Ekonomi Mapan Bukan Jaminan Pernikahan Bebas Konflik
Ilustrasi pernikahan. Soal Kasus WO Ayu Puspita, YLKI Singgung Perlindungan Konsumen yang Rendah(Freepik/prostooleh)
16:05
7 Februari 2026

Ekonomi Mapan Bukan Jaminan Pernikahan Bebas Konflik

- Kesiapan mental, emosional, dan juga finansial, sangat penting bagi pasangan muda yang ingin melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.

Tak bisa dipungkiri tekanan finansial bisa jadi sumber pertengkaran dalam rumah tangga yang dapat berujung pada perceraian.

Kendati demikian, latar belakang finansial yang kuat juga bukan jaminan hubungan akan baik-baik saja.

“Ya kalau dulu sih memang indikator utamanya langgengnya pernikahan salah satunya memang faktor ekonomi,” kata dosen program studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Yuanita Aprilandini Siregar, M.Si., dalam wawancara daring pada Jumat (6/2/2026).

Baca juga: Kaleidoskop 2025, Pernikahan dan Perceraian Artis Tahun Ini

Ketika ekonomi jadi fondasi utama

Dosen program studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Yuanita Aprilandini Siregar, M.Si..dok. pribadi Dosen program studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Yuanita Aprilandini Siregar, M.Si..

Dalam banyak keluarga, stabilitas ekonomi masih dipandang sebagai syarat utama untuk membangun rumah tangga yang harmonis.

Ia melanjutkan, cara pandang tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks zaman. Ketika peran pencari nafkah utama hampir sepenuhnya dibebankan kepada laki-laki, stabilitas ekonomi memang menjadi penopang utama relasi rumah tangga.

Baca juga: 4 Cara Mendukung Orang yang Sedang Hadapi Perceraian

Namun, seiring berjalannya waktu, kemapanan ekonomi tidak lagi bersifat satu arah karena peran perempuan yang juga semakin dominan di ruang publik. Seiring meningkatnya pendidikan dan partisipasi perempuan dalam dunia kerja, struktur ekonomi keluarga pun mengalami pergeseran.

"Sekarang kan sudah banyak perempuan yang berpendidikan minimal S1, apalagi yang S2 dan S3. Ada yang menjadi profesor atau guru besar dalam bidang akademis. Yang non-akademis juga sudah banyak perempuan yang menempati posisi pemimpin," ucap Yuanita.

"Jadi kalau ekonominya mapan, keluarganya lebih tahan terhadap krisis, perilaku yang menyimpang dalam pernikahan, dan sebagainya," lanjutnya.

Baca juga: Angka Pernikahan Menurun, Kesiapan Finansial Jadi Tolak Ukur Menikah

Ilustrasi pegawai perempuan, wanita karier. SHUTTERSTOCK/PAEGAG Ilustrasi pegawai perempuan, wanita karier.

Tantangan baru dalam relasi pasangan

Kemajuan perempuan dalam hal finansial ini membawa dinamika baru. Meski menambah kemapanan keluarga, hal ini sering kali berbenturan dengan ego dan pandangan tradisional yang masih tersisa

Pasalnya, masih banyak laki-laki yang enggan menikahi perempuan yang terlalu mandiri atau punya penghasilan lebih tinggi.

Menurut Yuanita, pertanyaan tersebut menjadi krusial karena menyentuh relasi kuasa dalam rumah tangga. Ketika relasi ini tidak dinegosiasikan dengan sehat, konflik justru bisa muncul meski kondisi ekonomi keluarga tergolong mapan.

Stabilitas ekonomi yang terlihat kokoh dari luar, bisa menyimpan retakan di dalam, yang pada akhirnya memicu risiko perceraian.

Baca juga: Cinta dan Keamanan Finansial, Seberapa Besar Pengaruhnya dalam Hubungan?

Risiko konflik non-ekonomi di keluarga mapan

Potensi perselingkuhan akibat interaksi sosial

Dalam keluarga yang secara ekonomi stabil, peluang terjadinya konflik non-ekonomi, seperti perselingkuhan, tetap terbuka.

Interaksi sosial yang tidak seimbang antara suami dan istri, misalnya, dapat memicu masalah kepercayaan.

"Laki-laki ini lebih besar berkemungkinan berinteraksi dengan banyak orang daripada istrinya. Kemungkinan memang terjadi preselingkuhan," kata Yuanita.

Namun, bukan berarti seorang istri tidak bisa mengingkari kesetiaan. '

"Itu juga potensial kalau dia merasa rendah diri di mata suaminya. Dia mencari perhatian dari laki-laki lain," tutur Yuanita.

Baca juga: Boiyen Gugat Cerai, Mengapa Awal Pernikahan Rawan Konflik?

Ilustrasi berselingkuh dengan rekan kerja di kantor.Freepik.com Ilustrasi berselingkuh dengan rekan kerja di kantor.

Munculnya perasaan rendah diri dan ketimpangan peran

Perasaan rendah diri juga bisa terjadi pada rumah tangga yang perekonomiannya mapan. Ketika salah satu pihak tidak menghasilkan uang, mereka bisa merasa ketimpangan.

Ini masih berkaitan dengan perselingkuhan. Pihak yang tidak menghasilkan uang bisa terdorong untuk mencari perhatian di luar rumah tangga karena perasaan rendah diri tersebut.

Masalah juga dapat muncul ketika kemapanan ekonomi tidak diiringi dengan keadilan dalam pengelolaan keuangan keluarga.

Tidak jarang, sebuah keluarga memiliki uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, si pencari nafkah pelit terhadap pasangannya.

Ketimpangan tersebut bisa semakin terasa ketika otoritas ekonomi digunakan sebagai alat kontrol dalam rumah tangga.

“Apalagi kalau suaminya menunjukkan otoritas dan kekuasaannya di dalam keluarga,” ujarnya.

Baca juga: Alasan Suami Pelit ke Istri Menurut Psikolog, Berkaca dari Tren Rp 10.000 di Tangan Istri

Ilustrasi uang. Bansos. Cek bansos Kemensos 2026.canva.com Ilustrasi uang. Bansos. Cek bansos Kemensos 2026.

Mapan tidak sama dengan aman

Kemapanan ekonomi memang penting, tetapi tidak bisa berdiri sendiri sebagai jaminan ketahanan pernikahan. Faktor psikologis, komunikasi, dan kesepakatan peran, tetap memegang peran besar.

“Kita tidak bisa menafikan bahwa pernikahan itu tidak hanya soal ekonomi, tapi juga soal relasi dan psikologis,” ujar Yuanita.

Memahami bahwa ekonomi mapan bukan jaminan pernikahan bebas masalah, bisa mendorong generasi muda untuk mempertimbangkan segala hal dengan matang, sebelum memutuskan untuk menikah dan membangun keluarga.

Baca juga: Perceraian dan Luka Sosial yang Tak Selesai

Tag:  #ekonomi #mapan #bukan #jaminan #pernikahan #bebas #konflik

KOMENTAR