama sekali.

Nama Ngoc Quy sendiri berarti “batu berharga” dalam bahasa Vietnam.

Sejumlah pemegang saham perusahaan itu diketahui memiliki hubungan bisnis dengan Vuong.

Menariknya, Vuong dalam transaksi ini berada di dua posisi sekaligus, yakni sebagai penjual dan pembeli.

Saham VinFast turun

VinFast tetap mempertahankan pabrik perakitan di Indonesia dan India.

Perusahaan juga masih memegang paten kendaraan listrik generasi terbaru mereka.

Namun pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin terhadap transaksi ini.

Sejak diumumkan pada 12 Mei lalu, saham VinFast turun sekitar 12 persen.

Vingroup sendiri masih dikendalikan kuat oleh Vuong dan tidak memiliki banyak investor institusional besar.

Salah satu investor asing yang masih mendukung ialah Dragon Capital, perusahaan investasi berbasis di Ho Chi Minh City.

Dragon Capital menilai langkah restrukturisasi tersebut positif karena membantu mengurangi utang dan pengeluaran perusahaan.

Foxconn sempat tertarik

Model bisnis asset light sebenarnya bukan hal baru di industri kendaraan listrik.

Analis otomotif Felipe Munoz mengatakan produsen mobil listrik kecil cenderung lebih efisien jika fokus pada desain dan perangkat lunak, sementara produksi diserahkan ke pihak lain.

Dalam kesepakatan terbaru ini, pemilik baru pabrik VinFast nantinya juga dapat memproduksi mobil dan baterai untuk perusahaan lain.

Seorang analis keuangan di Vietnam mengatakan ada kemungkinan produsen lain menunggu bekerja sama dengan investor baru tersebut.

Pada 2021 lalu, Vingroup pernah mengungkap ada pendekatan dari Foxconn, perusahaan manufaktur Taiwan yang menjadi pemasok utama Apple.

Foxconn saat itu tertarik terhadap lini produksi VinFast.

Namun negosiasi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

“Kami tidak memiliki rencana untuk menjual fasilitas manufaktur VinFast di Vietnam kepada Foxconn atau produsen peralatan asli lainnya,” kata Vingroup.

Foxconn belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Tag:  #vinfast #jual #pabrik #triliun #tata #kelola #vingroup #dipertanyakan

KOMENTAR